Mengenal dan Mencintai Indonesia dari Dekat #BersamaGaruda

13
Pulau Ternate
Pulau Ternate

Salah satu inspirasi, pembakar semangat saya untuk terus menulis blog perjalanan ini, adalah sebuah bab pada buku Nasional.is.me karya bang Pandji yang berjudul, “Dari sabang sampai Merauke.”

Bang Pandji, dalam Nasional.is.me mengajarkan saya banyak hal tentang Indonesia. Seperti bagaimana kita seharusnya mengenal, mendalami, dan mencintai juga berbuat sesuatu untuk negeri kita ini.

Di bab tersebut, bang Pandji menuliskan pengalamannya keliling Indonesia. Ia sukses membuat saya penasaran untuk melihat Indonesia dari mata saya sendiri!

Ia menceritakan tempat-tempat di Indonesia yang saya pikir biasa-biasa saja, tapi kalau kita bisa melihatnya dari sisi lain, sungguh Indonesia ini memang sungguh kaya.

Semenjak saat itu, saya jadi candu melakukan perjalanan di dalam negeri sendiri.

Dan tentu saja, saya menuliskan semuanya di blog ini :)

Papeda, makanan pengganti nasi khas Maluku dan beberapa daerah Indonesia timur.
Papeda, makanan pengganti nasi khas Maluku dan beberapa daerah Indonesia timur.

***

Saat itu tahun 2011, saya masih berstatus sebagai mahasiswa teknik di salah satu kampus di Bandung. Melakukan perjalanan, apalagi ke Indonesia timur, mungkin hanya angan-angan.

Apalagi yang namanya naik garuda — maskapai kebanggan negeri kita — yang harganya sangat tak cocok dengan kantong saya waktu itu. Jika meminjam istilah bang Pandji, kantong saya itu sangat messake, hehe.

Tapi, saya punya satu hobi yang sudah lama saya geluti : Fotografi.

Fotografi lah yang akhirnya membawa saya ke tempat-tempat yang saya pun tak pernah bayangkan sebelumnya.

Bermula dari blog ini, yang mulanya hanya berisi curhat-curhat galau *ehm*. Kemudian berubah jadi tempat pamer hasil foto,  sampai akhirnya banyak menulis artikel tentang fotografi. Tak lama setelah itu pula, saya pun saya menulis tentang perjalanan.

Karena sejatinya perjalanan dan fotografi tak bisa dipisahkan, kan? Setidaknya menurut saya.

Yah, walaupun memang waktu itu yang ditulis hanya perjalanan di kota-kota dekat sekitar Bandung, sih :)

Sampai akhirnya, blog ini membuahkan hasil. Pengunjung menjadi ribuan per hari, mulai mendapatkan penghargaan, memenangkan beberapa lomba, hingga dikontak beberapa orang yang membutuhkan saya untuk memotret perjalanan.

Dan, bagian yang paling menyenangkan adalah:  saya banyak melakukan perjalanan keliling Indonesia!

***

Saat mendarat di Jailolo begini pemandangannya :)
Saat mendarat di Jailolo begini pemandangannya :)

Salah satu perjalanan yang saya ingat adalah waktu ke Jailolo 2013 lalu. Nah loh, tahu tidak itu Indonesia sebelah mana? Hehe.

Dari Jakarta kita harus menuju Ternate, biasanya akan transit dahulu di Ujung Pandang. Setelah sampai ternate dilanjutkan dengan speedboat ke Teluk Jailolo.

Penerbangan GA660 Ujung pandang – Ternate ini pun dilakukan dengan pesawat kecil Bombardier CRJ-1000. Ya, tidak kecil-kecil sekali sih, bisa muat 100 orang. Rasanya mirip mini boeing 737.

Bombardier bukan ATR loh ya, mesinnya tentu jet bukan baling-baling. Karena biasanya buat rute perintis seperti ini menggunakan pesawat baling-baling ATR.

Walaupun mini, tapi kok rasanya lebih lebar daripada 737 ya? Apa karena ini Garuda? Hehe. Karena kadang walaupun pakai 737-900 maskapai sebelah,  kaki saya masih ‘mentok’ di kursi depan!

