Menculik Cinta di Desa Sade

38

sade

Bulan purnama sudah muncul. Warga desa sudah kembali beristirahat di rumahnya masing-masing, hanya ada beberapa jangkrik yang masih sibuk bersahutan.

Di sebuah lumbung padi tua milik seorang kepala desa suku Sasak, ditemani sebatang lilin, Iman bersama seorang sahabatnya Udin, mengintai sebuah rumah dari lubang kecil.

“Aku tahu biasanya dia akan keluar sekitar jam ini untuk mengambil air,” Iman berbisik kepada kawannya.

“Baik, nanti kalau dia keluar, aku akan alihkan perhatian dia, lalu kau siap-siap dari belakang,” ujar Udin.

Iman tersenyum penuh kemenangan. Sudah lama ia menantikan momen ini. Malam ini, ia ingin sekali bertemu dengan seorang gadis pujaannya, Uci, anak seorang kepala Desa.

Iman adalah seorang pemuda gagah dari Desa Sade. Kulitnya legam, perawakannya seperti orang timur tengah, tapi dengan rambut pendek ikal. Iman hanya rakyat desa biasa. Sehari-hari pekerjaannya mengantarkan turis berkelilng desa ini.

Namun, sejak kecil ia jatuh hati kepada Uci. Uci adalah seorang gadis manis dan mungil berkulit putih. Senyum uci yang merekah bagai bunga matahari yang baru mekar selalu membuat Iman melayang-layang. Dan malam ini, Iman berencana untuk menculik Uci.

Menculik? Hey, apa yang sedang ia pikirkan!?

***

Nenek penjual kain tenun Sade
Nenek penjual kain tenun Sade

Sayup sayup cahaya bulan meredup. Malam makin dingin, namun Uci tak juga keluar. Iman semakin tak karuan menunggu.

“Eh, kok lantainya licin ya? Baunya agak aneh pula?” tanya kawan Iman.

Suasana hening sejenak.

“AAAAAAAAAAAAA,” Iman dan kawannya berteriak, namun secara spontan mereka menutup mulut masing-masing.

“Sial! Aku lupa lantainya baru dibersihkan dengan kotoran Sapi tadi sore, masih belum kering,” kata Iman.

“Konyol kau! Ah, ayo kita keluar saja,” sungut kawannya

“Ehhhhhh, janganlah dulu. Bernapas saja dengan mulut. Aku kan sudah menolongmu menculik Mumun, bantu aku sekali ini saja,” kata Iman dengan muka mememelas.

“Baiklah. Tapi, aku masih heran, kenapa kotoran sapi? Semen untuk bagun lantai rumah pun dicampur kotoran sapi biar kuat. Masih harus dipel dengan kotoran sapi lagi?” tanya kawan Iman.

“Ah kau ini. Ini tradisi desa kita. Karena kotoran kerbau atau sapi tidak bisa bersenyawa dengan tanah liat yang ada di dusun ini, maka materi campuran ini berfungsi sebagai zat perekat. Lantai rumah tak akan menjadi lembab. Selain itu juga bisa menjadikan lantai mengkilap dan dapat mendinginkan rumah pada musim kemarau, serta menghangatkan rumah pada musim penghujan.” Iman memulai ceramahnya.

“……….,”

“Psssst. Lihat itu Uci sudah keluar. Aku kan keluar duluan untuk mengajaknya berbincang. Kau lewat jalan belakang, cepat!” Udin memberikan instruksi.

Masjid Desa Sade
Masjid Desa Sade

Udin pun menghampiri Uci.

“Halo Uci, sedang apa malam-malam begini?” Udin pura-pura bertanya.

“Eh,Udin. Ini, aku sedang mengambil air ke sumur belakang,” jawab Uci dengan polos, sambil tersenyum. Iman memandangnya dari jauh. Hampir-hampir dia pingsan melihat senyum Uci.

“Sini, biar aku bantu. Nampaknya kau sudah sangat lelah,” Udin menawarkan bantuan

“Tak usah, din. Nanti merepotkan kamu,” Uci menolak halus.

“Ah, tak apa, mari sini,” Dengan sigap Udin mengambil ember yang dibawa Uci. Uci pasrah menerima ‘kebaikan’ Udin.

