• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar

Wira Nurmansyah

Inspiring Indonesia to Travel the World

  • Home
  • About
  • Indonesia
  • World
  • Tips
  • Review
You are here: Home / Travel Story / Indonesia / Bali & Nusa Tenggara / Menuju Wae Rebo

Oct 24 2013

Menuju Wae Rebo

Good morning from Wae Rebo.
Good morning from Wae Rebo.

Saya akhirnya tahu mengapa para wisatawan asing jatuh cinta ke Wae Rebo.

Padahal, biaya ke sana terbilang cukup mahal. Sudah begitu, perjalanannya yang harus trekking naik gunung selama tiga jam itu sama sekali tak mudah!

Bukan hanya karena keindahan alamnya, namun karena kehangatan orang-orang disana.

Mereka rindu akan suasana yang tidak individual. Di Waerebo, satu rumah mbaru niang – rumah berukuran kerucut dengan diameter sekitar 11 hingga 15 meter bisa diisi hingga enam buah keluarga. Dengan dapur dan tungku bersama untuk mencari hangat di tengah-tengah rumah, suasananya memang terasa sangat kekeluargaan.

Ada sebuah anekdot tentang orang Flores.

Sekali mereka tersenyum, hilang sudah neraka di wajah mereka!

Wae Rebo Lodge di Dintor
Wae Rebo Lodge di Dintor

Karena, walaupun wajah mereka terbilang agak ‘sangar’ bagi sebagian orang non-flores. Namun mereka sangat ramah dan mudah tersenyum. Cobalah tersenyum sedikit, mereka akan membalasnya berkali-kali lipat.

Saya pun jatuh cinta ke Waerebo. Dan juga Flores, berkali-kali.

…

Seusai sholat idul adha, saya bersama Donna – rekan perjalanan yang baru saya kenal di Labuan Bajo  –  langsung menuju ke Ruteng. Untuk melanjutkan perjalanan dengan Ojek ke Dintor, desa terakhir yang bisa diakses kendaraan sebelum Wae Rebo.

Ini adalah ojek termahal sepanjang sejarah saya naik ojek. 150 rebu!

Tapi, melihat perjalanannya yang selama dua jam. Dengan kondisi hujan melewati bukit terjal, masuk hutan, dan lewat pinggir pantai, pun sudah terlalu sore dan hujan. Saya agak memakluminya.

Perjalanan ojek dua jam melewati sawah, naik gunung, lembah...
Perjalanan ojek dua jam melewati sawah, naik gunung, lembah…
Hingga pesisir...
Hingga pesisir…
Seharusnya naik ini lebih murah dari Ruteng. Jadwalnya siang, tapi nggak jelas jam berapa. Kalau dari Dintor menuju Ruteng, biasanya ia berangkat jam 4 pagi. Ongkosnya hanya 30 ribu kalau tak salah.
Seharusnya naik ini lebih murah dari Ruteng. Jadwalnya siang, tapi nggak jelas jam berapa. Kalau dari Dintor menuju Ruteng, biasanya ia berangkat jam 4 pagi. Ongkosnya hanya 30 ribu kalau tak salah.

Bagian belakang saya jadi agak mati rasa setelah melewati perjalanan itu.

Di Dintor, kami menginap semalam di Wae Rebo Lodge, sebuah homestay berbentuk bungalow yang berada di tengah sawah.

Saya pikir Dintor itu sudah dataran tinggi seperti Ranupane. Ternyata, Dintor terletak di tepi pantai! Di seberang dintor, terlihat pulau yang seperti datang dari zaman purbakala. Pulau Mules namanya. Ada satu gunung yang runcing mirip seperti puncak menara gedung BNI tertinggi di Jakarta itu. What a sight.

Pak Martin, pemilik homestay yang juga orang Wae Rebo yang ‘turun gunung’, bercerita banyak tentang kampung asalnya tersebut. Pak Martin ini adalah salah satu orang yang berjasa untuk membuat kampung Wae Rebo ini menjadi salah satu destinasi pariwisata

SDK Denge, titik awal pendakian ke waerebo
SDK Denge, titik awal pendakian ke waerebo

“Kalau saja Waerebo tak menjadi destinasi wisata, mungkin para warganya sudah pada pindah kemari mas. Karena disana untuk kemana-mana susah. Harus naik turun gunung selama 5 jam untuk pulang-pergi,” ujar Martin.

Adalah Kombo, sebuah kampung pemekaran dari Waerebo. Kombo berisi warga-warga yang sudah tak muat tinggal di Waerebo, karena rumah di Wae Rebo hanya maksimal tujuh buah sesuai adat. Kombo juga berisi  anak-anak yang bersekolah. Sejak kelas satu SD mereka diwajibkan hidup mandiri.

