–Taufik Ismail, Beri daku Sumba
***
Mungkin hanya kebetulan Taufik Ismail singgah di Sumba, bukan Sumbawa. Sehingga puisi klasik “Beri daku Sumba” berjudul demikan.
Kalau saja beliau singgah di Sumbawa, mungkin puisinya akan berjudul “Berik daku susu Sumbawa”
*abaikan*
Tapi betul, walaupun sama-sama terkenal dengan kuda-nya. Sumba dan Sumbawa punya karakteristik kuda yang berbeda.
Untuk kuda Sumba, biasanya mereka mempunyai badan besar, kuku, kaki, dan rahang yang kuat. Zaman dahulu, biasa disebut sebagai kuda perang.

Tahu festival Pasola? Festival yang menggantikan perang zaman dahulu diganti dengan adu ketangkasan joki dan kudanya. Makanya sangat cocok dengan sifat kuda sumba.
Untuk Sumbawa, kudanya berukuran lebih kecil. Paling-paling hanya dipakai untuk pacuan kuda saja. Sisanya dimanfaatkan susunya sebagai pengganti susu sapi.

“Bukan apa-apa mas, karena memang disini tidak ada sapi, makanya kita pakai susu kuda,” kata seorang pemilik kuda.
Sudah tahu kan bedanya kuda Sumba dan Sumbawa? Apa? Belum tahu bedanya Sumba dan Sumbawa? Buka peta sob!
***

Saat memasuki Pelabuhan Poto Tano, rombongan Terios kami disambut jalan lurus, aspal mulus, dan belokan panjang.
“Jalan kayak ini biasanya bikin pilot ngantuk,” kata Bang Ucok driver kami.
Tapi, saya sangat salut dengan jalanan di Sumbawa. Aspal mulus dari Poto Tano sampai Sape. Serasa jalan tol, tapi gak pake macet ya. Ujung barat ke Ujung timur. Ditambah pemandangan jalan yang bikin speechless.
Sumbawa is really made for roadtrip!
Menjelang sore, para terios sedang melaju kencang di jalan raya Pototano – Bima. Tiba-tiba ada panggilan di HT masing-masing, “Barusan ada lapangan bola dan bekgrond yang bagus, berhenti dulu kita?” tanya salah seorang di HT.
“Oke oke kita putbal (puter balik), langsung menuju lapangan tadi. Izin dulu sama penduduk baru ambil gambar,” ujar om Tonny, trip leader kami.

Kami pun menepi, dan menemuka lapangan penuh dengan anak-anak yang terpaksa berhenti dulu permainan bolanya, karena terkesima dengan para terios.
Disini, saya menemukan seekor kuda liar yang sedang merumput. Dengan matahari menyinari dari belakang, membuat kuda nampak anggun dengan bulunya yang berkilau. Dilatar belakangi pohon kelapa dan gunung. Akhirnya kita pun bisa melihat matahari terbenam pertama di sumbawa.
***
Keesokan harinya, rombongan terios terus melaju dari penginapan di pantai Lakeey menuju Dompu. Tempat salah satu peternakan kuda liar di Sumbawa.
Loh? Kok kuda liar di ternak?
Well, namanya memang kuda liar. Tapi, ternyata mereka ini sudah ada yang punya. Hanya memang dikembangbiakan secara liar, tanpa kandang.

Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba (Sumbawa juga ya hehe ) ~
Susu kuda liar rasanya tak jauh berbeda dengan susu sapi. Dapat dikonsumsi manusia dengan aman. Bedanya, susu kuda liar mengandung banyak antibakteri yang bisa membuatnya tahan lebih lama.
“Bisa sampai enam bulan tahan tanpa masuk kulkas, mas,” kata salah seorang penduduk lokal yang memandu kami.
Untuk rasa, juga tak jauh beda dengan susu sapi. Tetapi lebih encer dan lebih gurih, serta tidak terlalu amis.
Untuk harga di desa yang kami kunjungi di Dompu, desa Palama. Harganya untuk satu botol 600ml sekitar 20-30 ribu rupiah.

“Harganya beda-beda karena belum ada lembaga yang buat standar,” jelas pemandu kami lagi.
Saya pun membeli satu botol, ditambah madu asli Bima yang saya beli. Bisa tahan sampe pagi, nih! #eh
***
Sumbawa bukan titik akhir perjalanan tim #terios7wonders. Tapi, karena hanya satu dari tujuh buah terios yang hanya bisa masuk ke ferry menuju Labuan Bajo. Kami pun berpisah dengan para pilot terios disini.
Rasanya sangat sedih dan terharu melepas sebagian dari keluarga kami selama dua minggu ini.
Apalagi berpisah dengan kamu, membayangkannya saja sudah malas.
Thanks!


Leave a Reply to Terios 7 Wonders : A Prologue — Wira NurmansyahCancel reply