Semarang Night Carnival

16

Perjalanan panjang Kepulauan Togean – Ampana – Palu – Jakarta lewat udara hari itu mendaratkan saya di CGK pukul sepuluh malam. Saya bergegas mencari taksi online untuk menuju rumah saya yang berjarak setengah jam dari Bandara. Tak pakai basa-basi, koper berisi baju-baju basah dan kotor setelah trip diving itu saya ganti dengan baju bersih, karena esok pukul tiga pagi saya harus bangun dan mengejar penerbangan pertama ke SEMARANG!

Buat yang males baca, bisa nonton versi VLOG-nya dibawah ini eahh.

**

Perjalanan ke Semarang kali ini bukan untuk mengadakan kembali workshop #travelnblog yang pernah digelar beberapa waktu lalu. Saya dan beberapa kawan blogger yang juga diundang Dinas Pariwisata dan Badan Promosi Pariwisata Kota Semarang dijadwalkan akan menonton hajatan tahunan kota ini yaitu Semarang Night Carnival 2017. Sekaligus merayakan hari ulang tahun Semarang ke 470!

Saya tiba di Bandara Ahmad Yani Semarang pukul enam lewat tiga puluh pagi. Saya, Teh Nita, dan Mba Olin nampaknya adalah rombongan pertama yang tiba di Semarang. Karena rombongan yang lain masih lama datangnya, kami pun langsung dibawa ke tempat sarapan legendaris : Soto Pak Man. Soto Pak Man ini letaknya memang tak jauh dari Bandara. Mungkin hanya sekitar 10 menit saja. Makanya saya rekomendasikan kamu langsung kesini jika mendarat pada pagi hari.

Baca juga : Kalau punya Satu Hari di Semarang, Enaknya kemana saja ya?

Oh iya, soto khas semarang ini fitrah kuah-nya adalah dicampur ya gaes, jangan dipisah! Kalau dipisah, itu sama saja kamu makan nasi padang dengan sendok, bukan dengan tangan. Atau sama saja dengan orang yang makan bubur diaduk! #abaikan

Setelah melepas rindu dengan beberapa kawan blogger yang lama tak jumpa, berkenalan dengan mba Nina kawan blogger baru, kamipun bergegas pergi ke destinasi pertama tempat para saudara jauh kami : Goa Kreo. Karena Semarang night carnivalnya diadakan pada malam esok hari, jadi kami jalan-jalan dulu ke beberapa destinasi dan atraksi baru kota Semarang.

goa kreo
Sayang gak ada sepeda diatas ya, nyet?

Atraksi ini hanya ada pada hari sabtu dan minggu. Monyet-monyet ini diberi makan dengan cara yang cukup unik : panjat pinang ala 17an!

“Sebenernya atraksi memberi makan monyet-monyet ini juga membantu warga agar hasil kebunnya tidak diambil para monyet,” kata mas Wahid dari BP2KS.

Awalnya mereka malu-malu untuk memanjat. Tapi karena ada satu monyet yang mulai, barulah monyet-monyet lainnya menyusul. Mirip yah sama manusia, suka malu-malu gitu kalau pertama melakukan sesuatu. Lama-lama pun heboh jadi mirip perlombaan 17an betulan. Untung tidak diberi oli supaya licin ya bambunya, takutnya dikira eksploitasi hewan nanti hihi!

Makan siang kami, Ikan Nila segar dari Waduk Jatibarang

Di sekeliling Goa kreo terdapat Waduk Jatibarang. Selain sebagai tempat menampung air kota Semarang, Waduk itu juga berfungsi sebagai tempat wisata. Ada beberapa warung dan restoran yang bisa kita nikmati. Kita juga bisa memancing ikan di Waduk dan hasil tangkapan kita bisa dimasak. Itulah rencana awal kita. Namun karena langit sudah mendung, terpaksa kita langusung makan yang sudah jadi saja. Oke ini cuma alibi saja.

Hanya sekitar 10 menit berkendara, kami sudah sampai di Desa Jatirejo. Desa ini rupanya hanya sisi lain dari Waduk Jatibarang. Desa ini terkenal sebagai penghasil kolang-kaling. Kudapan yang biasa kita temui di bulan puasa.