Terkadang, kalau libur, mereka pulang ke rumah orang tuanya di Waerebo. Tentu dengan berjalan kaki selama 3 jam terlebih dahulu.

***

Dari homestay, kami naik ojek selama lima menit menuju sebuah SD di Denge. Ini adalah titik terakhir yang bisa dijangkau oleh kendaraan.

Selanjutnya hanya bisa dilalui dengan melangkah.

Di denge ini juga ada satu homestay kepunyaan Pak Blasisus, yang merupakan sepupu pak Martin. Bentuknya homestay beneran seperti biasa, tak seperti punya pak Martin yang seperti resort.

Mama mama di dintor. Namanya keren-keren. Paulina, Magdalena, Lucia (uci? :D ), Sisca...
Mama mama di dintor. Namanya keren-keren. Paulina, Magdalena, Lucia, Sisca…

“Saya diajari sama seorang arsitek bule mas, diajarin juga bule maunya seperti apa, ya akhirnya saya buat seperti ini,” ujar pak Martin.

Kami mulai berjalan dari SD denge menuju atas. Trek awal adalah jalan lebar tanah yang sepertinya akan dibuat jalan aspal. Jalur terus berganti menjadi melipir bukit, tanah longsor, dan semakin menyempit.

Tipikal jalur trekking
Tipikal jalur trekking

Di perjalanan, kami bertemu banyak warga Waerebo yang membawa banyak alang-alang.

“Di atas sedang ada renovasi satu rumah, alang-alang itu atapnya. Dianyam dulu dibawah, baru dibawa keatas,” jelas pak Sales.

Kami nampaknya sudah terbiasa dengan pendakian, sehingga tak sampai dua jam kami sampai di pos ponco roko. Tempat dimana kita bisa mencari sinyal telepon karena memang di tepi jurang dimana posisi adalah LOS (line of sight) dengan BTS terdekat. Saya saja sempat bisa check in di path.

Pos Ponco Roko, tempat cari sinyal.
Pos Ponco Roko, tempat cari sinyal.
Menuju Wae Rebo
Sinyal mana sinyallll

“Dari semua tamu yang kami bawa, mas sama mba yang tercepat sampai sini dan nggak pernah istirahat di jalan,” kata Mas Sales.

Untung saja walaupun perut saya sudah membuncit, dengkul racing saya masih berfungsi dengan baik hehe.

Beberapa menit kemudian, kami melihat sebuah pos pemantau dengan atap seperti rumah mbaru niang.

Dari sana, terlihat kampung Waerebo yang berada di bawah lembahan. Sebuah dataran kecil yang diapit lembah-lembah hijau tinggi, dengan sungai yang mengalir di kiri-kanannya.

Dari penjelasan pak Sales, saya mengetahui bahwa seribu tahun yang lalu, orang Minangkabau-lah yang membuat kampung disini. Merekalah nenek moyang orang Wae Rebo.

Entah bagaimana caranya orang-orang dari dataran Andalas itu bisa sampai di Flores dan membuat Waerebo.

Hello Wae Rebo!
Hello Wae Rebo!

Kami pun turun, memasuki perkebunan yang didominasi oleh tanaman kopi hingga sampai di gerbang Wae Rebo. Puluhan orang sedang duduk dan melihat sebuah Mbaru Niang sedang dihancurkan.

Mereka semua menatap kami dengan tatapan aneh seperti melihat alien. Saya hanya membalasnya dengan tersenyum.

Mereka pun tertawa..

Disambut senyum
Disambut senyum

(bersambung dulu ahh ~ )

Written by wira · Categorized: Bali & Nusa Tenggara, Indonesia, Travel Story · Tagged: flores, Rebo, Wae, Waerebo

Reader Interactions

Comments

  1. wismayanti says

    24 Oct ’13 at 09:48

    maaf, jd wae rebo itu nama desa apa gunung ya :D ?
    waah ada mbak uci ternyata..ygmanaygmana,,,,,

    Reply
  2. Awan says

    24 Oct ’13 at 15:37

    :D seperti sedang berada disana #saya

    Eh mas Wira ,mau tanya :
    itu foto “good morning waerebo” sekali jepret ,apa pake HDR ??
    terus ada olahan pake *soto_sop* ga?

    soalnya saya insyAllah mau naik gn Gede minggu depan,,Sampeyan harus bertanggung jawab udah nyebarin Virus fotografi sampe saya beli kamera “Entri level” yg blom bisa “bracketing” ini :'(

    terimakasih mas :))

    Reply
    • wira says

      26 Oct ’13 at 05:11

      sekali jepret aja mas. Lagi males pake HDR dan teman-temannya.

