
Rebana bertabuh memecah kehingan pantai Barenge. Dua gadis berparas manis menunggangi kuda-kuda yang kepalanya ikut bergoyang menangguk mengikuti irama musik yang dimainkan oleh para lelaki. Suasana mendadak menjadi penuh gairah. Saya terpana, wajah mereka sungguh jelita, seperti puteri raja.
Usut punya usut, salah satu dari mereka memang adalah anak Bupati Majene. Meraka memakai La lang bubu, sebuah payung yang hanya dipakai oleh para perempuan bangsawan pada ritual penyambutan Paduppa ke rombongan sahabat petualang terios ini.
Kenapa hanya gadis bangsawan yang bisa menarikan tarian ini? Karena jika hanya gadis biasa, kuda-kuda ini tak akan bergoyang. Semeriah apapun rebana yang ditabuh, entah mengapa.


Tarian Paduppa ini biasa digunakan untuk beberapa hajatan. Contohnya adalah pada saat penyambutan tamu, menyambut dan saat seseorang telah mengkhatam-kan Al-Quran. (berhasil menghafal seluruh isi Al-Quran)
Wah, kalau benar gadis-gadis cantik ini adalah para hafidz quran, saya pun yang hanya hafal surat-surat pendek Quran pun minder ingin berkenalan… #eh
Setelah itu kami dijamu makan malam oleh perwakilan bapak Bupati. Seharusnya Bupati sendiri yang menyambut kami, tetapi karena kami terlambat tiba di Majene, Bupati jadi tak bisa bertemu dengan kami karena sudah ada urusan. Kami jadi tak enak.

Kain bermotif yang digunakan para penari adalah kain mandar. Kain sutera yang ditenun secara tradisional, berwarna-warni cerah dengan pewarna alami dari tumbuhan, dan bermotif unik sesuai kasta si pemakai. Kain mandar tidak bermotif aneh-aneh. Mereka bermotif sederhana, dengan garis-garis bersih namun bersinar memancarkan kesan elegan.

Tenun mandar adalah salah satu komoditi salah satu kota kabupaten di Sulawesi Barat ini. Harganya mulai 200 ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Membuat kain mandar butuh waktu yang tidak sedikit. Untuk motif yang simpel memakan waktu sekitar 2 minggu. Namun untuk motif yang cukup kompleks bisa memakan waktu hingga dua bulan.


Seorang gadis manis nampak sedang mendemokan pembuatan kain tradisional Mandar. Ia masih berkuliah di salah satu di universitas sulawesi barat. Sehari-hari ia menenun, untuk membantu biaya kuliahnya.
Upahnya tak begitu banyak. Namun saat kami tanya mengapa ia memilih melakukan hal ini, ia menjawab, “Kalau bukan kami yang menjaga tradisi kami sendiri, siapa lagi?”
Kami terdiam. Diam-diam merasa bangga dengan anak bangsa seperti ini.
Leave a Reply to Terios 7 Wonders : My Story — Wira NurmansyahCancel reply