Di setiap pernikahan, pengantin dan keluarga tentu ingin foto-foto yang bagus. Tak hanya bagus, namun foto yang bisa dikenang. Tangisan haru, pelukan mesra, dan tawa para kerabat mestinya bisa ditangkap dengan baik.
Tentunya itu adalah tugas fotografer. Namun sebelumnya yang lebih penting, bagaimana cara memilih fotografer yang tepat untuk pernikahan kita? Yuk mari disimak!
1. Cek Portfolionya

Apakah hasil si fotografer cocok dengan selera kita?
Karena fotografer wedding tentu punya style masing-masing.
Untuk fotografer wedding, umumnya lihat apakah dia mampu menghadirkan foto jurnalistik yang menangkap emosi dalam satu foto? Jurnalistik? Ya, karena dialah yang akan jadi ‘wartawan’ pernikahan kita.
Untuk fotografer pre/post-wedding, coba lihatlah apakah dia mampu membuat konsep yang unik dan tidak klise?
Tentu saja mata kita sendiri juga harus tahu definisi foto yang bagus seperti apa. Belum tentu fotografer wedding dengan harga puluhan juta itu bagus di mata anda. Bisa jadi yang harganya beberapa ratus ribu itu justru sudah bagus.
Tapi, saya sih nggak mau lagi pose melihat ke langit sambil berpegangan tangan dan menunjuk-nunjuk atas ke sambil nyengir pura-pura bahagia. If you know what i mean, hehe.
2. Tanyakan bagaimana dia memotret

Sebagai seorang fotografer, saya mengerti untuk selalu membuat foto yang terbaik.
Namun, tidak untuk pernikahan saya nanti. Saya tidak ingin fotografer yang cuma membuat foto yang baik, namun fotografer yang benar-benar menangkap momen yang asli — tidak dibuat-buat — di hari spesial itu.
Karena saya sering melihat fotografer dengan ‘daftar produksi foto’ — yang berisi template moment yang harus diambil; seperti foto bareng si ini, foto saat nganu, foto bareng si itu di situ, dan sebagainya yang membatasi kreativitas dia sendiri. Hasilnya akan seperti foto pose model klise ala kalender jadul yang tak punya soul.
Tak masalah sebetulnya, namun seringkali saya melihat si fotografer hanya ‘mengamankan’ file foto tersebut supaya ada dalam album. Bukannya mengabadikan momen dengan kreativitasnya.
Tapi yang harus lebih diperhatikan adalah, jangan pilih fotografer yang cuma ingin membuat portfolio dia lebih bagus. Bukan menangkap momen hari bahagiamu.
3. Kenali fotogafermu.

Lebih baik memang memakai jasa professional, bukan amatir yang sekali-kali memotret untuk penghasilan tambahan.
Saat ini harga kamera sudah murah, banyak fotografer-fotografer amatir yang melabeli dirinya professional, dengan harga yang sangat miring, namun hasilnya masih harus dipertanyakan.
Fotografer amatir kadang bisa lebih bagus, namun bisa jadi sangat buruk.
Saya sendiri cukup percaya diri untuk memotret foto-foto perjalanan seperti memotret alam maupun budaya. Namun sudah puluhan kali saya menolak permintaan untuk memotret pernikahan. Karena tentu saja saya sadar karena ini bukan bidang saya dan masih banyak orang yang lebih berkompeten untuk itu.
Kamu nggak pengen memeriksa gigi kamu ke dokter kulit, kan?
Saya sendiri juga tak mau bertaruh untuk foto pernikahan saya. Lebih baik menyewa fotografer professional yang sedikit lebih mahal daripada menyesal seumur hidup.
Pastikan fotografermu punya portfolio di websitenya, punya contoh-contoh klien sebelumnya, kalau ada rekomendasi kawan, ataupun terdaftar di situs direktori vendor wedding seperti bridestory.
4. Jika sudah menentukan pilihan, jangan terlalu mendikte fotografer.

Jika sudah memilih fotografer, percayakan saja semuanya padanya.
Jangan terlalu mendikte saya ingin begini, saya ingin begitu. Jujur saja, jika saya sebagai fotografer akan merasa agak terintimidasi.
Ingatlah, gaes, ini hari pernikahan kamu. Bukan set produksi film yang harus diarahkan script maupun gaya-nya.
You hire the photographer for your big day. Just let them do the job and surprised you!
Leave a Reply to teronggemukCancel reply