      Reply
  3. Belian says

    25 Oct ’13 at 17:43

    “Untung saja walaupun perut saya sudah membuncit, dengkul racing saya masih berfungsi dengan baik hehe.” LOL wakaka.. apanye yg racing.. lu dah balik ato masih berkelana?

    Reply
    • wira says

      26 Oct ’13 at 05:10

      racing broh, ngesot sampe atas aing ahaha. Udah balik bel ~

      Reply
  4. Fahmi says

    26 Oct ’13 at 02:10

    ah~~ tjakep wae rebo… trekking 5 jam ya? treknya gimana? susah enggak :D

    Reply
    • wira says

      26 Oct ’13 at 05:10

      5 jam mah pp mas haha, nggak kok biasa aja :D

      Reply
  5. Baktiar says

    29 Oct ’13 at 10:26

    Semakin banyak yang kesana semakin sakit hati.. mana yang deket malah belum pernah kesana lagi haduh….. minimal 2 hari yo mas kalau mau kesana….

    Reply
  6. puput says

    30 Oct ’13 at 22:20

    Wah sampe juga lo kesini… mana foto2 yg lain, mesti masih pada disimpen nih…

    Reply
    • wira says

      31 Oct ’13 at 05:38

      Kan masih bersambung om haha selow. Foto yang lain? Foto mpok Uci gw banyak nih :))

      Reply
  7. Dede says

    5 Nov ’13 at 09:06

    Ah…Wae Rebo. Semoga suatu hari bisa sampe kesana

    Reply
  8. lucianancy.com says

    6 Nov ’13 at 10:52

    temenin ke sini lagi..

    Reply
    • wira says

      22 Jan ’14 at 12:35

      ah, kamu…

      Reply
  9. Danan Wahyu says

    12 Nov ’13 at 23:23

    aku nyesel lho ga lama di dintor, ternyata di bawahnya ada pulau moles… wajibable dikunjungi….

    Reply
    • cindhy says

      13 Nov ’13 at 11:50

      amiennnn

      Reply
  10. cindhy says

    13 Nov ’13 at 11:27

    like…
    amazinggggg…

    Reply
  11. vii says

    26 Nov ’13 at 10:55

    mas wira, mo tanya donk, untuk biaya2 ke wae rebo nya, penginapan pak martin ada no. contactnya ? guide dari mana, apa sudah di siapkan pak martin ? kapan ni lanjutan ceritanya dibuat ?

    Reply
  12. balak says

    26 Nov ’13 at 22:22

    that’s why i’m love INDONESIA ^_^

    Reply
  13. Caderabdulpacker.com says

    18 Dec ’13 at 21:42

    lalallala….Wae Rebo itu artinya apa yach ??? walau pernah tinggal di NTT tapi belum pernah kesana..nangis darah….

    Reply
  14. adek says

    17 Jan ’14 at 04:45

    Jadi pengin sekali ke sana. Terima kasih udah sharing, mas.

    Reply
  15. mamet says

    11 Feb ’14 at 11:20

    om wira, aku minta rincian dana dan angkutan
    yg bisa dinaiki untuk ke wae rebo ini dong :)
    di email-in aja ke mametsaelah@gmail.com yah .

    thanks be 4 om

    Reply
  16. yosephine susie saraswati says

    24 Feb ’14 at 20:22

    Mas Wira, sama seperti pertanyaan Mas Mamet, boleh dong minta tolong diberitau rincian dana dan angkutan umum serta kontak pemilik homestaynya, ke email saya di yosephine_susie@live.com. terimakasih banyak.

    Reply
  17. andry says

    7 May ’14 at 10:42

    mas saya minta rinciiannya dong (email yach)rencannya saya mau kesana di akhir tahun dari jakarta.

    andry
    andry.bo4nd@gmail.com
    02170638351

    Reply
  18. agnes says

    14 Jun ’14 at 17:18

    Mau tny mas dr labuan bajo ke wae rebo brp jam, naik apa mas dr labuan bajo hehehehe

    Reply
    • wira says

      15 Jun ’14 at 18:43

      Naik yang ruteng, turun di pertigaan pela sebelum ruteng, terus naik ojek. Itu saya. Ada alternatif dari Ruteng naik truk sayur tapi saya nggak tau jadwalnya. Perjalaan lb. bajo ruteng 2-3 jam. Ruteng-dintor. 1-2 jam. Dintor-waerabo 3-4 jam jalan kaki.

