
Masih jauh gak, mas?” ucap kawan saya. Ia nampak sangat kelelahan dengan ransel besar yang dibawanya. Tidak heran, baru kali ini dia mendaki gunung.
“Sedikit lagi,” ucap saya menghiburnya, walau sebenarnya masih jauh.
Secara fisik anggota tim kami waktu itu bisa saya katakan cukup kuat, karena kami cukup sering bersepeda jarak jauh. Tetapi kekuatan mental ternyata sangat berpengaruh besar dalam pendakian.
Taman nasional gunung gede pangrango adalah taman nasional yang paling sering dikunjungi di Indonesia. Wajar, karena letaknya berdekatan dengan kota-kota besar Jabodetabek. Untuk mendaki gunung gede, harus dilakukan pendaftaran terlebih dahulu di website taman nasional
Hijaunya hutan tropis jalur cibodas membuat paru-paru saya berterima kasih. Udara yang segar dan bersih, serta hijaunya dedaunan khas hutan tropis Indonesia memanjakan saya selama perjalanan. Suara kicauan burung yang merdu, suara air sungai yang mengalir, dan suara angin yang berhembus menjadikannya sebuah simfoni kehidupan yang syahdu.
Hutan di jalur cibodas termasuk hutan yang cukup lebat. Sungai mengalir hampir sepanjang perjalanan, membuat para pendaki tidak kekurangan air minum.
Telaga biru

Langkah saya terhenti disini. Bukan karena kelelahan, tetapi karena terkesima dengan danau kecil nan cantik ini. Telaga biru, dinamakan demikan karena telaga ini berwarna biru-kehijauan. Setelah saya perhatikan, warna biru ini timbul karena banyak ganggang biru yang tumbuh disana.
Ikan-ikan berukuran besar hidup di telaga biru, saya melihat ikan mas berukuran hingga 30-50 cm berenang dengan tenangnya disana. Sinar mentari menembus pepohonan yang rindang menambah irama dalam kesunyian telaga. Buat yang mencari ketenangan, tempat ini sangat saya rekomendasikan.
Setelah telaga biru, saya bertemu persimpangan. Kanan ke curug cibereum, kiri untuk melanjutkan jalur pendakian.
Pos air panas
Dua jam berjalan setelah telaga biru, saya disambut oleh kepulan asap. Ya, ini adalah sumber air panas alami yang berasal dari kawah gunung gede. Setiap pendaki yang lewat jalur cibodas harus menyusuri jalur ini.
Sensasinya luar biasa, kita diharuskan menyebrangi air terjun panas dengan berpegangan ke tali. Batu-batu di aliran air panas sangat licin. Tunggulah jalur kosong baru kita lewati, jangan sampai berpapasan karena sangat berbahaya.
Di shelter setelah air panas, saya melihat beberapa anak kecil sedang bermain-main di sungai air panas. Agak kaget juga ada anak kecil yang sudah bisa naik ke gunung, tetapi wajah-wajah mereka sangat bahagia.
“Teruskan hobimu ini nak, tetapi jadilah pendaki yang bertanggung jawab atas perbuatannya, janganlah merusak alam Indonesia yang indah ini. Supaya anak cucu kalian kelak juga bisa menikmatinya,” benak saya dalam hati.
Kandang batu dan Kandang badak
Sepanjang perjalanan menuju puncak gede, hutan mendominasi. Banyak pohon yang tumbang disini, mungkin karena badai pada musim hujan lalu. Dari sini kami diguyur hujan lebat hingga kandang badak. Ada teman yang kondisinya drop disini. Jiwa porter saya pun keluar dan akhirnya saya membawakan ranselnya hingga kandang badak.
Luar biasa, membawa dua carrier hujan-hujanan dalam hutan sambil nanjak itu sesuatu banget haha.
Sesampainya di kandang badak, tenda langsung didirikan di tengah hujan. Dan hingga malam tiba pun hujan tidak berhenti turun. Kami cuma bisa berdiam di tenda, berharap esok hari cuaca cerah
Summit attack
Subuh saya terbangun, melihat ke atas, bintang bertaburan. Segera saya membangunkan teman-teman untuk naik ke puncak. Tanjakan setan kami lewati dan akhirnya keluar dari hutan. Ini adalah pandangan pertama kami ketika keluar dari hutan. Subhanallah.


Dari atas puncak gunung gede, terlihat jelas kota di sekelilingnya. Sukabumi, Cianjur, dan Cibodas terlihat jelas. Eksotisme padang surya kencana sudah terlihat dari puncak, sayang kami tidak sempat untuk mengunjunginya.




Gunung gede menyimpan sejuta pesona keindahan. Flora dan fauna sangat beragam disini. Pohon rasamala berumur ratusan tahun banyak dijumpai disini, kami juga berjumpa dengan owa jawa dan beberapa jenis burung.
Tetapi sayang, masih ada pendaki yang belum disadarkan dari kekhilafannya. Masih ada yang membuang sampah sembarangan, apalagi di pos-pos. Saya melihat banyak sampah plastik di dekat mata air kandang badak. Sungguh sangat disayangkan.
Sudah sepatutnya kita sebagai manusia untuk menjaga alamnya sendiri. Paling tidak, janganlah meninggalkan apapun di alam bebas. Jangan mengambil apapun kecuali foto dan jangan membunuh apapun kecuali waktu.
Salam lestari!

Leave a Reply to wiranurmansyahCancel reply