• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar

Wira Nurmansyah

Inspiring Indonesia to Travel the World

  • Home
  • About
  • Indonesia
  • World
  • Tips
  • Review
You are here: Home / Media Trip / Beri Daku (Susu) Sumbawa!

Oct 19 2013

Beri Daku (Susu) Sumbawa!

WN284231

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.

–Taufik Ismail, Beri daku Sumba

***

Mungkin hanya kebetulan Taufik Ismail singgah di Sumba, bukan Sumbawa. Sehingga puisi klasik “Beri daku Sumba” berjudul demikan.

Kalau saja beliau singgah di Sumbawa, mungkin puisinya akan berjudul “Berik daku susu Sumbawa”

*abaikan*

Tapi betul, walaupun sama-sama terkenal dengan kuda-nya. Sumba dan Sumbawa punya karakteristik kuda yang berbeda.

Untuk kuda Sumba, biasanya mereka mempunyai badan besar, kuku, kaki, dan rahang yang kuat. Zaman dahulu, biasa disebut sebagai kuda perang.

Memerah susu kuda
Memerah susu kuda

Tahu festival Pasola? Festival yang menggantikan perang zaman dahulu diganti dengan adu ketangkasan joki dan kudanya. Makanya sangat cocok dengan sifat kuda sumba.

Untuk Sumbawa, kudanya berukuran lebih kecil. Paling-paling hanya dipakai untuk pacuan kuda saja. Sisanya dimanfaatkan susunya sebagai pengganti susu sapi.

Susu kuda liar yang baru diperah
Susu kuda liar yang baru diperah

“Bukan apa-apa mas, karena memang disini tidak ada sapi, makanya kita pakai susu kuda,” kata seorang pemilik kuda.

Sudah tahu kan bedanya kuda Sumba dan Sumbawa? Apa? Belum tahu bedanya Sumba dan Sumbawa? Buka peta sob!

***

Jalan sumbawa yang mulus
Jalan sumbawa yang mulus

Saat memasuki Pelabuhan Poto Tano, rombongan Terios kami disambut jalan lurus, aspal mulus, dan belokan panjang.

“Jalan kayak ini biasanya bikin pilot ngantuk,” kata Bang Ucok driver kami.

Tapi, saya sangat salut dengan jalanan di Sumbawa. Aspal mulus dari Poto Tano sampai Sape. Serasa jalan tol, tapi gak pake macet ya. Ujung barat ke Ujung timur. Ditambah pemandangan jalan yang bikin speechless.

Sumbawa is really made for roadtrip!

Menjelang sore, para terios sedang melaju kencang di jalan raya Pototano – Bima. Tiba-tiba ada panggilan di HT masing-masing, “Barusan ada lapangan  bola dan bekgrond yang bagus, berhenti dulu kita?” tanya salah seorang di HT.

“Oke oke kita putbal (puter balik), langsung menuju lapangan tadi. Izin dulu sama penduduk baru ambil gambar,” ujar om Tonny, trip leader kami.

Epic sunset!
Epic sunset!

Kami pun menepi, dan menemuka lapangan penuh dengan anak-anak yang terpaksa berhenti dulu permainan bolanya, karena terkesima dengan para terios.

Disini, saya menemukan seekor kuda liar yang sedang merumput. Dengan matahari menyinari dari belakang, membuat kuda nampak anggun dengan bulunya yang berkilau. Dilatar belakangi pohon kelapa dan gunung. Akhirnya kita pun bisa melihat matahari terbenam pertama di sumbawa.

***

Keesokan harinya, rombongan terios terus melaju dari penginapan di pantai Lakeey menuju Dompu. Tempat salah satu peternakan kuda liar di Sumbawa.

Loh? Kok kuda liar di ternak?

Well, namanya memang kuda liar. Tapi, ternyata mereka ini sudah ada yang punya. Hanya memang dikembangbiakan secara liar, tanpa kandang.

What a cute boy!
What a cute boy!

Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba (Sumbawa juga ya hehe ) ~

Susu kuda liar rasanya tak jauh berbeda dengan susu sapi. Dapat dikonsumsi manusia dengan aman. Bedanya, susu  kuda liar mengandung banyak antibakteri yang bisa membuatnya tahan lebih lama.

“Bisa sampai enam bulan tahan tanpa masuk kulkas, mas,” kata salah seorang penduduk lokal yang memandu kami.

Untuk rasa, juga tak jauh beda dengan susu sapi. Tetapi lebih encer dan lebih gurih, serta tidak terlalu amis.