Anyway, selain bagasi cabin yang lebih kecil, tak ada komplain dengan pesawat ini. Suara mesin halus banget (serius sama sekali nggak bising, teknologi noise reduction-nya luar biasa), take off/landing mulus, dan tak ada masalah apapun selama penerbangan kecuali memang tak ada tivi kecil buat in flight entertainment seperti tipe boeing atau airbus yang lebih besar hehe.

Saya pun tertidur pulas hingga sesaat sebelum landing. Tanda pesawat ini memang sangat nyaman :)

Ini penampakan si CRJ1000 waktu di Bandara Sultan Babullah Ternate.

benq-207
PK-GRA di sultan babullah airport Ternate. Mesin jet-nya lebih kecil dan terletak bukan di sayap

Jailolo adalah salah satu kota di sebuah teluk di kabupaten Halmahera Barat, provinsi Maluku Utara. Saya kesana ikut rombongan media untuk meliput sebuah festival tahunan untuk sebuah media, Festival Teluk Jailolo.

Kalau kamu suka sejarah, pasti tahu bahwa Jailolo dan sekitarnya diperebutkan bangsa Eropa karena komoditas rempah-rempahnya.

Nah, festival Jailolo ini, selain memperlihatkan kebudayaan, kesenian dan kuliner Maluku Utara, juga akan membawa kita untuk menapaki jejak sejarah kejayaan masa lampau — saat harga sebuah buah pala sama dengan emas.

Saya ingat sekali satu baris di Nasional.is.me pada bab “Dari sabang sampai merauke”, pada saat Pandji mengunjungi Jayapura : “Kalau Anda bertemu dengan orang Papua, beri senyum dan sapa dmereka, saya JAMIN senyum balasan dari mereka tiga kali lebih lebar dari senyum Anda”.

Saya tidak setuju dengan pernyataan Bang pandji. Sepengalaman saya bertemu orang-orang Indonesia timur, ketika kita melempar senyum ke mereka, mereka akan membalasnya SERIBU kali lipat dari senyum anda.

Mereka semanis itu :)

Terlepas dari wajahnya yang cukup menyeramkan, hehe.

Sekali mereka melempar senyum, hilang sudahlah wajah ‘neraka’ mereka!

Mencuci tangan dengan daun pinang
Mencuci tangan dengan daun pinang
:D
:D
:D
:D

Jailolo punya semuanya. Pantainya, bawah lautnya, gunung-gunungnya, budayanya, kulinernya, festivalnya. Segala jenis wisata alam dan budaya ada semua disana.

Apalagi saat Festival teluk Jailolo yang diadakan setahun sekali. Pelabuan sampai penuh mengangkut para wisatawan yang datang kesana. Well, tapi kebanyakan wisatawan asing, sih. Untuk wisatawan yang dari Jakarta misalnya, memang masih sedikit karena mungkin ongkos kesini yang relatif tak bisa dibilang murah.

Pernah lihat uang seribuan warna biru sebelum ini yang bergambar dua gunung dan nelayan? Disinilah kita bisa melihat kedua Pulau Gunung itu, Pulau Ternate dan Pulau Maitara.

Pulau Gunung? Iya, karena kota ternate memang bukan terletak di kaki gunung. Tapi di lereng gunung. Loh? Kaki gunungnya dimana? Di dasar laut! Pulau ternate ini memang adalah sebuah Gunung berapi, aktif. Jangan kaget disini kadang memang dia agak suka menggoda kita dengan getaran kecilnya :)

Matahari terbenam di pantai bobanehena. Orang lokal menyebutnya pantai galau.
Matahari terbenam di pantai bobanehena. Orang lokal menyebutnya pantai galau.
Saya ganteng ya kalo di bawah laut? heeh. Bawah laut Indonesia timur nggak usah ditanya. Get your dive license, buddy!
Saya ganteng ya kalo di bawah laut? heeh. Bawah laut Indonesia timur nggak usah ditanya. Get your dive license, buddy!