      Reply
  19. sugi says

    6 Jul ’14 at 15:05

    oh iya perkenalkan saya sugi, yg tiap bulan datang ke waerebo (org indonesia pertama yg tinggal paling lama di waerebo) he he he he he.

    Utk jadwal otocolt yg di foto di atas itu dari terminal mena di ruteng paling lambat adalah jam 10 pagi teman2 harus uda di terminal, ongkos 30rb di situ ada 3 otocolt yg ke arah dintor, klu terlambat bisa naik otocolt yg hanya sampai narang harganya 20rb dan bisa di lanjut ojek ke dintor 50rb ato 40 lah silahkan tawar.

    Utk harga waerebo lodge 200rb/org sudah termasuk makan 3 kali.
    utk donasi di dalam waerebo klu menginap 250rb/org sudah termasuk menginap dan makan
    ndak menginap 100rb/org
    itu biaya sebenarnya adalah di kelola oleh masyarakat secara bersama jadi bagi saya itu sepadan dengan perjuangan mereka (maaf) utk tetap menjaga kelestarian tradisi dan budaya yg teman2 tonton dan nikmatin.

    salam
    sugi
    anak waerebo asal jawa timur wkwkwkwkwkwkwkwk

    Reply
    • sandra says

      1 Sep ’14 at 13:33

      hai Sugi … kapan mau ke Waerebo lagi ? mungkin mau nebeng ikutan , lagi cari teman jalan nih

      Reply
      • Hasan says

        6 Nov ’15 at 07:12

        Mbak sandra uda ke wae rebo blom saya november mau kesana, tgl.16 november ada acara adat penti. Ne hp saya 08127023165 thx d tunggu informasinya

        Reply
        • Bidong Msaid says

          10 Nov ’15 at 09:49

          Ikut yuk sy punya rombongan tgl 12-16 Nov.2015,dah termasuk trip komodo dan pulau padar.contact wa.0813-3843-3731

        • wira says

          11 Nov ’15 at 08:06

          bayarin dong mz..

  20. dannytumbelaka says

    4 Nov ’14 at 12:09

    SAlam kenal Wira :D
    Setuju banget bahwa Indonesia itu wajib dieksplor :)
    42 bulan keliling Indonesia gak cukup. Hanya lokasi-lokasi yang utama aja yang bisa dieksplor. Yang blusukan gak sampai 50% target lokasi yang bisa saya kunjungi, itupun dengan gunakan helikopter…
    Semoga sebelum saya meninggal bisa ulangi perjalanan keliling Indonesia, terutama yang blusukan :)
    Terima kasih infonya ya. Saya nantikan feed berikutnya dan berikutnya dan berikutnya…

    Reply
  21. heru tekmed says

    18 Dec ’14 at 07:14

    Salam kenal Mas Wira. Asyik pokok’e punya jiwa petualang seperti Mas Wira

    Reply
  22. Gigih Hafdhuddin Al Farisi says

    6 Jan ’15 at 12:25

    siang mas, nma saya gigih mahasiswa universitas di bogor. mau penelitian ke NTT, deket sama ruteng tepatnya mas. kalau mau kesana rutenya kemana ya mas? terimakasih

    Reply
    • wira says

      6 Jan ’15 at 13:21

      Kalau ke ruteng bisa naik bis kecil 2 jam dari labuan bajo. Untuk ke labuan bajo pesawat dari jakarta ada kok.

      Reply
  23. sri_putra says

    29 Mar ’15 at 08:08

    Menakjumkan….asyik, Wae Rebo sebagai contoh masyarakat yang ikut melestarikan lingkungan…..jadi pingin kesana….asyik…keren

    Reply
  24. anggi says

    4 May ’15 at 22:51

    Halo mbak Wira, saya rencana ke Wae Rebo bulan juli tahun ini.
    Mau coba pakai bus/truk dari Labuan Bajo, minta saran yang terbaik mbak dan plus minus nya
    makasii

    Reply
  25. Pesona Komodo Tours & Travel says

    28 Jun ’15 at 21:39

    yang mau ke sana dan pengen tau biayanya, coba klik http://www.wisatakekomodo.com.

    Reply
  26. Tc says

    26 Jan ’16 at 10:43

    Trims info Wae Rebonya, cantik ni tempat padahal kemarin ke NTT tapi ga tau eh malah taunya dari turis australia ketemu di Jogya hadeh. Wae Rebo see you soon.