Melapisi lantai dengan...
Melapisi lantai dengan…

Mereka berjalan ke sumur di belakang rumah, dekat pintu masuk hutan. Udin mengambilkan air dari dalam sumur dengan lambat untuk mengulur waktu. Seketika, bagai harimau Iman menyergap Uci dari belakang. Uci memberontak dan mencoba berteriak. Namun, apa daya dengan badan yang mungil, ia pun tak mampu melawan. Mata mulutnya ditutup, dan dimasukan mobil Terios milik bang Udin.

Iman mendekatnya mulutnya ke telinga si gadis malang dan berkata lembut,”Ayo ikut aku.”

Namun, diam-diam Uci malah tersenyum.

***

Tetangga Iman
Tetangga Iman

Keesokan harinya, Iman langsung bergegas menuju rumah sang kepala desa, yang tak lain adalah ayah Uci. Mereka duduk di sebuah bale bambu yang ukurannya seperti lapangan bulu tangkis, tempat biasa para warga bermusyawarah.

“Saya ingin menikahi anak bapak,” kata Iman memulai pembicaraan, tanpa basa-basi.

“Kau kemanakan anakku!!?” gertak sang kepala desa.

“Dia aman bersama saya pak,” jawab Iman sedikit gemetar.

Kepala desa berpikir sejenak. Lalu menghela nafas. Raut mukanya tak senang, namun ia tak punya pilihan.

Fighting!
Fighting!

“Sesuai adat kita, kau sudah berhasil menculik anakku tanpa sepengetahuanku. Aku akan nikahkan kamu dengan Uci. Tapi, apa yang kau bisa berikan kepada kami?” ujar kepala Desa.

“Aku tak bisa berikan apa-apa saat ini. Tapi, aku berjanji, aku akan menjadi suami yang terbaik untuk Uci. Aku akan menjaga Uci sampai akhir hayatku,” kata Iman sambil memandang mata kepala desa.

“Kau pemuda hebat. Aku memang sudah menunggumu sejak lama. Kemarilah anakku,” kepala Desa pun tersenyum bahagia. Uci yang melihat dari kejauhan pun berbahagia. Ia juga telah mencintai Iman sejak lama. Namun ia tak mampu mengungkapkannya.

***

Pesta pernikahan berlangsung meriah. Seluruh desa pun ikut merayakan kebahagian ini. Mereka memakai baju pengantin adat yang ditenun langsung oleh para ahli tenun Sade yang dibuat berbulan-bulan. Mereka saling memandang dan tersenyum bahagia.

“Uci, bolehkan aku bertanya sesuatu,” tanya Iman.

“Ingin bertanya apa, sayangku?”

“Emmm…masih bolehkan aku menculik yang lain?”

….

38 COMMENTS

  1. Mas, saya juga pernah bertemu gadis cilik di foto terakhir itu. Dia penjual pernak-pernik di Sade. Saya lupa namanya. Namun, dulu sempat membeli dua biji hasil kerajinan yang ia jual. Semoga ia terus bersekolah :)

  2. Haloo Vloggers,

    Saya putri dari VIVAlog, meminta biodata lengkap lomba blog “Jelajah 7 Keajaiban Nusantara” #terios7wonders berhubung email masuk banyak dan mungkin ke skip jadi di minta untuk mengirim data lagi dengan Subject : DATA LOMBA BLOG TERIOS7WONDERS (CAPSLOCK) , sebagai berikut:

    Nama lengkap:
    Username VIVAlog:
    Alamat lengkap:
    No Hp:
    Link Blog:

    kirim ke email: putri.megasari@viva.co.id

    Karena hari ini adalah hari penjuarian, diminta untuk secepatnya mengirim data.

    Regrads,
    Putri

  3. hahahaa.. kocak banget ceritanya, eh tapi emang bener ya adat desa Sade begitu? kalau berhasil menculik brarti bisa nikahin anak gadisnya? trus itu lantai emang dicampur kotoran sapi ya? wadduhh, klu siang matahari terik apa ngga nguap tuh bau kotoran sapinya? :D

  4. Foto neneknya sama persis. Ceritanya lucu deh kang. Sayang kita ga ketemu. Pas aku otw ke bandara lewat sade Teriosnya udah ga ada

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')