Atau mau coba kuliner Maluku Utara yang spicy, kaya rempah, dan seafood banget? Mau pakai sambal colo-colo atau dabu-dabu? :D

17
Kuliner Indonesia timur rata-rata memang olahan lombok alias cabe!

***

Indonesia timur memang indah — sebagian menyebutnya surga — menurut sebagian kacamata kita yang tinggal di Ibukota.

Tetapi..

Ada satu hal yang mengganjal pikiran saya.

“Mengapa kemajuan pariwisata di Indonesia timur tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan penduduknya?” saya bertanya-tanya sendiri.

Dibalik keindahan itu, masih tersimpan banyak kegetiran. Buat beberapa saudara kita, kata surga disana sama sekali belum pantas.

Mungkin saya terlalu menggeneralisir. Tapi, beberapa daerah di Indonesia timur yang pernah saya kunjungi. Papua, Maluku, Flores; saya melihat disamping resort dan hotel mewah — yang notabene kebanyakan punya asing–, disampingnya banyak rumah penduduk yang menurut saya sangat kontras.

Bahkan menurut saya sebagian tak layak huni, kalau tak mau disebut miskin..

Di depannya ada anak kecil yang kurus sekali, dengan ingus-nya yang kemana-mana, sedang memakan mie instan.

Juga rumah-rumah yang tak punya akses air bersih, bahkan tak punya kakus sendiri.

Masih banyak yang belum bisa baca tulis.

Tarian ada suku Sahu saat Festival
Tarian ada suku Sahu saat Festival

Anak bersekolah harus jauh-jauh berjalan berpuluh kilo melewati hutan.

Jika dalam buku Nasional. Is. Me sudah berhasil mengajak pembacanya untuk mengenali Indonesia lebih dalam, buku yang satu lagi — Berani Mengubah, terasa lebih personal — berisi tentang bagaimana kita bisa berbuat sesuatu untuk memajukan Indonesia, dari berbagai aspek yang kita sukai.

Saya juga ingin sedikit banyak ikut mengubah. Blog ini memang punya sedikit misi. Sejak awal saya punya misi untuk ‘Mendokumentasikan Indonesia’.

Mungkin saya tak bisa membantu saudara-saudara kita disana secara materi.

Tapi saya punya foto-foto, tulisan, dan kisah yang saya bagi di blog ini. Saya tak hanya menulis yang indah-indah, tapi juga akan mengangkat fakta-fakta lain yang saya lihat sendiri.

Mungkin saya terkesan idealis. Tapi, saya hanya ingin berbagi disini.

Para petani konvoi dengan membawa sapi-sapinya dan hasil panennya di gerobak.
Para petani konvoi dengan membawa sapi-sapinya dan hasil panennya di gerobak.

Siapa tahu ada yang kebetulan mampir disini dan tergerak hatinya untuk membantu saudara-saudara kita disana? Perubahan besar bisa terjadi dari perubahan kecil yang kita buat, bukan? :)

Dan, buat para traveler. Cobalah untuk berwisata yang berbasis eco tourism. Gunakan masyarakat lokal untuk semua kebutuhan kita saat disana. Ini adalah salah satu bentuk tanggung jawab kita sebagai pelancong untuk ikut memajukan masyarakat lokal.

Saya ingat Soe Hok Gie pernah berkata, ‘ …..Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat…. ‘

Mulai sekarang misi blog saya adalah, “Mendokumentasikan Indonesia, dan mengajak para pejalan untuk Responsible traveling

Inilah salah satu cara saya mencintai Indonesia, dan mengubah Indonesia jadi lebih baik :)

Saya mau tutup tulisan ini dengan line yang sama dengan akhir buku Nasional.is.me

Hiduplah Indonesia Raya!

Gunung Rinjani, Lombok.
Gunung Rinjani, Lombok.

Saya lebih tertarik dengan tulisan-tulisan dan buku Pandji daripada stand-up comedy-nya. Menurut saya bahan yang ia bawa terlalu serius, dan agak garing hehe.

