Line up kamera fuji semakin banyak saja. Di kamera X series ada seri X-H, X-PRO, X-T, X-E, dan X-A. Nah, di bulan Juni 2018 ini baru saja keluar seri terbaru yaitu seri X-T100.

Kalau dilihat dari digit belakangnya yang ada tiga (angka 100), kamera ini adalah kamera entry level dari seri X-T. Yang paling tinggi saat ini adalah X-T2, disusul oleh X-T20, dan yang paling bontot tentu adalah X-T100 ini.

Melihat layout bagian belakangnya, seri ini mengingatkan saya pada kamera seri X-A yang terbaru yaitu X-A5. Sama persis. Namun perbedaan yang mencolok adalah ditambahkannya electronic viewfinder alias jendela bidik. Dan LCD yang bisa berputar secara akrobatik ke depan!

Alay

Sama seperti X-A5, X-T100 menggunakan mode dial seperti kamera modern pada umumnya. Ada mode exposure P, A, S, M, auto, dan lainnya. Berbeda seperti kamera X-T series yang biasanya menyediakan dial shutter speed bergaya retro.

Perbedaan lagi dari seri X-T lainnya adalah kamera ini menggunakan sensor Bayer biasa, bukan sensor X-Trans seperti kamera fuji tipe diatasnya. Ini cuma metode peletakan pixel RGB saja kok. Tenang saja, warna-warna khas fuji tetap bisa didapatkan di kamera ini.

Notes : Semua foto hasil X-T100 di sini adalah langsung JPEG dari kamera tanpa di edit dengan apps apapun.

X-T100, 16mm

Body

Bentuk fuji seri X-T adalah SLR-style, tapi mungil. X-T100 bisa digenggam dengan mudah dengan satu tangan. Body berbahan plastik namun tidak ada kesan murahan.

Di sisi kiri atas ada putar-putaran yang bisa di custom penggunaannya. Fungsi default-nya adalah untuk mengganti film simulation. Tombol fn juga ada di samping mode dial, defaultnya untuk mengganti iso. Tapi saya ganti jadi AE-lock karena saya sering menggunakan fungsi tersebut. Di dial ini juga ada tombol geser untuk membuka flash internal.

X-T100, XF 56mm

Tombol exposure compensation untuk mengatur terang gelap foto (pada mode non manual) juga masih ada di sebelah kanan atas kamera. Namun tak ada marking plus atau minus-nya. Jadi kita harus melihat ke layar di mana posisi kompensasi exposure saat itu.

Baterai dan SD card masih ada di dalam satu slot di bawah. Letak tripod mount tidak tepat di tengah, tapi mendekat ke pinggir slot baterai. Jadi kalau kita pasang tripod mount, bakal mengunci slot baterai. Agak merepotkan saat kita ingin mengganti baterai, karena harus melepaskan tripod mount terlebih dahulu.

Ada tiga warna yang ditawarkan. Black, graphite silver, dan champagne gold. Saya paling suka yang champagne gold sih. Hitam sudah terlalu biasa, graphite silver keren tapi sudah ada di X-T2. Warna gold ini charming sekali. Beberapa orang yang saya temui langsung memuji tampilan desain kamera yang bergaya industrial berwarna emas ini.

Fuji X-T100, XF 35 f/2

Kemudian fitur LCD nya yang selain bisa tilt atas dan bawah, ia juga bisa diputar ke depan! Namun agak sedikit berbeda dengan kamera Canon dan Panasonic yang juga punya desain yang serupa. Di fuji X-T100 saat posisi portrait tidak bisa diputar 360 derajat. Jadi kurang fleksibel.

Namun, desain seperti ini memungkinkan saat kita tilt ke atas dan ke bawah jadi mudah, tak perlu ditarik keluar dulu seperti canon/panasonic. Fotografer pasti lebih sering pakai fungsi tilt atas/bawah ini, jadi tetap dibuat mudah aksesnya.

Rating baterai ada di 430 shot. Lebih tahan lama dibanding oleh X-T2. Saya juga sangat merasakannya. Fuji X-T2 powernya memang responsif dan besar. Tapi harus dibayar dengan baterai yang cepat habis. FYI, baterai yang dipakai oleh semua kamera Fuji tipenya sama semua, jadi bisa tukar-tukaran.

Handling

Autofokus kamera ini ok saja. Tidak begitu cepat, juga tidak begitu lambat,  dan tentunya bergantung lensa yang digunakan. Levelnya kira-kira diatas X-A5, dan tentunya dibawah X-T2. Mirip-mirip seperti X-T20. Namun respon keseluruhannya sudah cukup cepat dibanding X-A5. Dengan lensa kit 15-45, autofocus sudah bekerja dengan sangat baik.

Kamera ini memang tidak cepat. Namun cukup sigap dan akurat. Untuk memotret benda tak bergerak tentu tak bermasalah sama sekali. Untuk benda bergerak seperti orang yang berlari juga masih tak masalah. Hanya memang, dengan lensa yang sama dipasang di X-T2, X-T2 akan lebih responsif. Sepertinya prosesor yang dipakai memang berbeda. Well, harga X-T2 hampir tiga kali lipat X-T100 sih, jadi harap maklum!

Fungsi touch screen juga terdapat di kamera ini. Bisa digunakan untuk langsung memotret ataupun untuk memilih titik autofokus. Namun untuk penggunaannya saya rasa kurang responsif. Tangan saya yang agak besar juga membuat touch screen tak sengaja tertekan. Jadi saya matikan saya fungsi touch screen ini.

