“Udah sampe, belum?”
“Masih jauh, gak?
“Bosennnn banget dah!!”
Mungkin ocehan tersebut mirip seperti bocah yang sedang komplain di kursi belakang mobil ayahnya. Tapi, sebetulnya itu adalah ocehan saya sendiri ketika setengah jam awal pertama perjalanan, dari 14 hari total perjalanan…
Sebetulnya, saya tak begitu suka dengan roadtrip. Saya sangat malas, bahkan sekalipun hanya sebagai penumpang. Dan, saya sama sekali nggak bisa tidur saat berada di mobil yang bergerak. Apalagi mobil-mobil kecil yang getaran saat manuvernya sangat terasa.

Ini aib : waktu kecil dulu, saya naik angkot sebentar saja ke sekolah sudah mual-mual. Pernah perjalanan ke Bandung lewat puncak, saya jackpot sepanjang jalan.
Beruntung, sekarang saya sudah tidak lagi mudah untuk mual. Masalah yang terpenting adalah : bosan!
Maka dari itu, saya – yang saat ini sedang melakukan perjalanan sejauh 3000 kilometer dengan mobil, sedang berusaha mencari tips membuat perjalanan kami menjadi menyenangkan.
Tips klasik yang pasti semua sudah tahu: bawa musik kesukaan, podcast, audiobook, bawa snack yang banyak, gunakan bantal leher, dan lain sebagainya. Tapi, tips tersebut hanya berlaku hanya untuk beberapa jam. Bagaimana jika perjalannnya berminggu-minggu? Mari kita lihat contoh perjalanan roadtrip yang bikin bokong panas ini.

Pada tahun 2011, seorang travel bloggger Sherry Ott mengikuti Mongol Rally. Perjalanan sejauh 14.000 km, atau sekitar 14 kali panjang pulau Jawa, dari London di Inggris menuju Ulaanbaatar di Mongolia. Tantangannya juga ditambah dengan hanya mengendarai Nissan Almera kecil tahun 2002, dengan tiga orang asing yang semuanya baru pertama kali bertemu.
‘Kami menahan kebosanan dan kurangnya aktifitas fisik dengan memilih kota tertentu untuk menghabiskan hari dan melakukan kegiatan fisik seperti bermain sepeda atau sekedar berjalan kaki. Tak ada yang lebih buruk daripada duduk di mobil sepanjang hari selama 5 minggu untuk membuat otot kita menyusut, dan lemak bertambah,’ jelas Ott.

Well, sebelas-duabelas seperti tantangan saya di Terios 7 wonders ini ini. Walaupun hanya 3000-an km dan menggunakan mobil Daihatsu terios yang terbilang cukup nyaman.
Di perjalanan panjang seperti itu, kita tak hanya butuh istirahat, tapi sangat butuh distraksi yang bisa membuat kita lepas dari bosan.

Dari driver saya, Bang Ucok yang sudah sering berkeliling Indonesia dengan mobil, ia lebih suka tidak menggunakan GPS dan bertanya kepada penduduk lokal untuk arah. Mengobrol dengan orang lain saat pemberhentian pendek selain beristirahat, juga bisa menghilangkan kebosanan.
Tapi, di perjalanan Terios 7 wonders kali ini, saya menemukan satu hal yang paling penting dari semuanya : sense of humor!

Ada tujuh mobil dalam rombongan kami, masing-masing mobil memiliki akses komunikasi broadcast berupa handy talkie. Selain untuk membuat leader bisa memberikan komando dan informasi, handy talkie juga berfungsi sebagai radio hiburan privat kami.
Hal-hal kecil seperti saat ingin berhenti untuk membuang air kecil – misalnya – akan ada orang yang bilang, “Terios 5 masuk. Permisi-permisi ada yang mau mencekek ‘adek’ nya. Mohon merapat sebentar di SPBU terdekat.”
Berbagai komentar jenaka pun muncul untuk menjawab hal tersebut.
Atau di lain waktu, kami bermain tebak-tebakan jayus yang bisa mencairkan suasana. Walaupun tebakannya kadang bisa diprediksi agak mesum dan garing karena kebanyakan yang ikut kebanyakan adalah om-om.

“Kenapa daihatsu Terios dinamain Terios?” tanya salah seorang suara random di HT kami.
Semua berfikir keras, tak ada yang bisa menjawab pertanyaan yang mungkin ibu manajer daihatsu pun tak bisa menjawabnya.
Beberapa saat kemudian, diiringi gelak tawa, suara tersebut muncul lagi, “Ya, jelas terios lah, kalo namanya teroris ntar ditangkep polisi.”
“……”
@wiranurmansyah : A roadtrip can make strangers into friends, even lovers! :)


Leave a Reply to LexyCancel reply