Tapi, melihat stand up special dia yang terakhir di youtube yang berjudul ‘Messake Bangsaku’, saya pikir ia sukses menjadi comic yang menghibur, dan juga menginspirasi. Ia sudah lebih santai dan tidak terbawa emosi saat membawakan jokes-nya.

Saya pun akhirnya membeli dvdnya yang digital download di WYSDYN shop. Prosesnya mudah. Setelah order, saya pakai ATM debit dan tak perlu konfirmasi ulang. Otomatis statusnya sudah terbayar dan saya tinggal mendownload.

Enjoy :)
Enjoy :)

Cara dia mengasihani Indonesia sangat saya suka di Messake Bangsaku.

Ini baru pertama saya tertawa melihat stand up comedy bang Pandji. Biasanya saya cuma komentar, “Apaan sih nih orang?”

Looking forward to see your stand up comedy in Europe!

 

13 COMMENTS

      • kakakakak.. Sama mas saya juga kena pengaruh Nasional.Is.Me nya Bang Pandji. Yang lihat Pelangi utuh di Manado salah satunya.
        Semoga menang di tanggal 20 Mas. Lihat langsung Stand Upnya, epic banget rasanya pas nnton Final Tour Mesakke Bangsaku di TIM.
        Tapi kalo urusan motret Bang Pandji kalah deh sama mas Wira.. :D

  1. Jujur, fotografi juga sudah sukses membuat pantat saya berpindah-pindah transportasi antar propinsi, nggak cuma mendekam di depan monitor ngurusin kerjaan aja, hehehe.

    Sering saya ke pelosok negeri yang warganya sendiri saja tanya ke saya, “ngapain sih Mas kemari? kan lebih enak di kota?” dan dalam hati saya bertanya balik, “lha anda kok ya mau tinggal di pelosok yang jauh dari kota?” Tau sendiri lah mas Wira gimana kondisi pelosok negeri kita ini yang sangat jungkir-balik sekali dengan ibukota propinsi sajalah.

    Karena itu saya jadi mikir, gimana caranya bikin mereka yang hidupnya di pelosok itu sejahtera. Masa mereka cuma hinggap di foto-foto saya yang itu hanya bikin saya saja yang sejahtera. Mau promosi agar orang-orang datang ke sana ya serba sulit, di pelosok, nggak ada yang bisa dinikmati. Jadi bingung Mas…

    Mungkin bener kata dosen saya dulu. Indonesia itu luas. Suku-sukunya banyak. Kebiasaan hidupnya beragam. Makanya susah dibuat untuk jadi sejahtera. Yang seperti ini jadi pikiran saya kalau lihat bendera merah-putih berkibar di sekolah-sekolah yang ada di pelosok… bingung lah…

    • Kalau saya ditanya mau ngapain sih, ya bilangnya karena pengen silaturahmi saja sama saudara jauh, hehe.

      Ya menurut saya sih, kita bantu mereka semampu kita saja. Sesuai kemampuan kita, sesuai passion kita.

      Karena kalau cuma mengandalkan orang-orang yang kita coblos tanggal 9 kemarin, rasa-rasanya sulit.

    • Kadang-kadang kata sejahtera menjadi ‘absurd’ malah absurd… hanya karena uang menjadi alat sehingga tiba2 banyak orang di Indonesia bagian timur menjadi tidak sejahtera padahal jika dibalik: apa yang dilakukan orang yang sejahtera? mereka telah melakukannya terlebih dahulu… Kadang karena kita berlari cepat, mereka jadi tampak di belakang.

  2. […] Salah satu inspirasi, pembakar semangat saya untuk terus menulis blog perjalanan ini, adalah sebuah bab pada buku Nasional.is.me karya bang Pandji yang berjudul, “Dari sabang sampai Merauke.” Bang Pandji, dalam Nasional.is.me mengajarkan saya banyak hal tentang Indonesia. Seperti bagaimana kita seharusnya mengenal, mendalami, dan mencintai juga berbuat sesuatu untuk negeri kita ini. Di bab tersebut, […] Lebih Lanjut […]

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')