• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar

Wira Nurmansyah

Inspiring Indonesia to Travel the World

  • Home
  • About
  • Indonesia
  • World
  • Tips
  • Review
You are here: Home / Travel Story / Beyond Indonesia / Prasae : Teduhnya Desa Nelayan di Pesisir Tenggara Thailand

Nov 02 2015

Prasae : Teduhnya Desa Nelayan di Pesisir Tenggara Thailand

golden mangrove rayongLupakan riuh Bangkok sejenak. Arahkan kakimu dua ratus kilometer ke tenggara hingga menuju pesisir. Adalah desa Prasae, sebuah desa nelayan di provinsi Rayong — sebuah provinsi yang langsung berbatasan dengan Teluk Thailand –, yang akan kami kunjungi saat itu. Desa ini adalah antitesis dari Bangkok: tak ada suara bising, waktu terasa berjalan lambat, dan yang paling penting : tak ada turis lain kecuali kami.

Kami menggunakan mobil sewaan untuk menuju kesana, melewati jalan tol Sukhvumit road kurang lebih tiga hingga empat jam untuk sampai disana. Memasuki provinsi Rayong pada siang hari, kami sempat berhenti di sebuah resort di tengah hutan yang lumayan lebat.

Tamnanpar Resort, terletak di dalam hutan yang ternyata hutan buatan yang sangat teduh, ada kolam-kolam berisi ikan koi besar berwarna-warni, hingga air terjun yang membuat suara-suara gemercik air yang merdu.

rayong-thailand-tbex-what-to-do-1-2
Untuk masuk ke restoran resort tamnampar kami harus berjalan beberapa puluh meter melewati kolam-kolam dibawa rindangnya pohon.

Setelah berjalan zig-zag melewati jalan setapak di pinggir kolam kami pun sampai di restoran yang didominasi kayu dan batu. Di tengah-tengahnya ada semacam spray air untuk mengesankan seperti di dalam hutan hujan yang basah.

tamnanpar restoran rayong thailand
Di dalam restoran tamnanpar resort

Jangan tanya makanannya. Makanan thailand tak pernah salah. Entah itu di pinggir jalan ataupun di restoran yang sangat kece seperti ini. Ada kaki kepiting rebus, cap cay, udang bakar raksasa, bebek panggang madu, salad saus thailand, ayam bumbu rempah, dan segala macam yang saya tak tahu namanya. Maknyus!

Tamnanpar resort restaurant
Selamat makan!

Setelah perut hampir tak bisa lagi menampung makanan, kami pun beranjak dari tamnanpar dan menuju ke Songsalueng natural agriculturan centre. Kalau kamu pernah main game ‘harvest moon’, tempat ini sangat tak jauh berbeda dengan game tersebut. Sebuah pertanian dan peternakan yang sangat memaksimalkan potensi alam yang natural. Semuanya terhubung satu sama lain. Singkat kata, tak ada yang dibuang.

Somsak Khruewan, pemilik lahan ini sendiri yang mengajak kami berkeliling pertaniannya. Mulai dari ikan lele, bebek, babi, ayam, hingga beberapa perkebunan yang pupuknya berasal dari hewan-hewan miliknya. Pak Somsak ini lucu sekali ketika menjelaskan, walaupun dengan bahasa thailand sih. Tapi dari ekspresinya saya menangkap dedikasi yang sangat tinggi untuk melaksanakan salah satu Royal Project dari pemeritah thailand ini.

“Saya sudah 26 tahun melakukan ini untuk komunitas sekitar sini agar bisa mandiri,” katanya mantap.

..
Uncle Somsak yang berbaju biru. Orangnya selalu lucu dan ceria.

The Golden Mangrove

Memasuki desa Prasae, kami disambut oleh segorombolan Saleng — sebutan becak motor khas Rayong — untuk langsung menuju Tung Prong Thong, sebuah kawasan hutan mangrove di Taman Nasional Khao Laem Yai yang luasnya hingga 2400 hektar di sepanjang pesisir Prasae. Di tengah-tengahnya terdapat jembatan kayu yang membelah mangrove sehingga ada jalan untuk para wisatawan masuk.

Di salah satu sisi hutan, ada bagian dengan jenis mangrove yang sangat pendek, dan berdaun hijau keemasan. Ketika terkena sinar matahari, daun-daun mangrove ini akan memantulkan cahaya matahari sehingga warna emas akan terpantul jelas!

Kami menyusuri jembatan kayu di dalam hutan yang lebat beberapa puluh meter. Tak lama kemudian hutan yang lebat seketika berubah menjadi area terbuka. Jembatan kecil yang lebarnya hanya satu meter pun berubah menjadi panggung kayu sebesar dua kali lapangan bulutangkis untuk menikmati hamparan golden mangrove ini.

Sayangnya, hari itu hujan.