Image quality

Fuji menyediakan semua film simulation yang tersedia. Kecuali ACROS dan ETERNA yang ada di kamera seri yang lebih tinggi.

And they are looking really really good!

Warna tidak jauh berbeda dengan X-T2 saya. Namun saya rasa saturasi, kontras, dan ketajaman terlalu berlebih (untuk selera saya). Jadi saya turunkan sedikit di kamera ini.

XF 56 mm, Film simulation provia
ISO 3200, XF 56 mm
XF 35 mm
XF 16 mm
XF 16 mm
XF 56 mm

Video

Seharusnya kamera ini sangat cocok untuk kebutuhan video, apalagi untuk para vloggers.

LCD yang bisa flip ke depan (selfie) dan microphone input juga tersedia. Sayangnya input mic masih 2.5 mm. Jadi kalau mau pakai mic standard yang 3.5 mm harus menggunakan converter yang cukup merepotkan. Saya pakai converter ini saat mencoba X-T20 dan suara sering hilang karena converter tidak cukup stabil saat kamera bergoyang kesana-kemari.

C’mon Fuji, siapa sih yang masih pakai jack 2.5 mm di tahun 2018 ini? Pilihan mic tak banyak jadinya, paling mic ST1 dari fuji sendiri yang kualitasnya menurut saya biasa saja.

Video 4K? Ya, kamera ini memang punya kemampuan merekam 4K. Tapi lupakan saja, 4K hanya bisa direkam pada frame rate 15 fps. Walaupun ketajaman sangat baik, tapi saat bergerak akan terasa patah-patah seperti film stop motion.

Video dari X-T100 punya kualitas yang cukup untuk keperluan youtube. Bit rate saya cek sekitar 37 Mbps untuk 1080p. Video terasa terlalu artifisial ketajamannya, jadi harus saya turunkan sampai minimum. Namun saya yang terbiasa menggunakan video X-T2 dengan bitrate 100 Mbps merasa sangat downgrade jika melihat hasil video X-T100 hihi!

Oh iya, tombol record video agak sedikit menyebalkan. Kamu harus menekan sekitar 1 detik agar kamera mulai merekam. Mungkin saya tidak terbiasa saja.

Autofocus AF-C pada mode video cukup baik. Jadi tak perlu takut wajah kamu bakal blur di video.

Jadi kalau kamu butuh video serius, saya sarankan langsung ke X-T2 atau X-H1 saja. Tapi untuk vlog youtube, X-T100 sudah cukup lumayan walaupun dengan beberapa kompromi yang saya sebut di atas.

Oh iya selain itu, ada fitur tambahan 4K photo burst. Jadi kita bisa mengekstrak foto sebesar 8 MP dari video 4K yang 15 fps ini. Cukup bagus untuk menangkap momen secara presisi.

Overall, kamera ini sangat fun untuk digunakan. Apalagi buat traveling. Ukurannya yang ringkas dan bobotnya yang ringan tanpa mengorbankan terlalu banyak performa seri X-T bisa jadi kamera andalan untuk dibawa kemana-mana.

 

So, What’s Hot?

  • Desain kamera yang stylish dan terkesan premium, apalagi warna champagne gold
  • Hasil foto tak perlu diragukan. Warna-warni terekam baik, tak perlu ragu iso tinggi seperti 3200-6400
  • Sensor normal Bayer seperti kamera pada umumnya lebih disukai sebagian orang untuk memotret RAW.
  • LCD bisa selfie ke depan
  • Ada electronic viewfinder, jadi kamu bisa mengintip saat mengambil foto tanpa silau di tengah siang bolong
  • Lensa kit 15-45 sangat tajam

And What’s not.

  • 4K video hanya 15 fps
  • Touch screen kurang responsif
  • Tak ada marking di dial exposure compensation
  • Slot mic 2.5 mm yang kurang standar
  • Perpindahan otomatis dari EVF ke LCD kurang cepat
  • Tak ada tombol AE-lock dedicated

Sample foto tambahan

XF 35 mm
XF 16 mm
XF 16 mm
XF 16 mm
XF 35 mm
XF 56 mm

Terima kasih!

13 COMMENTS

  1. Siippp.. berarti utk ISO tinggi 3200-6400, X-T100 ini masih bisa diandalkan ya mas.. Kira2 apakah sebanding atau beda tipis, dengan seri X-T20 atau X-E3? Makasih..

  2. Berarti autofokusnya lebih bagus dibanding XM-1 ya saat rekam video? Nyebelin banget di XM-1 kalau lagi ngerekam terus gerak, titik fokusnya berubah,, errrrr…

    -Traveler Paruh Waktu

  3. Saya galau di sensor Bayer nya, apakah akan kehilangan warna2 khas fuji dengan x trans nya kah ? Bs dijelaskan sedikit perbandingan warnanya kah ?

  4. Kereeenn.. Bentuknya mirip sama xt10 atau xt20 yah.. Cuma sayang banget sensor nya bayer.. Masalah personal taste sih sebenernya kalo sensor itu, karena emang di hasil tone nya nanti yang beda tiap sensor. BTW review nya detail, mantap mas wira.

  5. agak bingung sama fuji kenapa jacknya pake 2.5mm padalan yg lebih banyak dipake kan 3.5…atau mungkin strategi bisnis kali ya…tapi meskipun begitu kayaknya masih mikir buat beli kamera kaya gini hehe -,- #keremodeon hehe

  6. jadi labil antara beli xt100 ini, olympus omd e-m10 mark iii atau lumix g85 dgn kebutuhan personal travelling dan street photography.. kira-kira ada saran kah mas?

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')