• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar

Wira Nurmansyah

Inspiring Indonesia to Travel the World

  • Home
  • About
  • Indonesia
  • World
  • Tips
  • Review
You are here: Home / Travel Story / Hiking & Trekking / Harmoni dari Bromo dan Tengger

Oct 29 2013

Harmoni dari Bromo dan Tengger

“Nanti jalan yang dilewati bukan jalan biasa lagi, tapi udah mulai naik gunung, harus pake mobil yang 4WD. Mobil biasa nggak mungkin sampai atas,” ujar sang bapak tersebut, Pak Kasim namanya, warga asli tengger yang selanjutnya akan menjadi pemandu kami selama di Taman Nasional Bromo-Tengger Semeru ini.

Mobil jeep yang kami tumpangi pun tak melaju pelan, menembus hutan lebat Pananjakan yang terhalang kabut. Suasananya mengerikan, jika tidak  ingin disebut mistis. Jalan berbelok curam dengan jarak pandang tidak sampai lima meter membuat jantung saya berdebar. Ditambah Pak Kasim mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

“Bapak sudah hapal jalannya mas, setiap pagi memang seperti ini kondisinya,” jawab si bapak santai sambil membetulkan sarung yang dikenakan di tubuh, sesekali ia menghisap rokoknya.

Saya cuma bisa meringis sambil terus berpegangan ke pintu mobil.

bromo2
Sisi utara dan selatan bromo yang kontras. Satu adalah lautan pasir, satunya padang sabana.

Suhunya pasti sekitar sepuluh derajat celcius, lebih dari itu dua lapis jaket tebal saya tidak mampu menahan dinginnya bromo di pagi buta ini. “Kita sudah sampai di Pananjakan,” ujar pak Kasim.

Di depan kami jeep-jeep sudah parkir memanjang rapih yang juga membawa para pemburu sunrise. Disini banyak tersedia warung-warung yang menjajakan makanan, terlihat juga beberapa orang menawarkan jaket-jaket tebal untuk disewakan.

Saya langsung memesan obat anti dingin : Mie rebus hangat dengan telur plus teh manis panas!

Hari masih gelap, tetapi ratusan orang sudah antusias menyambut atraksi matahari terbit di Puncak Pananjakan. Puluhan tripod dengan lensa-lensa putih panjang siap menerkam wajah-wajah bromo.

“Kalau bulan Juni biasanya setiap pagi selalu cerah. Bromo, batok, dan semeru semua terlihat dari pananjakan,” pak Kasim menjelaskan.

Disini, tidak hanya wisatawan lokal yang memenuhi area pananjakan, tetapi wajah-wajah bule juga tidak sedikit yang berada disini. Maklum, selain Bali, icon Indonesia yang terkenal di luar sana adalah Bromo. Bahkan buku panduan perjalanan lonely planet mendeskripsikan Bromo seperti ini, “A lunaresque landscape of epic proportions and surreal beauty, Gunung Bromo is one of Indonesia’s most breathtaking sights.”

Lebih nikmat berjalan kaki di bromo. Enjoy the fresh air!
Lebih nikmat berjalan kaki di bromo. Enjoy the fresh air!

Waktu menunjukan pukul 05.25, mentari mulai menampakan dirinya tetapi kabut masih tebal. Orang-orang mulai gelisah, tetapi tiba-tiba sedikit semburat mentari muncul!

“Yeahhhhh….!’, semua bersorak sambil bertepuk tangan. Sesaat kemudian, matahari tertutup kabut kembali. “Ooooowwh…,” penonton pun kecewa. Kejadian terus berulang beberapa kali, dan setiap matahari muncul, dengan serempak para sunrise hunter ini menjadi seperti penonton acara Empat Mata-nya Tukul Arwana.

“Eaaaa eaaa..,” sahut orang-orang secara serempak saat matahari muncul, sebelum kemudian menghilang kembali. Ini adalah drama paling lucu sepanjang sejarah saya menyaksikan sunrise. Akhir cerita, kabut tebal menutupi, dan pandangan postcard klasik bromo tidak bisa terlihat.