Menumbuk Kolang Kaling

Disini kami belajar cara mengolah biji buah aren yang berbentuk seperti bola bekel berwarna putih susu yang keras menjadi biji putih transparan yang pipih dan empuk. Kami melihat proses akhir yaitu penumbukan. Beberapa Ibu-Ibu nampak sedang menumbuk biji-biji yang sudah melewati proses perendaman sehari semalam. Desa ini rupanya adalah salah satu pusat pengolahan kolang-kaling terbesar di Jawa Tengah. Ibu-Ibu ini pasti lembur ya kalau bulan puasa, hehe!

Setelah itu kami mencoba bermain Trabas, sebutan untuk offroad motorcross disini. Kami akan melewati kebun aren dan menyusuri punggungan sekitar Waduk Jatibarang. Baru kali ini saya menaiki motor di jalur offroad gunung dan rasanya sangat mendebarkan! Ngeri tapi seru, beberapa kali motor saya terperosok ke kubangan. Beberapa motor ada yang tak kuat menanjak membuat kami tertawa terpingkal. Namun akhirnya semua motor sampai di tempat penatapan Waduk Jatibarang dari atas. Sayang mendung tak mau pergi sore itu.

TRABAS alias offroad motorcross di Waduk Jatibarang

Malam harinya kami makan Nasi Branjangan di hotel tempat kami menginap, Hotel Pandanaran. Makanan yang biasa disajikan saat hajatan ini menarik perhatian saya. Nasi dengan lauk pauk sayur dan daging disajikan dengan alas daun pisang di meja panjang yang bisa memuat hampir 40 orang. Tanpa piring dan sendok. Saya cinta dan benci dengan cara makan seperti ini. Cinta karena makanannya enak-enak dan tentu menghadirkan kebersamaan yang erat. Benci karena saya tak sadar sudah berapa banyak makanan yang masuk ke perut. Saya baru sadar ketika mencoba untuk berdiri, kok rasanya yo susah sekali?

Nasi Branjangan hotel pandanaran yang panjang banget mejanya.

Setelah sarapan kami menuju Balai Kota untuk menghadiri resepsi ulang tahun semarang yang ke 470. Ada konser tunggal Surya Vista Orcheshtra. Orkes yang dikomandoi oleh Paulus Surya ini memaikan melodi -melodi dengan tema dunia. Mulai dari lagu Cina, Amerika, India, hingga lagu It’s my life-nya Bon Jovi. Eargasm!

Surya Vista Orchestra di depan Balai Kota Semarang

***

Keesokan harinya sebelum Semarang Night carnival dimulai, kami masih sempat main ke kawasan konservasi dan wisata mangrove di pesisir Semarang, tepatnya di Dusun Tapak. Disini kami melihat bagaimana usaha warga untuk mengotrol abrasi laut dengan mangrove.

Ada tiga jenis mangrove yang terdapat di kawasan ini. Rhizophora, atau lebih populer dengan sebutan bakau; Aveicenia atau mangrove api; dan satu lagi yaitu bruguiera. Jadi bakau itu adalah salah satu jenis mangrove, bukan nama lainnya.

Menyusuri Sungai di tengah hutan mangrove

Kami diajak berkeliling kawasan dengan perahu kecil bermuatan sekitar 7-10 orang. Menyusuri muara sungai yang dilindungi hutan bakau hinga berujung ke utara laut Jawa. Setelah melewati area pembibitan, kami juga sempat menanam mangrove di Pulau Tirang. Pulau yang sudah hampir lenyap karena reklamasi daratan di pinggir kota. Semoga pesisir semarang tetap lestari yaa..

Menanam mangrove

Setelah makan siang kepiting, udang, dan ikan bandeng hasil laut desa tapak di restoran rumahan warga yang bernama Home Resto Putri ini, kami bersiap kembali ke hotel dan menuju tempat acara Semarang Night Carnival 2017!

Home Resto

Tapi sebelumnya, makan sore dulu di Semawis! Pukul lima sore pedagang di Semawis belum membuka tenda-tendanya. Tapi ada salah satu tempat yang sudah buka. Namanya terdengar agak aneh : Sekretariat Warung Semawis.

