
“Macam kaki Jawa saja kau pakai sepatu segala,” kata Saka, pemandu kami, kepada Rudi, pemandu kami yang lain.
Sebetulnya pilihan alas kaki Rudi sudah sangat tepat. Karena kita akan mendaki sebuah gunung karang. Bebatuannya tajam, sangat berbahaya. Saya pun memakai sarung tangan agar tak terluka saat berpegangan di karang.
Tak jauh berbeda seperti Wayag yang saya kunjungi tahun lalu, hanya memang lebih pendek. Dan lebih dekat. Ke Wayag, butuh tiga jam dengan speedboat. Pianemo hanya butuh sepertiganya.
Sebetulnya waktu itu kami bertujuan ke Wayag. Namun, di pintu masuk Wayag, warga menutup akses untuk kesana.
Kabarnya, mereka kecewa karena daerahnya menjadi tempat tujuan wisata, setiap hari ada turis asing maupun lokal yang kesana, namun tak ada dampak apapun bagi mereka. Tak ada peningkatan kesejahteraan, kata mereka.

Padahal, turis yang masuk ke Raja Ampat diwajibkan membeli “pin” ke pemda seharga 250 ribu rupiah untuk wisatawan lokal, dan satu juta rupiah untuk wisatawan asing.
Saya tak tahu persis permasalahannya. Tapi jelas mereka merugikan banyak orang yang telah jauh-jauh datang dari pelosok Indonesia, ataupun ribuan mil dari Eropa sana.
Semoga pemerintah cepat tanggap dan mengkondisikan Wayag agar kembali seperti semula.
….
Dari pulau Arborek, kapal kami yang berkekuatan 2×200 pk melaju ke arah barat laut. Menuju gugusan gunung karang yang mirip Wayag – tapi lebih mungil.
Karena mirip wayag. saya menyebutnya : Wayag KW, hehe. Selamat datang di Pianemo!












Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')