Numpang Lewat Curug Sibedug

4

Dari Semarang saya menumpang mobil ke Pekalongan. Butuh dua jam saja melewati jalur pantai utara yang ramai sekali dengan truk-truk besar. Namun butuh satu setengah jam lagi ke atas untuk mencapai tempat yang kami tuju : Kawasan Ekowisata Petungkriyono.

Curug Sibedug Pekalongan
Curug Sibedug Pekalongan

Pekalongan biasanya memang dikenal dengan kota pengrajin batik yang punya cuaca panas terik. Namun ternyata di kabupatennya terdapat kawasan di lereng gunung yang sangat sejuk dan jauh dari polusi udara.

Petungkriyono sering disebut the heart of Java, karena kadar oksigen yang sangat berlimpah dibandingkan daerah lainnya.  Ada juga yang menyebutnya negeri di atas awan. Tak heran udara disini membuat paru-paru saya berterima kasih.

“Di daerah yang dinobatkan sebagai satu-satunya National Heritage Cultural Park ini terdapat banyak curug (air terjun) yang bisa kamu sambangi. Cantik buat selfie!”  kata Ibu Marlinda Irwanti, anggota komisi 10 DPR RI yang juga mengurusi pariwisata saat menyambut rombongan blogger dan media yang berkunjung ke kabupaten pekalongan ini.

Curug biasanya identik dengan trekking berat ke tengah hutan. Namun, perjalanan ke curug ini tidak perlu mengeluarkan keringat sama sekali karena lokasinya tepat di pinggir jalan yang bisa dilalui mobil. Walaupun kami harus menahan goncangan sepanjang perjalanan dari gerbang masuk kawasan karena jalan belum sepenuhnya mulus. Sibedug nama curug ini. Masih di daerah kawasan hutan ekowisata Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan.

Kondisi jalan dalam Petungkriyono

Sekelompok anak muda kurus berbaju hitam dengan rambut poni lempar memarkirkan motornya di bahu jalan saat mobil kami menepi. Mereka sedang berswafoto ria dengan latar belakang air terjun yang terlihat kembar tiga. Dua air terjun yang berdampingan dan cukup fotogenic ada di sebelah kiri, satu air terjun di sebelah kanan pojok terlihat tidak harmonis dengan si kembar di sebelah kiri.

Sepanjang perjalanan dari mulai masuk gerbang kawasan ekowisa Petungkriyono, jalanan sudah mulai menanjak tak santai. Hampir-hampir empat puluh lima derajat. Mobil rental yang kami sewa sudah mulai meraung-raung di gigi satu, namun beruntung saya tak perlu keluar dari mobil untuk mengurangi beban. Pastikan mobil yang kamu gunakan dalam kondisi yang prima.

Curug ini cukup menarik perhatian karena lokasinya sangat mengundang orang yang lewat untuk mampir. Beberapa warung kopi dan makanan ada di dekat curug ini makin menarik pengunjung untuk singgah. Apalagi kopi di Petungkriyono ini sebagian besar hasil budidaya masyarakat sendiri.

Tak perlu trekking lama-lama untuk kesini, langsung di pinggir jalan.

Di Hutan Petungkriyono ini adalah habitat beberapa primata langka seeprti Owa Jawa (hylobates moloch). Beberapa kawan saya dari mobil rombongan mengaku melihat seekor Owa Jawa sedang melintas di pepohonan tinggi Petungkriyono. Namun saya tidak beruntung untuk bisa melihat kera langka itu.

Hari ini hari libur, tapi selain kami, hanya nampak empat orang lainnya yang ada di dalam curug sehingga kami bebas berfoto. Mungkin karena curug ini hanya jadi tempat lewat saja, jadi memang tak terlalu banyak orang.

Banyak jembatan yang dilewati sepanjang perjalanan

Mendung mulai menggelayut, kami kelas kembali ke mobil untuk bersegera menuju curug satu lagi yang jauh lebih megah : Curug Bajang.

Namun mobil kami harus terhenti karena mobil truk sayur di depan mengalami kerusakan dan menghalangi jalan kami.

“Motor yang di depan rusak mas!” kata mas Wawan pengemudi mobil saya.

Saya tak melihat motor. Namun tak berapa lama saya sadar, orang di Pekalongan menyebut ‘mobil’ sebagai ‘motor’. Lha kalau motor disebutnya apa?

Next : Curug Bajing!

4 COMMENTS

  1. Pembangunan khusus spot foto di setiap tempat wisata saat ini hampir beragam dengan bangunan papan kayu dengan backgroundnya yang ciamik. Tapi keren sih ala instagramable. potensi wisatanya langsung terkenal.

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')