Naik Saleng
Naik Saleng
golden mangrove thailand rayong
Hujan di Golden mangrove, jadi tidak terlihat golden-nya
golden mangrove thailand
Mb blogger dari Jepang ini sepertinya pertama kali melihat hujan ya..
Hujan tapi tetap ceria
Hujan tapi tetap ceria. Photo by Kook W. Yong
golden mangrove thailand rayong
Beruntung punya ojek payung pribadi.

Akhirnya kami sepakat untuk kembali keesokan pagi kesini. Beruntung, langit cerah pagi itu :)

Hello sunshine
Hello sunshine
Selamat pagi!
Selamat pagi!
Golden mangrove
Golden mangrove

rayong-thailand-bangkok-tbex-69

Pagi yang indah bersama kawan-kawan blogger
Pagi yang indah bersama kawan-kawan blogger

Perjalanan dilanjutkan kembali dengan Saleng. Saya menumpang Saleng kepunaan Paman Phi la. Seorang nelayan yang sehari-hari juga mengantar turis dengan becak motor ini.

“Saya pernah ke Indonesia, naik kapal saya dan masuk lewat Batam. Di Indonesia banyak sekali sepeda motor, ya?” katanya.

Saya cuma tertawa :))

Sambil berjalan menuju homestay kami sempat berhenti di Jembatan Prasae untuk sedikit berfoto
Sambil berjalan menuju homestay kami sempat berhenti di Jembatan Prasae untuk sedikit berfoto
Jembatan Prasae
Jembatan Prasae

BAAN CHANSAMUT HOMESTAY, makan malam di atas kapal

Kami menginap disini homestay ini. Dari luar memang terlihat sederhana, tapi ketika masuk kedalam ternyata homestaynya cukup luas. Ruang tengah homestay ini adalah dermaga, langsung di pinggir sungai sehingga kapal langsung bisa merapat persis di depan homestay. Karena saya masuk paling akhir, saya dapat kamar sisa dengan 10 buah tempat tidur haha. Namun, saya lihat setiap kamar punya AC dan sangat bersih. Tak ada hotel disini, dan kabarnya sih ini adalah salah satu homestay yang terbaik di Prasae.

Makan malam pun dilanjutkan dengan naik ke atas kapal sambil menyaksikan sunse dan makan malam yang didominasi makanan laut yang segar. Lupaka kolesterol sejenak hehe. Sayang, sehabis hujan jadi cuaca sendu. Namun, saya sangat menikmati bau sehabis hujan. Petrichor :)

Baan Homestay
Baan Chamsamut Homestay
Kamar untuk group untuk saya sendiri..
Kamar untuk group untuk saya sendiri..

 

Our faboulus dinner
Our faboulus dinner

Malam pun berlanjut dengan obrolan random sepanjang malam di teras homestay. Hey, i really missed you guys!

Pagi hari di Desa Prasae

Rasanya saya bangun paling pertama. Mengunjungi tempat baru selalu membuat kita excited, bukan? Hampir setiap tempat yang saya datangi, saya pasti pergi ke pasar lokal. Entah mengapa, mungkin saya cuma senang jajan hehe. Beruntung pasar pagi di Prasae hanya beberapa ratus meter dari homestay, saya dan beberapa kawan pun berjalan kesana.

Sepanjang jalan di Desa ini rumah-rumah terlihat terbuat dari kayu. Warna cat pun kebanyakan warna yang senada dengan warna bumi. Di atas jalan terlihat kertas warna-warni untuk menghias jalanan, seperti bendera merah putih mungil yang biasa dilihat saat 17an. Beberapa bangunan tua terlihat berdiri disini. Suasananya tenang, jalanan sangat bersih, tak ada mobil melintas, hanya satu-dua sepeda motor yang melewati kami. Ini juga kali pertama saya melihat biksu yang sedang menerima makanan dari para warga, dan mereka membalasnya dengan mendoakan langsung si pemberi di tempat.

Tak lama saya betemu dengan pasar. Waktunya jajan!

what to do prasae thailand
Van kami yang parkir depan homestay (warna biru)
what to do prasae thailand
Prasae Village
what to do prasae thailand
Di Pasar Prasae
what to do prasae thailand
Offering to the monk
rayong-thailand-bangkok-tbex-74
Sarapan pagi saya : Khanom Chin, Mie tipis dari beras yang di fermentasi dan disiram dengan kuah yang bisa kita pilih. Mulai dari kuah kari hijau, kuah kacang manis, dan segala macam kuah olahan seafood. Hamdallah gak ada babi.
rayong-thailand-bangkok-tbex-77
You never have too much thai food. Enak banget ini mie!
rayong prasae
Perut kenyang hati senang. Photo by Kook W. Yong
what to do prasae thailand
Heartwarming scene in the morning.

Saya sangat menikmati Desa Prasae di provinsi Rayong ini. Suasananya tenang dan santai, tak banyak turis, orannya sangat ramah, dan yang paling penting makanannya enak-enak! Saya hanya menghabiskan dua hari disini, jadi ada alasan untuk kembali kesini suatu saat.

Terima kasih!

