Fotografer. Kalau dipikir-pikir kita memang agak aneh, bukan?
Kita tidak bisa berhenti. Kita berlari saat yang lain berjalan. Kita bekerja saat yang lain sedang bersantai. Kita tidak kenal yang namanya weekend, hari libur, bahkan tidak kenal waktu, kecuali itu berhubungan dengan sunrise atau sunset.
Ketika ada pertandingan sepak bola di TV, kita tidak melihat pertandingannya. Kita melihat ke pinggir lapangan dan memperhatikan teman-teman kita memotret dan menghitung berapa jumlah lensa panjang yang berwarna putih atau hitam.
Kita berjalan seperti orang yang kebingungan, melihat ke hal-hal aneh, berkeliaran di antara aktifitas orang-orang, berharap dapat diterima oleh mereka, menghilang perlahan, lalu mengantisipasi hal yang hampir tidak mungkin terjadi Rasa ingin tahu yang luar biasa.
Kebanyakan orang mengira kita adalah orang-orang aneh dan memberi tahu anak mereka untuk menjauh dari kita.
Kepala kita gerakan mengikuti mata dalam viewfinder, memencet tombol di kamera-kamera mahal yang brengsek itu, memperhatikan orang-orang yang aneh, menanyakan pertanyaan aneh, dan menunggu cahaya.
Betapa hal yang aneh untuk ditunggu. Kita juga punya mata yang sulit dikontrol, tidak pernah puas, tidak pernah istirahat, selalu melihat sekeliling bahkan tidak pernah mati. Mata yang sering terframe oleh lensa 35mm, mata yang menyatu dengan 24-70, atau sebuah 200-400, tergantung apa yang mereka temui.
Phew.
Leave a Reply to geblekCancel reply