Semawis? Yo wesssss…

Kami mulai makan. Awalnya saya menggerutu, kok dikit amat porsi makannya? Haahahaa! Namun ternyata, porsi-porsi kecil ini bertambah terus hingga beberapa ronde. Dimulai dari Ayam tim isi telur jamur, lumpia cap go meh, tahu gimbal, kembang tahu, dan beberapa pilihan desert seperti jamu jun dan es congli…gagal diet gue inihhhhh!!

2 dari 7 hidangan di Sekretariat Warung Semawis

Sesampainya di venue acara Semarang Night Carnival, saya langsung mengambil kursi paling depan. Selagi dapet undangan VIP, saya tak mau menyiakan kesempatan untuk memotret dari dekat. Walaupun pada akhirnya kalah sama wartawan yang pada maju ke depan sih haha. Pak polisi pun kewalahan untuk menertibkan barisan depan ini agar tidak menghalangi penonton yang lain.

Siap-siap di depan panggung

Hiasan payung berwarna warni nampak di atas panggung utama karnaval. Tema Semarang Night Carnival kali ini adalah “Paras Semarang” yang menggambarkan semarang dengan berbagai macam defile (parade). Mulai dari defile burung Blekok, burung khas Semarang. Hingga defile bunga-bunga, dan defile kuliner Semarang.

Marching Band

Karnval dibuka dengan mas-mas marching band AKMIL yang ganteng-ganteng tapi pada nahan senyum. Kenapa sik gak senyum aja mas? Pasti ordernya gak boleh senyum ya? Hahaha. Para taruna AKMIL ini memainkan marching band yang dipimpin oleh seorang orkestra. Mereka memainkan lagu-lagu nasional dan daerah yang dibawakan dengan beat perkusi march yang gagah gempita.

Luar biasa kostumnya..kayaknya mas nya butuh spion biar gak nabrak pas belok… :))

Selain itu ada juga defile lampion khas Tionghua yang juga banyak ditemui di kota Semarang. Semawis, tempat makan kami sebelum ini adalah daerah Pecinan Semarang. Defile dari beberapa daerah lain seperti Sawah Lunto di Sumatera Barat dan defile dari luar ngegeri seperti Thailand, Taiwan, Srilanka, dan Korea Selatan yang menjalin sister city dengan Semarang.

kostum lampion

Dari kantor pos di titik kilometer Semarang, karnval akan berjalan ke Balai Kota. Para warga sangat antusias untuk menyaksikan acara tahunan ini. Tak mudah untuk jadi peserta karnaval ini. Karena berat kostumnya sendiri bervariasi antara 5-10 kilogram dan jarak dari kantor pos ke balai kota sektiar empat kilometer. Wuih! Salut dengan para peserta karnaval ini!

Mengakhiri karnaval, band live yang mengiringi pembukaan parade menutup dengan lagu gembang suling versi pop. Walikota Semarang pun ikut menyalami para undangan termasuk para blogger. Terima kasih Semarang. Selamat ulang tahun ke 470!

– –

16 COMMENTS

  1. Acaranya bagus banget ya. Kostumnya keren, ngefans bgt sama sayap-sayapnya yang juga ga kalah keren sama sayapnya model pakaian dalam toko sebelah. Tahun depan semoga bisa datang kesini lagi, tapi selanjutnya yok JFC dulu, Mas. 😊

  2. Dua hari sebelum carnival juga gue ke Semarang, yang paling asik sih pas berkunjung ke Goa Kreo, monyetnya itu loh nakal-nakal nggemesin hahaha. Sempet ketemu juga sama raja monyet disana.

  3. Liat kolang kaling kok langsung udah merasa bulan ramadhan aja.

    Dulu pernah juga liat langsung proses kolang-kaling, itu aslinya gatel kalau proses perendaman tidak tepat dan keahlian khusus. kalau salah sedikit bisa jadi juga keras.

  4. Acaranya seru banget tuh.. semua kostumnya keren-keren, apalagi sayap-sayapnya.. beuhh.. keren abiss, harapannya tahun depan bisa kesini dah…moga-moga aja ada waktu lagi…

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')