Saya sangat kecewa. Tapi, begitulah alam, kita tidak bisa menebak kejutan apa yang akan ia suguhkan.

***

Ranupane, desa warga tengger di TN Bromo Tengger Semeru
Ranupane, desa warga tengger di TN Bromo Tengger Semeru

“Mampir dulu ke rumah bapak, makan sama mandi dulu sebelum pulang,” pak Kasim berbaik hati mengajak kami yang wajahnya sudah penuh dengan pasir ini. Tanpa rasa malu, saya pun tak kuasa menolak hehe.

“Silakan masuk ke dalam, mas,” ujarnya sambil tersenyum.

Rumah ini punya ruang tengah yang terbilang luas dibandingkan kamar-kamar sekitarnya. Mungkin bisa dipakai untuk ‘arisan’ hingga 30 orang.

Di tengah-tengah ruangan terdapat tungku yang digunakan untuk memasak dan menghangangatkan badan. Di depan tungku, terdapat kursi yang disusun berhadapan seperti angkutan umum dalam kota. Langit-langit di atasnya nampak hitam karena terus menerus diasapi oleh tungku.

Tipikal desa di tengger
Tipikal desa di tengger

“Disini tempat orang tengger berkumpul, mencari hangat, dan bermusyawarah, dan menyambut tamu,” ujar pak kasim lagi.

Ia mempersilakan kami duduk di pawon untuk menikmati sajian khas tengger; jagung putih penggati nas,, sayuran bunga kol yang masih muda, serta sambal plecing. Sambal yang rasanya membuat dingin hampir-hampir menjadi hilang saking pedasnya!

Orang tengger selalu memberikan penghargaan tertinggi terhadap alam. Hidup mereka tak bisa lepas dari alam pegunungan tengger. Mereka sadar, alamlah yang akan mencukupkannya – jika mereka tetap berlaku sahaja dan tidak serakah.

Keselarasan antara keseimbangan alam dan kesederhanaan hidup membuat orang Tengger sudah menjadi substansi kehidupan dari mereka.

Bromo dan batok dalam panorama
Bromo dan batok dalam panorama

Saya selalu terkesan dengan keramah-tamahan orang Tengger. Bukan kali ini saya merasakan mereka sangat menghormati tamu.

Setahun yang lalu, saat saya baru saja turun dari Mahameru – dengan keadaan yang sangat lemah dan sudah terlalu malam untuk mengejar truk sayur kembali ke Tumpang – saya dipersilakan seorang warga Tengger untuk menginap di rumahnya.

Bahkan kami juga disajikan makanan, tanpa harus membayar sepeserpun karena waktu itu uang kami hanya untuk ongkos pulang.

Gunung Semeru dari desa Tengger
Gunung Semeru dari desa Tengger

Tengger, selain berasal dari suffix nama pendahulunya Roro An(teng) dan Joko Se(ger), secara etimologis berarti tanpa gerakan. Dalam artian yang menunjuk kepada perilaku yang berbudi luhur, sederhana dan bersahaja, serta tak ingin macam-macam.

Kecuali, mereka hanya ingin hidup harmonis dengan alam.

Di kejauhan, Gunung semeru masih saja dengan angkuhnya melihat kami yang tak lebih besar dari batuan yang ia muntahkan. Semeru, puncak abadi para dewa, adalah bagian dari kehidupan warga Tengger.

Ia memberikan kehidupan bagi setiap warga tengger, tapi juga sebagai pengingat – bahwa maut bisa datang kapan saja.

 

***

Written by wira · Categorized: Hiking & Trekking, Indonesia, Jawa

Reader Interactions

Comments

  1. Angga Wisnu Firdy says

    27 May ’12 at 10:43

    Habis dari Bromo Wir?
    Bikin pengen aja hha

    Reply
    • wira says

      27 May ’12 at 11:33

      kagak nu, udah lama aja ini cuma belom ditulis haha

      Reply
  2. Maharsi Wahyu K says

    27 May ’12 at 13:29

    wira habis dari bromo juga ternyata? hihihi. eh, kira2 kalo dari malang, lewat ngadas/gubugklakah bisa jalan kaki nggak ya? seru kayake..

