FIREMAN (Korea Trip part 1)

18

Akhirnya ke Seoul juga!

Tahun lalu sempat ke Seoul juga sih, tapi nggak sampai tiga jam karena hanya transit buat ke Jeju Island.

Kali ini naik Garuda Indonesia. Berangkat jam 11 malam, dan sampai sekitar jam 8 waktu Seoul. Seoul lebih cepat 2 jam dari Jakarta. Sama dengan waktu Indonesia bagian timur. Btw, saya lebih suka makanan Korean Air sih daripada Garuda. Bibimbap-nya enak!

Welcome to Seoul
Welcome to Seoul

Sampai di Bandara Incheon saya dan kawan-kawan dijemput oleh Oh Jin Yung, pemandu kami dari KTO (Korea Tourism Organization).

“Just call me Jenny,” katanya. Deg. Tahun lalu waktu saya ke Jeju, guide kami juga minta dipanggil Jenny! Apa ini code name untuk pemandu wisata untuk orang Indonesia disana? Hihi.

incheon
Bagian drop off Bandara Incheon. Walaupun kolong jembatan, tapi tetep bagus. Nggak kayak terminal yang katanya ultimate itu.

Keasyikan ngevlog membuat saya lupa membawa koper ke dalam bis. Untung saja dibawakan oleh Om Bolang dan Kadek. Duh! :))

Bandara Incheon ke Seoul lumayan jauh. Sekitar 45 menit perjalanan. Angkutan kereta line AREX ( Airport railroad express) adalah opsi tercepat. Bisa naik kendaraan umum seperti bus dan taksi (taksi jangan deh, mahal betul hihi).

Beruntungnya, kami dijemput pakai bis yang kursinya rasa business class pesawat. Bisa bobok manja dulu menikmati jalan tol yang cukup panjang.

Naik VIP bus macam orang penting
Naik VIP bus macam orang penting

Kami sangat lapar. Karena sarapan di pesawat tujuh jam perjalanan Jakarta – Seoul ada di jam 3 pagi waktu Jakarta. Jadi kami memutuskan untuk nyemil dulu sebelum makan siang yang akan kami buat sendiri. Ya, kita akan ikut kelas memasak masakan korea!

Hello, Seoul!
Hello, Seoul!

Bis memasuki kota Seoul dan jalan semakin menanjak. Kami menuju Seoul Tower. Karena di bawahnya ada beberapa tempat makan. Sekalian kita bisa naik ke atas Seoul Tower yang ada di Gunung Namsan ini.

Sepanjang trek menanjak banyak sekali warga lokal yang sedang menikmati akhir pekan. Di Seoul saya perhatikan banyak sekali ahjumma dan ahjusii (orang tua) yang memakai peralatan trekking lengkap. Sepatu gunung, trekking pole, jaket windproof berwarna-warni, dan tas yang sangat sporty. Seoul ini dikelilingi gunung, jadi warga sini memang hobi naik gunung.

Hal lain yang saya perhatikan : KOK GAK ADA ORANG GENDUT DISINI? :)))

Naik ke atas Seoul Tower
Naik ke atas Seoul Tower

Nggak heran sih. Orang disini hobi banget jalan kaki. Subway juga bisa sampai lima tingkat ke bawah tanah begitu. Mau gak mau pasti harus bergerak.

Faktor makanan juga berpengaruh. Ketika kami makan salah satu fastfood di bawah Seoul Tower ini, rasanya hampir tidak pakai garam! Jenny bilang orang korea tidak terlalu suka rasa yang terlalu kuat. Berbeda dengan lidah orang Indonesia yang sudah dicecokin MSG dari lahir, hihi.

Love Padlock Seoul Tower
Love Padlock Seoul Tower

Setelah sedikit mengisi perut, saya berkeliling sebentar di sekitar Seoul Tower. Ada love padlock ala-ala tempat anak muda memadu kasih. Jadi ceritanya sih bisa nulis nama kamu di gembok, terus dikunci gitu disini. Satu orang mungkin punya beberapa gembok dengan nama yang beda ya? Hihi.