Untuk harga di desa yang kami kunjungi di Dompu, desa Palama. Harganya untuk satu botol 600ml sekitar 20-30 ribu rupiah.

Aspal sumbawa yang keceh
Aspal sumbawa yang keceh

“Harganya beda-beda karena belum ada lembaga yang buat standar,” jelas pemandu kami lagi.

Saya pun membeli satu botol, ditambah madu asli Bima yang saya beli. Bisa tahan sampe pagi, nih! #eh

***

Sumbawa bukan titik akhir perjalanan tim #terios7wonders. Tapi, karena hanya satu dari tujuh buah terios yang hanya bisa masuk ke ferry menuju Labuan Bajo. Kami pun berpisah dengan para pilot terios disini.

Rasanya sangat sedih dan terharu melepas sebagian dari keluarga kami selama dua minggu ini.

Apalagi berpisah dengan kamu, membayangkannya saja sudah malas.

WN284710

Thanks!

Written by wira · Categorized: Media Trip, Travel Story · Tagged: sumba, sumbawa, susu kuda liar

Reader Interactions

Comments

  1. lucianancy.com says

    19 Oct ’13 at 22:34

    Uhuk. Siapa itu model di foto paling bawah. uhuk.

    Reply
    • puput says

      20 Oct ’13 at 18:35

      Uhhuukkk… uhukkk…. tahan sampe pagi apanya mas #eeaaa….

      Reply
      • wira says

        21 Oct ’13 at 06:25

        Pura-pura nggak tahu deh :))

        Reply
  2. Danan Wahyu says

    21 Oct ’13 at 01:32

    empat sehat lima sumbawa…. susu kuda :D

    Reply
    • wira says

      21 Oct ’13 at 06:23

      susu yang lain juga sehat mas *eh*

      Reply
  3. Mumun says

    21 Oct ’13 at 10:34

    Waks udah keduluan Puput! :))

    Reply
  4. wismayanti says

    21 Oct ’13 at 10:59

    “kamu” nya itu siapa mas, koq ampe sedih gitu??

    #pukpuk…

    Reply
  5. Harry says

    21 Oct ’13 at 16:13

    Kampungkuuuhhh….. Jadi kangen pengen mudik :D

    Reply
  6. Katerina says

    20 Nov ’13 at 13:03

    Pengalaman menginjak Sumbawa yang amat keren.
    Foto kudanya luar biasa *jempol

    Reply
  7. Shifa says

    25 Feb ’14 at 19:18

    Saya shifa dr Jakarta. Saya cuman mau Tanya info sedikit. Saya mau tahu, gimana y caranya saya bs mengunjungi peternakan kuda sumbawa dan pengolahan susu kudanya. Apakah Ada contact yg bisa saya hubungi? Supaya saya bs Tanya lbh detail.
    Terima kasih

    Reply

Trackbacks

  1. Terios 7 Wonders : A Prologue — Wira Nurmansyah says:
    6 Jul ’15 at 14:48

    […] menimurkan diri menuju Sumbawa, tempat para kuda bebas berlarian. Di kaki gunung Tambora, desa Dompu juga akan menjadi salah satu tujuan kami. Susu kuda liar, […]

    Reply

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')Cancel reply

Primary Sidebar

Follow Us

  • YouTube
  • Instagram
  • TikTok

Popular Post

  • 5 Kejanggalan dalam Pendakian Film 5cm
  • 15 Tips Fotografi Landscape
  • Toko Eiger Jalan Sumatra Bandung
  • 4 Langkah Mudah Memotret Bintang & Milky way!
  • The Olympus OM-D E-M5 Elite Black Review for Travel Camera

Categories

  • Bali & Nusa Tenggara
  • Beyond Indonesia
  • Camera Review
  • Culinary
  • Europe
  • Flight report
  • Foto Favorit
  • Giveaway
  • Guest Post
  • Hiking & Trekking
  • Hong Kong
  • Hotel & Resort
  • Indonesia
  • Japan
  • Jawa
  • Kalimantan
  • Malaysia
  • Maluku & Papua
  • Media Trip
  • Photo Tips
  • Photoessay
  • Review
  • Saudi Arabia
  • Singapore
  • South East Asia
  • South Korea
  • Sponsored (adv)
  • Sulawesi
  • Sumatera
  • Taiwan
  • Tearsheet
  • Thailand
  • Thought
  • Tips
  • Travel Story
  • Travel Tips
  • Travel Video
  • Workshop

Copyright © 2026 · Altitude Pro on Genesis Framework · WordPress · Log in

 

Loading Comments...