Jalan-Jalan Singapura part #1: Touchdown Bandara Changi & Kampong Glam

14

Jalan-Jalan Singapura part #1 — Kalau tidak dipaksa adik saya yang cerewet dan pengen pamer foto depan merlion ke temannya itu, mungkin entah kapan saya akan ke Singapura.

Baca juga : 8 Kelakuan Orang Indonesia Ketika Pertama kali di Singapura

Singkat cerita, saya pun mendarat di Changi. Tapi nasib, entah kondisi badan hari itu malah drop. Sehari sebelumnya saya memang memakan telur asin…yang rasanya sudah agak masam. Bodohnya, tetap saya telan dan akhirnya dapat penyakit yang sangat menyiksa kalau sedang traveling.

Diare.

Pagi itu, sesampainya di Changi, sepertinya saya sudah buang air dua kali. Sampai saya harus tiduran dulu di kursi karena habis muntah-muntah (duh, ada yang  jatuh ke lantai karena saya tak tahan saking mualnya. Maaf ya uncle/aunty yang bersihin nanti huhu)

“Pokoknya hari ini langsung ke hotel, eh, hostel dulu ya. Istirahat dulu.” kata saya lemas.

Tapi, Changi airport yang megah ini membuat saya sedikit lupa kalau saya lagi diare.

Jalan-jalan singapura
Permainan cahaya di Changi Airport
Kinetic rain Changi
Kinetic rain. Metal berbentuk air jatuh bergerak ke atas ke bawah perlahan seperti hujan

Tips di Bandara Changi : Banyak fasilitas gratis yang bisa digunakan seperti kursi untuk tidur-tiduran ini, mesin pijat,  tour gratis, dan lainnya. Jalan-jalan singapura bukan hanya changi, mulailah dari dalam bandara!

Snooze lounge changi
Snooze lounge di Changi. Istirahat dulu.
changi airport wifi
Changi ada Wifi gratis dimana-mana, juga ada komputer kalau yang butuh akses desktop

Setelah sedikit membaik, saya beranjak dari Changi menuju pusat kota. Saya memesan hostel di Kampong Glam, dekat Stasiun MRT Bugis. Untuk menuju kesana bisa langsung menaiki MRT yang ada di Bandara Changi. Dasar turis norak, saya bengong aja melihat itu mesin karcis tiket MRT, sampai ada aunty cleaning service yang datang membantu saya.

“Where to? Where?” katanya

“Bugis, for 2 people!” jawab saya

“$2.3 each..”

Saya memberikan lembaran 10 dollar kepada aunty itu. Ia dengan cekatan menggunakan mesin tiket yang ternyata touchscreen itu. Ternyata pakainya mudah, tinggal sentuh peta di layar stasiun yang kita tuju, atau ketikan nama stasiun, nanti akan langsung ketauan biayanya. Terus tinggal masukan uangnya deh, kalau ada kembaliannya bakal keluar juga kok hehe. Oh iya stasiun MRT changi bisa diakses dari terminal 2 dan 3, kalau kamu sedang di terminal 1, bisa naik skytrain gratis ini, daripada jalan kaki kan. Ini bandara gede banget soalnya gan!

skytrain changi airport
Skytrain antar terminal Changi
skytrain changi
Skytrain changi

Perjalan dari Changi menuju Bugis kira-kira 35 menit. Changi ada di pinggiran kota, tak banyak gedung tinggi sepanjang jalur Changi – Tanah Merah, masih ada rumah tunggal yang menapak di tanah. Berbeda ketika memasuki daerah kota, cuma ada hunian vertikal dimana-dimana. Banyak bendera singapura yang dipasang di depan balkon apartemen. Ternyata saya datang saat menyambut ulang tahun kemerdekaannya singapura!

bugis singapure
Jalan-jalan singapura dekat stasiun bugis

Saya masih sempoyongan untuk berjalan. Ternyata dari Stasiun MRT Bugis ke kampong Glam agak lumayan. Di google map menunjukan sekitar 700 meter berjalan kaki. Tak jauh memang. Tapi bagi saya yang sedang lemah letih lesu, ini adalah penyiksaan…

Kampong Glam

Saya tahu saya sudah tak jauh di Kampong Glam ketika sebuah masjid berkubah warna emas yang tertutup toko-toko orang Arab dan India terlihat dari jauh.

Kampong Glam pada zaman dahulu adalah bekas desa nelayan di tepi Sungai Rochor. Kampong dalam bahasa Melayu berarti ‘daerah pedesaan’. Area ini juga dikatakan dikenal dengan pohon gelam (atau Pohon Paperbark) yang tumbuh di sini dan digunakan untuk membuat kapal pada zaman dahulu. Banyak juga yang mengatakan bahwa Kampong Glam bermakna ‘glam’. Glamour, memesona.

