
Pesisir selatan Banten, 1 Oktober 2013 [12.30]
Matahari sudah tepat di atas kepala sesaat setelah kami meninggalkan pelabuhan ratu. Konvoi tujuh buah Terios sedikit terganggu karena kondisi pelebaran jalan, sehingga sisi kiri dan kanan jalan terdapat kerikil yang membuat tanjakan semakin merepotkan.
Mobil yang saya kendarai pun tak luput – ban mobil terios nomor lima yang saya tumpangi terjebak di tumpukan bebatuan. Beruntung kondisi terios kami yang prima membuat kami bisa lolos dari tantangan tersebut.

Kami disambut oleh senyum bocah-bocah desa sawarna yang tengah bermain di lapangan. Mobil kami berjalan beriringan seperti anak-anak angsa yang mengikuti induknya. Mereka melambaikan tangan sambil tersenyum, bahkan berteriak tertawa, beberapa ada yang menghitung jumlah rombongan mobil kami. Mungkin kami nampak seperti pawai tujuh belasan di mata para bocah itu.

Menjelang sore, kami pun merapat di tepi Desa Sawarna. Dengan hanya dihubungkan oleh jembatan gantung selebar satu meter, mobil kami tak mungkin masuk. Sawarna melabelkan dirinya sebagai ‘desa ramah lingkungan’, sehingga di dalam desa hanya boleh berjalan kaki. Walaupun, entah mengapa sepeda motor warga yang bekerja sebagai ojek para wisatawan masih tetap dibiarkan menerobos jembatan masuk desa.



Ini kali ketiga saya mengunjungi Desa ini. Tak banyak yang berubah, kecuali rumah-rumah warga yang dahulu hanya tempat tinggal, kini ada papan label nama di atas pintu-pintunya yang bertuliskan homestay – bahkan resort.
Seperti biasa, saya melakukan susur pantai dari desa sawarna, memasuki pantai ciantir yang berpasir lembut mirip terigu, dan meneruskan ke pantai Tanjung layar yang berbatu karang.


Tapi, di pantai tanjung layar, tepatnya di landmark nya Desa Sawarna, sangat disayangkan sekali banyak tangan-tangan jahil yang melakukan vandalisme pada batu besar yang selalu jadi latar belakang foto para wisatawan itu. Tulisan-tulisan i was here, romi love juliet, dan tulisan alay yang sejenisnya betul-betul merusak penatapan saya!
Terakhir saya kesini adalah setahun yang lalu, tapi vandalisme itu belum lagi ada.
Inilah contoh klasik dimana ketika wisatawan sudah ramai, dan pengelola belum sanggup untuk bertindak tegas.
Jika dibiarkan demikian, julukan hidden paradise Sawarna yang sering disebut orang, mungkin harus segera dilepas.

Penduduk desa sawarna, walaupun di pesisir, mereka lebih banyak bercocok tanam daripada melaut. Karena karakteristik ombak yang besar dan karang-karang yang juga terlalu besar membuat kapal tak bisa merapat disini. Beberapa yang melaut juga hanya menggunakan pancing dan jaring tradisional di tepi pantai.
Beberapa tahun terakhir, beberapa membuat rumahnya menjadi tempat penginapan para wisatawan. Banyak yang mendapatkan penghasilan tambahan dari sini. Jika Sawarna kotor karena tangan-tangan tidak bertanggung jawab dan menjadi sepi, tentunya warga sendiri yang dirugikan.

Beralih dulu dari soal vandalisme, mari kita doakan agar para alay tersebut segera bertobat dan pengelola sawarna bisa mengawasi lebih ketat.
Apa sih sebetulnya definisi hidden paradise? Buat saya, hidden paradise itu relatif buat setiap orang. Jadi saat saya bilang Sawarna adalah hidden paradise, jangan langsung percaya!
Sawarna, untuk pecinta fotografi landscape – seperti saya – mungkin adalah salah satu tempat yang terbaik di Indonesia ini. Coba tanya ke forum-forum fotografi : tempat mana yang paling cocok untuk foto seascape? Salah satu jawabannya pasti Sawarna!

Juga untuk pecinta caving, di sawarna juga mungkin juga adalah hidden paradise bagi mereka. Beberapa gua yang tersebar di beberapa titik desa dengan karakteristik yang berbeda tentu adalah surga bagi para cavers.
Bukan apa-apa, karena saya mendapati seorang kawan saya yang merasa dibohongi oleh postingan saya sebelumnya. Karena dia tak mendapati foto-foto persis seperti yang saya dapatkan. Dia hanya menjalani perjalanan panjang 7 jam dari jakarta, foto-foto di depan batu layar, lalu pulang tanpa merasa mendapat apa-apa.
Dude, you should keep your minds open while traveling :)



***
Sesaat sebelum matahari tenggelam, sebelum saya mengemas kembali tripod ke dalam tas. Para kuda tunggangan kami berpose terlebih dahulu di sisi pantai di sekitar Sawarna, sambil berharap Sawarna masih menjadi ‘hidden paradise’ ketika kami akan kembali lagi di waktu-waktu mendatang.
Thanks!
@wiranurmansyah – ready to roll a slow shutter again and again in Sawarna.
Sawarna selalu memikat dan foto2 nya kang wira ini selalu bikin gw merinding :)
Ajarin aku moto dong kakak !!!!!! PLEASEEEE
hayuhhh atuhh mas cumi atur-atur aja, gw mah bebass :))
ditunggu cerita selanjutnya.. :)
oke siap mas, tiap hari mudah-mudahan bisa diupdate :D
Tertarik sangat dengan hampir semua cerita perjalanannya. And 1 more, hasil jepretannya bagus-bagus! Sebelumnya pernah ambil kursus photography kah? Atau berawal dari hoby?
Halo mba juwita, kebetulan cuma hobi aja :)
Boong dink mbak Juwita, kang Wira ini udah jadi instruktur kursus fotografi landscape, bayarannya mahal :P
Oo gt ya, mantap euy.
Belakangan tertarik ma dunia fotografi, cmn gak tau kudu mulai darimana.
Barangkali mas Wira sebagai instruktur kursus fotografi dengan bayaran yang katanya mahal bisa kasi suggestion, hehe. :D
Susah ya ke Sawarna? Medannya beratkah?
waah pantes hasil jepretannya bagus2, instruktur thoo…..
Mantap..
Foto-fotonya keren semua. Dua jempol.
hmm….walau belum pernah ke sana, nampaknya saya setuju kalo buat pencinta photography, Sawarna bukan hidden paradise :D
Tapi kalo kata saya yang penggemar wisata pantai, ini hidden paradise banget hehe
Tfs.
Oh iya, liat foto Teriosnya, berarti ada 7 ya yang kemarin berangkat? Banyak juga ya.
… susah kometar. indah sekali :’)
I coulԁ nοt resist commenting. Perfectly written!