
Empat ribu rupiah. Itulah ongkos angkot yang saya keluarkan untuk keluar dari Bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu menuju tengah kota. Saya bahagia.
“Naik angkot putih sampai terminal, lalu sambung angkot kuning, bilang saja mau ke simpang lima,” kata Abu, kakek pemilik restoran Padang di dekat bandara, saat saya bertanya moda transportasi untuk ke kota selain taksi.
Di akhir pekan Maret lalu, saya mencoba bertandang ke kota yang belum pernah saya singgahi di selatan Sumatera ini. Ya, kota tempat bunga berbau unik Rafflesia Arnoldi. Kota tempat salah satu proklamator kita pernah diasingkan setelah dipindahkan dari Ende.
Bengkulu yang dihimpit oleh bukit barisan di barat dan Samudera Hindia, membuat aksesnya cukup sulit pada zaman dahulu. Kondisi alam ini pun membuat koloni Inggris kewalahan dan akhirnya memutuskan untuk memindahkan sentral komando ke pulau kecil di Selat Malaka yang kita sebut sekarang sebagai Singapura.

Hanya lima menit berjalan kaki dari hotel tempat saya menginap di Simpang Lima, saya sudah menemukan Rumah Pengasingan Bung Karno yang sudah menjadi cagar budaya. Kota Bengkulu terasa sangat terik siang itu.
Enam tahun lamanya, Bung Karno ‘dibuang’ oleh Belanda di sini dengan harapan pergerakan untuk kemerdekaan Indonesia terhenti. Alih-alih demikian, yang ada malah Bung Karno membakar semangat Nasionalisme masyarakat Bengkulu.

Rumah ini terlihat megah pada zamannya. Mungkin aneh kenapa rumah pengasingan beliau ada di jantung Kota Bengkulu. Namun, pada waktu Soekarno tinggal di sini sekitar tahun 1938, rumah ini terletak di pinggiran hutan.
Di rumah kayu inilah foto-foto peninggalan Bung Karno dipajang. Selain buku-buku sastra yang menghiasi lemari kaca beliau, ada juga seragam operet Monte Carlo, operet pemuda asuhan Bung Karno selama masa pengasingan.
Yang paling menarik adalah surat cinta Bung Karno kepada Fatmawati, gadis pujaan hati beliau selama di pengasingan. Mereka dianugerahi lima keturunan, termasuk Guruh Soekarno Putra dan Megawati Soekarno Putri, satu-satunya wanita yang merupakan mantan presiden Indonesia.
Untuk masuk ke tempat ini, saya hanya dipungut tiket seharga tiga ribu rupiah. Rumah ini kini telah direnovasi agar pengunjung bisa lebih nyaman, namun tetap mempertahankan keasliannya.
Dari Rumah Pengasingan Bung Karno, saya beranjak ke arah utara menuju salah satu cagar budaya lainnya: Fort Marlboruogh.

Dibanding kota lain di Indonesia, mungkin hanya Bengkulu yang menyimpan kenangan paling lama dengan Inggris. Hampir 150 tahun lamanya mereka menduduki tanah air ini.
Sebetulnya, Bengkulu adalah investasi Inggris yang tak berhasil. Saat mereka pertama kali melabuhkan kapal di Bengkulu, Inggris merencanakannya sebagai dermaga dagang yang menghubungkan Bengkulu dengan koloni di India dan Tiongkok.

Namun, alam berbicara berbeda. Banyaknya bencana seperti gempa maupun wabah penyakit membuat Inggris kewalahan. Kemegahan Fort Marlborough dengan kanon-kanon yang menghadap Samudera Hindia pun usai sudah. Tahun 1824, Inggris melepaskan wilayah ini ke Belanda dan bertukar dengan Singapura yang masih berupa rawa-rawa.
Saat itu, Raffles yang sempat memimpin Bengkulu berhasil mengubah rawa-rawa tersebut menjadi pusat pelabuhan yang ramai di Malaka. Bagaimana dengan Bengkulu?
Saya pun hanya bisa menghela napas sambil menatap langit yang terbakar indah sore itu.

Pada pagi harinya, saya bermain ke Pantai Panjang. Pantai ini betul-betul panjang sampai saya hampir menyesali saya untuk menjelajahinya dengan berjalan kaki.
Garis pantai berpasir putih ini panjangnya 7 kilometer saja. Sabtu pagi itu mendung, warung-warung belum tampak buka, beberapa orang sedang berjogging di pinggir pantai. Namun, belum 24 jam di bengkulu, saya sudah harus kembali ke Jakarta karena kesalahan saya sendiri. Ya, kali kedua saya menyesal.

Seharusnya, saya menghabiskan dua malam di Bengkulu karenaaya masih belum mengunjungi beberapa tempat, seperti Danau Dendam Tak Sudah (nama yang agak seram hihi) dan mencoba beberapa kuliner Bengkulu. Namun, karena ceroboh, saya lupa kalau punya acara penting yang harus dihadiri di Jakarta pada hari Minggu, hari terakhir saya di Bengkulu.
Saya pun harus kembali ke Jakarta pada hari Sabtu. Untungnya, tiket bisa di-reschedule pakai Easy Reschedule di Traveloka, tempat saya membeli tiket online. Tinggal pilih penerbangan baru, lalu bayar selisihnya. Untung Easy Reschedule betulan kasih cara gampang buat ubah jadwal penerbangan.

Kalau penerbangan yang di-reschedule lebih murah, kita masih bisa dapet kembalian, lho!
Untuk memakai Easy Reschedule ada biaya jasanya sebesar 15 ribu rupiah untuk tiket domestik dan 50 ribu rupiah untuk internasional, begitu sih info yang saya sempat baca di website Traveloka. Nah, karena jadwal yang saya ubah masih di wilayah Indonesia, berarti saya kena biaya tambahan 15 ribu. Tapi, no problem sih. Kenapa? Soalnya, beberapa menit kemudian, tiket baru pun masuk ke email saya. Sesimpel itu.
Saat perjalanan pulang yang dadakan itu, saya berandai-andai apabila Raffles tetap mempertahankan Bengkulu dan tidak menukarnya dengan Singapura, mungkin saja nasib mereka sekarang bisa berbalik 180 derajat.
Namun, Bengkulu punya beberapa destinasi unggulan yang bisa mereka jual seperti lokasi yang saya kunjungi di atas. Lokasinya yang saling berdekatan bisa menjadi paket wisata yang menarik untuk akhir pekan. Satu hari pun cukup kalau kamu tak punya waktu banyak seperti saya. Andai saja bisa dikemas dengan baik, pasti Bengkulu bisa jadi destinasi utama di Nusantara.
Sampai jumpa lagi!
Leave a Reply to Nasrudin AnsoriCancel reply