    Reply
  27. Wahid says

    27 Feb ’16 at 20:43

    Keren, adventure yang wajib dijajal nih!! thanks yaa infonya bro

    Reply
  28. jafin hai says

    5 Apr ’16 at 20:25

    Hai wira, makasih udah menulis tentang Bagus banget dan sangat menginspirasi

    Reply
  29. sarah says

    14 Apr ’16 at 21:04

    Hai ka,thanks udh nulis tentang tempat sekeren ini,salam kenal !

    Reply
  30. dwia says

    24 Apr ’16 at 12:29

    Mas wira …aq baru mau kesana…tgl 5 mei….trekking jalan nya naik bangeet…ga sih….mengingat aq udah uzur………doain kuat yaa….
    Pengiiin banget …..dari dulu…kesana..
    Sekarang baru dapat temen yg nawarin n mau sama2 kesana……
    Dengan Bissmillah…..aq kuaaaattt…..

    Reply
  31. Hendrik says

    28 Apr ’16 at 16:15

    hallo sy Hendrik, dari manggarai tapi tinggal dan bekerja di bali. waktu saya di labuhan baju{Sma} sekitar 2008 wae rebo belum sepopuler sekarang.
    walaupun saya dari sana tapi saya belum pernah ke wae rebo… hehehe (miris)
    juli atau agustus rencananya mau bali ke manggarai dan harus ke wae rebo.
    kalau ad yang mau ikut bisa bareng2 ke sana. email sy Hendrik.peti123.hp@gmail.com
    makasih.

    Reply
  32. Fargun Gumilar says

    31 May ’16 at 08:16

    Mas, saya dari Makassar. Untuk trip ke waerebo dari labuan bajo brrti butuh 2 hari ya mas ?

    Reply
    • Hendrik says

      31 May ’16 at 21:00

      dari labuhan bajo ke wae rebo sekitar 3~4 jam mobil mba

      Reply
    • wira says

      31 May ’16 at 22:33

      kalau nginap ya butuh 2 hari. Kalau cuma sehari bisa tapi pasti capek sekali.

      Reply
  33. wikagun says

    12 Aug ’16 at 15:47

    Salam kenal mas, saya wikagun dari bali, saya emang pengen banget mengunjungi wae rebo, informasi yang mas tulis bener2 bermanfaat buat saya, terimakasih banyak, juga buat mas sugi tambahan infonya juga bermanfaat,,, terimakasih…

    Reply
  34. Rahma Seviana Pratami says

    7 Sep ’16 at 00:56

    Wah ka Wira (tau deh inget sama junior nya yang satu ini apa enggak)

    Aku idul adha ini mau ke Wae rebo, lagi googling ketemu beginian,,,wwkwkkwk

    Reply
    • wira says

      7 Sep ’16 at 17:59

      Ahahaha mantap :D

      Reply
  35. Babang Travengler says

    10 Jan ’17 at 14:09

    setelah baca ini makin nambah list tempat yg mau dikunjungi maret depan. insyaAllah

    Reply
  36. Adin Rahadian Mansur says

    17 Jun ’19 at 00:08

    Salam kenal mas Wira. Mas kira2 trekking nya untuk anak 7 tahun recommended ga? Makasih

    Reply
    • wira says

      18 Jun ’19 at 09:34

      bisa saja asal pelan-pelan mas

      Reply

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')Cancel reply

Primary Sidebar

Follow Us

  • YouTube
  • Instagram
  • TikTok

Popular Post

  • 5 Kejanggalan dalam Pendakian Film 5cm
  • 5 Tips (lagi) untuk Fotografi Landscape!
  • Review Backpack : Deuter ACT Lite 40
  • Tips Berpakaian di Gunung : Layering System!
  • Fujifilm X-T100 Review : Mirrorless Seri X-T Termurah!

Categories

  • Bali & Nusa Tenggara
  • Beyond Indonesia
  • Camera Review
  • Culinary
  • Europe
  • Flight report
  • Foto Favorit
  • Giveaway
  • Guest Post
  • Hiking & Trekking
  • Hong Kong
  • Hotel & Resort
  • Indonesia
  • Japan
  • Jawa
  • Kalimantan
  • Malaysia
  • Maluku & Papua
  • Media Trip
  • Photo Tips
  • Photoessay
  • Review
  • Saudi Arabia
  • Singapore
  • South East Asia
  • South Korea
  • Sponsored (adv)
  • Sulawesi
  • Sumatera
  • Taiwan
  • Tearsheet
  • Thailand
  • Thought
  • Tips
  • Travel Story
  • Travel Tips
  • Travel Video
  • Workshop

Copyright © 2026 · Altitude Pro on Genesis Framework · WordPress · Log in

 

Loading Comments...