Pada tahun 1822, Sir Stamford Raffles menghibahkan daerah tersebut kepada Sultan berkebangsaan Melayu, Sultan Hussain Mohammed Shah dan lainnya di komunitas muslim, termasuk pedagang Arab dan Bugis. Tak heran basis mereka ada di daerah Bugis sini.

Memasuki gang utama kampung glam, saya benar-benar terpesona dengan perpaduan rumah-rumah tua dan Masjid bernama Masjid Sultan di tengah-tengahnya. Kabar baiknya, penginapan saya hanya beberapa puluh meter dari pintu masjid.

bugis street singapura
Di Arab Street
backpacker-singapura-bugis-glam-changi-17
Salah satu pIntu masuk kampung glam
backpacker-singapura-bugis-glam-changi-28
Di sekitar kampong Glam banyak makanan halal, karena memang kebanyakan warga Arab dan India, juga Indonesia
backpacker-singapura-bugis-glam-changi-7
Haji Lane

Tak sulit menemukan makanan halal di Bugis. Di area sekitar kampung glam seperti Arab street, haji lane, Rochor Street, kita bisa temukan jenis makanan seperti Nasi biryani, Martabak, Kari, hingga Nasi padang. Buat yang suka belanja kain-kain, parfum, atau minyak-minyak arab dengan khasiat ‘memperbesar’  juga banyak sekali disini.

Masjid Sultan di Kampung Glam ini adalah yang terbesar, dan tertua di Singapura. Masjid yang didirikan tahun 1824 ini punya kubah emas yang sangat besar dan tempat shalat yang sangat luas. Di negara-negara yang saya kunjungi, saya selalu menyempatkan diri untuk sholat jumat di masjid lokal. Alhamdullilah saya bisa melaksanakannya di masjid Sultan ini.

Green Kiwi Backpacker Hostel

Hostel ini terletak di jalan utama menuju pintu depan Masjid Sultan. Tepat di jantung Bussorah street, Kampong Glam. Tahun 2015 lalu harganya sekitar 250 ribu rupiah pekasur. Lokasinya sekitar 10 menit berjalan kaki dari stasiun MRT Bugis.

kiwi hostel backpacker singapura
Pagi hari di Kampong Glam

Disini suasananya tenang karena jauh dari jalan raya besar. Banyak restoran dan kafe di sekitarnya. Yang saya suka dari hostel ini : Petugasnya ramah dan membantu, suasana lingkungan enak, dekat masjid, ada dapur, kamar mandi bersih, wifi kencang, dan sarapannya walaupun cuma roti dan selai, kamu bisa ambil sepuasnya.

green kiwi backpacker hostel
Penanampakan depan hostel

Yang kurang menyenangkan adalah kamarnya terlalu remang-remang dan bau ruangannya sedikit lembab. Mungkin dorm yang langsung menghadap jendela luar tidak demikian, tapi kebetulan saya hanya mendapat kamar di tengah dengan tanpa jendela.

green kiwi backpacker hostel
Di dalam dorm di lantai 2

Kalau kamu datang sebelum jam check in, kamu bisa menitipkan tas besar kamu disini, juga ada loker kecil dengan kunci jika ingin menyimpan barang-barang berharga. Sayangnya loker ini ada di lantai bawah, begitu juga kamar mandi. Sehingga harus turun dulu jika kita ingin mengambilnya.

Untuk tempat makan yang murah, daripada di restoran atau cafe, cobalah ke hawker (sekumpulan booth makanan yang dikumpul di satu area, food court) terdekat. Kalau di Bugis ada beberapa, salah satunya adalah hawker di depan Bugis Street Market. Ada puluhan tempat makan disini, termasuk makanan halal. Tiap stand makanan juga sudah di grade oleh pemerintah singapura. Biasanya ada stiket di depan outlet makannya. Food Hygiene Standards ini di rank dari A, B, C, dan D. Dengan grade A yang paling tertinggi. Yang A biasanya lebih mahal sih, hehe.

hawker singapura bugis
Suasana Hawkers
hawker halal di bugis
Barisan outlet hawker halal
Qiji restoran halal singapura
Qiji, restoran cepat saji halal

Ada juga makanan fast food singapura Qiji yang punya sertifikat halal. Menunya kurang lebih sama dengan hawkers. Si Qiji ini juga dekat dengan stasiun MRT Bugis.

Hari itu pun saya cuma berjalan-jalan sekitar Bugis saja. Berdasarkan hasil googling, minumlah yakult untuk mengobati diare. Ternyata betulan saya jadi lebih baik dan ternyata botol yakult di singapura gede-gede haha!

(Lanjut ke part #2 ya…..!)

 

14 COMMENTS

  1. Wah ceritanya jalan – jalan dengan adek ketemu besar tow Kak Wira? sip sip :-) foto di marlion nya mana tuh kak, apa part 2 nya? (maklum anak ndeso, hahahaha)

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')