Untuk naik ke atas Seoul Tower kita harus membayar sekitar 10.000 won (sekitar 100 ribu rupiah). Seoul tower ini macam monas lah kalau di Jakarta. Kamu bisa lihat kota Seoul dari atas sini.

Di dalam kaca-kaca seoul tower ada marka jarak ke berbagai kota di dunia.
Di dalam kaca-kaca seoul tower ada marka jarak ke berbagai kota di dunia.
Sayang agak mendung
Sayang agak mendung
Tower seluler di sebelah Seoul Tower
Tower seluler di sebelah Seoul Tower

Setelah itu, kami menuju ke K-Style Hub di dekat Cheonggyecheon Stream. Tempat ini sejatinya adalah Tourist Information Center. Tapi nampaknya KTO membuatnya jadi lebih dari sekedar turis bisa mencari informasi. Ada Korean Food Exhibition Hall, Korean Food Experience Hall, dan Art Market Hall.

Kamu tahu kan saya bakalan kemana? Tentu saja yang Food Experience hall! Hehe.

Disini kita bisa mengikuti kursus memasak singkat masakan Korea seperti Chiljeolpan, Bibimbap, Kimchi, Japchae, dan macam-macam kuliner lokal korea. Untuk kelas ini harganya mulai dari 30.000 Won ( harga tergantung jenis makanan dan kelas,  silakan kunjungi website mereka untuk info lengkap).

Lee Jong Im
Lee Jong Im, Guru memasak kita hari itu.

Kami memilih masakan yang paling simpel yang paling gampang dibuat : Japchae & Shrimp Vegetable Pancake.

Namanya terdengar keren. Japchae. Namun ini sebetulnya adalah bihun goreng ala korea. Kalau Shrimp vegetable pancake diterjemahkan ke bahasa Indonesia adalah BAKWAN isi jagung dan udang alias BALA-BALA!

Bisa-bisa pulang dari korea saya malah jadi tukang gorengan haha.

Anyway, dapur sih Korean Cuisine Cultural Center ini keren parah. Macam dapur Masterchef. Kita pun punya tutor yang nampaknya masterchef asli. Namanya Lee Jong Im. Ibu-ibu ini nampaknya semacam Sisca Soewitomo-nya korea. Atau mungkin saja doi semacaem Gordon Ramsey. Bisa diteriakin ini kalau salah masukin bumbu.

Dan seriuosly, masakan kita bumbunya bener-bener simpel. Gak ada yang aneh-aneh. Yang paling saya perhatikan adalah orang korea senang banget pakai minyak wijen di masakan.

“Noo nooo, too muchh, too mucchh,” kata salah satu tutor kami ketika saya menaburkan garam terlalu banyak.

Mungkin dia bisa shock kalau saya masukan BON CABE ke dalam masakannya ya?

Japchae dan BAKWAN
Japchae dan BAKWAN

Japchae ini bihunnya lebih kenyal daripada bihun biasa karena terbuat dari ubi. Makanya rasanya sedikit manis.

Setelah beberapa hari di korea, saya jadi terbiasa masakan bumbu yang minimalis. Jadi lidah agak sedikit sensitif kalau makan makanannya yang kebanyakan penyedap. Mungkin kalau saya tinggal beberapa bulan di korea saya bisa jadi lebih langsing ya?

Tukang gorengan
Tukang gorengan
Selain blogger manja, ternyata cumi lebay juga adalah tukang cuci piring.
Selain blogger manja, ternyata cumi lebay juga adalah tukang cuci piring.

Setelah memasak masakan yang sehat tapi penuh karbo itu. Saya pun mengantuk. Lalu setelah ini saya pun harus duduk melihat pertunjukan yang bernama FIREMAN. Entah apa itu.

