
Saya tercengang ketika pertama kali masuk ke terminal penumpang Gapura Surya Nusantara (GSN) di dalam area Pelabuhan Tanjung Perak kota Surabaya ini. Ini pelabuhan apa bandara? Kok keren amat?
Kalaupun ini Bandara, kondisinya benar-benar membuat Bandara Soekarno Hatta feels like a joke. Haha! Desainnya interiornya modern, ruang tunggu nyaman, ada wifi yang kencang (cukup ini saja penumpang kayak saya udah senang), ada garbarata, dan ada tempat nongkrong di rooftop pelabuhan dimana kita bisa ngopi-ngopi cantik sambil melihat kapal PELNI hingga kapal yacht lalu lalang.
Di tempat yang ada tulisan besar “Surabaya North Quay” ini juga dihiasi rumput sintetis plus bean bag kalau kita mau leyeh-leyeh. Tempat ini dibuka untuk umum tidak hanya untuk penumpang kapal. Tapi ingat gaes, kalau siang bolong pikir-pikir juga naik kesini karena panasnya Surabaya kamu pasti tahu lah hihi.


Mungkin saja kalau kamu pengen murah ke Raja Ampat, kamu bisa naik kapal PELNI dari pelabuhan yang masih bagian dari Tanjung Perak ini loh! Tapi yah, memang memakan waktu sih. Tapi kalau kamu lagi santai dan liburan panjang (apalagi mahasiswa kere tapi pengen liburan), kapal ini bisa jadi transportasi jarak jauh alternatif.




Bicara tentang liburan, Pelindo III, perusahaan negara yang memegang pelabuhan di Indonesia, juga turut membantu infrastrukur pariwisata maritim yangg terintegrasi di Banyuwangi, Bali, dan Labuan Bajo.
Kawasan-kawasan ini dilengkapi fasilitas marina untuk sandar yacht (kapal layar wisata) internasional. Bali dan 3 destinasi unggulan Indonesia bisa diakses dari pelabuhan yg dikelola Pelindo III, yakni Bali – Pelabuhan Benoa, Borobudur – Tj Emas, Bromo Tengger Semeru – Tj Perak & Tj Tembaga, Mandalika – Lembar, Labuan Bajo – Komodo Marina.
Ah, jadi pengen beli yacht buat ngajak jalan-jalan kamu :’)
Ehm.
Naik Kapal Wisata Melintasi Selat Madura
Masih di Pelabuhan Tanjung Perak, saya dan kawan-kawan blogger yang diundang PT. Pelindo 3 untuk jalan-jalan di sekitar pelabuhan ini pun menaiki sebuah kapal Cruise bernama Artama 3. Walaupun dari luar nampak seperti kapal biasa, namun dalamnya kurang lebih mirip yacht!

Kapal ini hanya ada pada hari minggu dari jam 9 hingga jam 11 siang dengan tarif per orang 120 ribu rupiah. Rutenya mulai dari Pelabuhan Tanjung Perak, Terminal peti kemas, Cagar budaya Bangunan kesyahbandaran Surabaya, Monumen Jalesveva Jayamahe, Jembatan Suramadu, kemudian putar balik menuju Tanjung Perak kembali. Kita bisa melihat aktivitas kapal-kapal dari dekatKamu bisa ke website mereka jika ingin informasi lebih lanjut.

Menit-menit pertama di kapal ini saya habiskan di atas deck kapal. Berhubung semakin panas, saya pun pindah ke bawah yang lebih mirip cafe daripada kabin kapal. Sepanjang perjalanan akan diputar tentang informasi panduan tempat-tempat yang dilewati seperti pelabuhan peti kemas Surabaya yang berstandar Internasional.
Saya juga mengobrol dengan salah satu staff Pelindo 3. Ia sempat bercerita bahwa pernah suatu waktu ongkos mengirim barang per unit bisa lebih murah Jakarta ke Eropa daripada Jakarta ke Ambon. Hah? Gile. Well, katanya nenek moyang kita seorang pelaut, kan? Tapi seberapa tahu kita tentang pelabuhan?
Namun, nampaknya fokus kami sedikit berubah dulu ketika salah satu crew menawari kami, “Mau karaoke nggak?”
Seketika party mode ON! Hahaha!


Ketika melewati monumen Jalesveva Jayamahe, kami semua beranjak ke atas. Monumen yang berbentuk sosok Perwira TNI Angkatan laut lengkap dengan pedang kehormatan yang melihat ke arah laut siap menantang gelombang dan badai di lautan ini yang berjaya di lautan ini menceritakan slogan TNI angkatan laut : “Di Lautan Kita Jaya!”



Sepanjang pelabuhan saya melihat peran Pelindo 3 dalam membangkitkan potensi maritim Indonesia. Daya saing bangsa tentunya akan meningkat jika tidak terbebani biaya logistik. Untuk itu Pelindo III mengembangkan sejumlah terminal modern di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, yakni Terminal Petikemas Surabaya yg berstandar internasional. Ada juga Terminal Teluk Lamong yang beroperasi secara semi-otomatis, sudah tak perlu operator di atas crane dan tak boleh ada manusia yang masuk saat beroperasi membuat area ini jadi tanpa kecelakaan yang tak perlu. Ditambah lagi JIIPE (Java Integrated Industrial and Port Estate) yang sedang dibangun sebagai kawasan industri yang efisien karena terintegrasi dengan fasilitas pelabuhan.
Semua usaha tersebut dikerjakan oleh Pelindo III utk terus meningkatkan integrasi logistik di Tanah Air agar terjadi keseimbangan antara kawasan barat dan timur Indonesia. Karena Surabaya merupakan titik kebangkitan maritim Indonesia yg menjadi jembatan di tengah Nusantara.



Terima kasih!
…bersambung ke post berikutnya.
—
Leave a Reply to YudiCancel reply