—

p.s. Terima kasih untuk Tourism Authority Thailand yang berbaik hati mengantarkan saya ke desa kecil yang cantik ini!

Written by wira · Categorized: Beyond Indonesia, South East Asia, Thailand, Travel Story · Tagged: bangkok alternative, golden mangrove, rayong, thailand

Reader Interactions

Comments

  1. Akarui Cha says

    2 Nov ’15 at 11:29

    Golden mangrove nya cantik sekali.

    Reply
    • wira says

      2 Nov ’15 at 11:35

      Iya betul, cantik sekali, cocok buat foto-foto selfie :)

      Reply
  2. cumilebay.com says

    2 Nov ’15 at 11:40

    Ojek payung nya cantik, jadi dah pindah kelain hati ????

    Reply
    • wira says

      2 Nov ’15 at 11:41

      Aku tetep di hatimu mas cum, gak akan pindah wkwkwk.

      Reply
  3. imamalavi says

    2 Nov ’15 at 13:08

    belum pernah liat mangrove selucu ituu :3

    Reply
    • wira says

      2 Nov ’15 at 17:13

      ahahaaha makasih kak aku emang lucu :3

      Reply
  4. mysukmana says

    2 Nov ’15 at 14:07

    menurut saya saya pengen kepitingnya sama capjay nya mas..sukak banget.. :) selera saya bener itu #shakehand

    Reply
    • wira says

      2 Nov ’15 at 17:13

      juara banget itu kepitingnya mba beneran deh :))

      Reply
  5. fathur says

    2 Nov ’15 at 18:20

    kangen jalan jalan sama wira….

    Reply
    • wira says

      2 Nov ’15 at 19:43

      Iya yah om dah lama banget kita gak jalan bareng :)

      Reply
  6. irfanifan says

    3 Nov ’15 at 10:47

    aku ga pernah kamu ajak mas :(

    Reply
    • wira says

      4 Nov ’15 at 10:15

      aku juga ga pernah kamu ajak mz :(

      Reply
  7. ardigunawan44 says

    4 Nov ’15 at 14:17

    Gan numpang promo, kali aja ada yang minat

    halooo travel blogger..

    yang mau blognya bisa mendatangkan revenue, monggo dicek nih, ada affiliasi yang keren dan tentu banyak advertiser yang mantap lohhh

    http://blog.accesstrade.co.id/news/kumpulan-campaign-afiliasi-yang-cocok-untuk-blog-travel/

    Reply
  8. Christian | Lakad Pilipinas says

    4 Nov ’15 at 17:05

    Most importantly, we had the whole place to ourselves! Fun fun fun trip!

    Reply
  9. Fathoni says

    5 Nov ’15 at 21:11

    Asik banget tempatnya, jadi pengen jalan-jalan kesana, tapi mahal diongkos nih, huhuhuhu

    Reply
  10. dinilint says

    10 Nov ’15 at 14:06

    yaolo mas,,,, aku laper bacanyaaaa

    Reply
    • wira says

      11 Nov ’15 at 08:06

      Sambil makan mba bacanya huaahaha

      Reply
  11. Samsul Arifin says

    19 Nov ’15 at 09:00

    Indah banget pemandangannya… ternyata kampung di thailand juga sama aja dengan indonesia… tapi lebih bersih :-)

    Reply
  12. pewangilaundryterbaik says

    2 Feb ’17 at 08:55

    indahnya dunia,.. dengan berbagai macam pemandangan yang menarik. kaya akan budaya dan bahasa. top

    Reply

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')Cancel reply

Primary Sidebar

Follow Us

  • YouTube
  • Instagram
  • TikTok

Popular Post

  • 5 Kejanggalan dalam Pendakian Film 5cm
  • 5 Tips (lagi) untuk Fotografi Landscape!
  • Baru Pertama Kali ke Luar Negeri? Ini 5 Tips Jenius Agar Traveling kamu Aman dan Nyaman!
  • Selain Boba, Inilah 5 Hal yang Bisa Kamu Nikmati di Taiwan!
  • Review Backpack : Deuter ACT Lite 40

Categories

  • Bali & Nusa Tenggara
  • Beyond Indonesia
  • Camera Review
  • Culinary
  • Europe
  • Flight report
  • Foto Favorit
  • Giveaway
  • Guest Post
  • Hiking & Trekking
  • Hong Kong
  • Hotel & Resort
  • Indonesia
  • Japan
  • Jawa
  • Kalimantan
  • Malaysia
  • Maluku & Papua
  • Media Trip
  • Photo Tips
  • Photoessay
  • Review
  • Saudi Arabia
  • Singapore
  • South East Asia
  • South Korea
  • Sponsored (adv)
  • Sulawesi
  • Sumatera
  • Taiwan
  • Tearsheet
  • Thailand
  • Thought
  • Tips
  • Travel Story
  • Travel Tips
  • Travel Video
  • Workshop

Copyright © 2026 · Altitude Pro on Genesis Framework · WordPress · Log in

 

Loading Comments...