Namun yang pasti, membuat mata saya kembali melek!

korea fireman performance
Gak tahan kalau liat tiang nih…

Jadi, si fireman ini adalah pertunjukan gabungan antara tarian, parkour, dan drama komedi. Dengan latar cerita beberapa orang yang sedang berlatih di camp pelatihan untuk menjadi seorang pemadan kebakaran.

Mereka lompat-lompatan dengan sangat lincah dan enak dilihat. Tariannya juga bagus, tak kalah dengan artis-artis KPOP. Kalau mau liat cuplikannya bisa lihat di vlog loh. *promo*

fireman performance
Fireman

Pertunjukannya non-verbal kok. Jadi mereka tidak akan ngomong bahasa korea. Cuma bahasa tubuh ala-ala komedi slapstick. Kamu bisa menemukan mereka di Cecil Theater, Jeong-dong.

RECCOMENDED banget ini si pertunjukan fireman!

Foto bareng cast fireman!
Foto bareng cast fireman!

Seusai pertunjukan, langit sudah gelap. Berhubung hotel kami di daerah Myeongdong, jadi pas banget tuh buat yang seneng belanja dan makan-makan. Kalau saya sih cuma belanja masker beberapa buah dan makan-makan saja. Kalau cewe-cewe bawa koper ukuran besar dan cuma seperempatnya terisi, jangan kaget pas pulang doi masih nitip ke kamu karena over bagasi.

Malam ini kami mencoba seperti hobi warga lokal. Makan ayam goreng dan bir! Atau disebut juga ‘Chimaek’. Kalau kamu penggemar drama korea pasti sering banget ngelihat adegan lagi makan Chimaek. Endes banget pasti kelihatannya kan?

Chickennnnnn!
Chickennnnnn!
Makan dengan cara "Sam" alias dibungkus daun.
Makan dengan cara “Sam” alias dibungkus daun.

Di gang sebelah jalan utama Myeongdong ada jejeran restoran Chimaek yang bisa jadi pilihan. Lokasinya sekitar KFC. Dari yang restoran sampai dengan pinggir jalan ada. Sayangnnya saya nggak minum bir jadi kurang tahu gimana kombinasi rasa kedua kuliner ini. Kata kawan saya yang nyobain sih emang klop banget.

Restoran Chimaek
Restoran Chimaek
Yang streed food juga ada
Yang streed food juga ada

JANGAN LUPA NONTON VERSI VLOG-NYA GAESS!

Lanjut ke Sori International Festival di part 2 ya!

18 COMMENTS

  1. Hahaha… bon cabe.

    Pingsan kali ya mereka klo liat orang Bandung makan cilok atau tahu bulat dikasih bubuk bumbu aneka rasa yg isinya micin semua itu ????

  2. Seru banget! terutama yang belajar masaknya, karena emang tergila gila sama mie Ramyun Korea… Bala balanya gimana mas? rasanya mirip bakwan beneran ya?

  3. wira beneran bawa bon cabe ke korea kemarin? hahaha udah antisipasi makanan hambar ya. aku belum pernah icip masakan korea, tapi kalau baca ceritamu yang terkesan “kurang bumbu” jadi nggak penasaran lagi haha. lha gimana, seleraku macam nasi padang :D

  4. mas wira.. salam kenall.. seru bngt VLOG ke koreanyaa.. hehehe.. aku juga baru nyobain vlog nii.. nanya dongg.. dikau pake gorilla pod ya? hehehe.. tapi emang cabe itu a must bring bngt yaa.. kalo aku malah ga gt suka boncabe.. sukanya belibissss.. sedaphhh! ahhahaha..

  5. Hahaha. Di Jepang sama Korea jarang orang gendut ya. Singapore juga sik, soalnya ke mana-mana jalan kaki dan naik-turun tangga subway. Terus, setelah lihat makanannya kayak gitu (selama ini cuma pernah cobain makanan korea di Indonesia yang udah “disesuaikan”) ya nggak heran mereka sehat-sehat.

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')