    Reply
    • wiranurmansyah says

      27 May ’12 at 13:34

      nggak kok kin udah lama, baru aja ditulis haha. Kalo menurutku sih bisa aja, cuma jalannya banyak cabang bingung. Itu gak banget deh waktu nyasar pake mobil haha

      Reply
  3. mima says

    5 Jun ’12 at 05:28

    keren picture nya (y)

    Reply
  4. Uniek Kaswarganti says

    9 Sep ’13 at 09:11

    Tulisan dan foto-foto mas Wira keren banget euy, bener-bener bikin ngiler pengin ke Bromo lagi. Sukses untuk ngontesnya ya mas :)

    Reply
    • wira says

      9 Sep ’13 at 10:08

      terima kasihhhh, sama sama ya :D

      Reply
  5. yuniarinukti says

    9 Sep ’13 at 10:46

    Saya belum pernah ke Bromo naik jeep, Mas. Pengen gimana rasanya ke Bromo naik jeep :D

    Reply
  6. Wisata di Malang says

    28 Sep ’13 at 03:46

    Artikel nya mantap kakak, jadi buat orang pengen datang ke Bromo …
    Siipp ..

    Reply
  7. Mochamad ali mulyana says

    30 Sep ’13 at 17:18

    [Sayonara, bromo!] yang ini tanpa editing kan mas? keren banget (y)

    Reply
  8. D. says

    3 Oct ’13 at 07:04

    huaaa kereen… saya pernah ke bromo, tp blum pernah motret apalagi motret keren spt foto2 di atas. Magis-nya bromo jadi terasa kental!

    Salam kenal ya,
    D.

    Reply
  9. tanjung pondok pertanian says

    21 Oct ’13 at 10:25

    BROMO TANJUNG PONDOK TANI (HOMESTAY)
    Dalam rangka Memperkenalkan “Kawasan Tengger-Bromo” dari segala aspek, Kami buka Pondok Tani (Cottage) Tanjung – Tosari untuk umum
    # hub per sms/tlp: 081385458993-081553258296(Dudick).*-*081249244733-085608326673(Elie)*
    # Informasi di Facebook dengan nama : Bromo Tanjung Pondok Pertanian
    * rute: pasuruan-warungdowo-ranggeh-pasrepan-puspo-tanjung KM 95 pos jaga doreng turun.(Tanjung Pondok Tani) -> (Baledono-Tosari)Pasuruan-Tosari-Wonokitri<
    HARGA KAMAR :
    @.kamar los + 2 km mandi luar, kapst: 9 s/d 16 orang. Rp.350.000,-/malam.
    @.kamar utama + km mandi dalam + perapian, kapst: 4 s/d 6 orang. Rp.250.000,- /malam.
    @ fasilitas:.Kamar mandi air panas,.dapur,.kulkas,.ruang makan,.teras serba guna (4 x 12 m),. halaman api unggun,. tempat parkir unt 6 mobil,. kebun sayur.

    Reply
  10. eren audira says

    27 Oct ’13 at 22:08

    bagus banget pemandanganya, pingin kesitu belum kesampaian

    Reply
  11. Ros says

    7 Nov ’13 at 09:08

    Salam dari Malaysia. Indah sekali ciptaan Tuhan. Satu hari nanti saya pasti akan ke sana.

    Reply
  12. Jhon Alif says

    12 Nov ’13 at 06:23

    Blognya bagus isinya
    Terus Berkarya …
    Sambil ikut promo
    Tour and Travel Bromo Transport
    Jl. Majapahit – Malang
    Terima Kasih…

    Reply
  13. tama says

    13 Nov ’13 at 18:35

    pengen dong kak belajar adventure, jawab ke emailku please

    Reply
    • wira says

      14 Nov ’13 at 06:40

      maksudnya belajar apa ya? coba kamu dulu yang email saya :)

      Reply
  14. citra says

    25 Nov ’13 at 13:46

    ah foto-fotonya *jempolll

    Reply
  15. muhammad ali wardoyi says

    29 Nov ’13 at 13:45

    mantap….
    suatu saat aku ingin ngajak anak istriku ke sana
    salam kenal dari Makassar

    Reply
  16. bocah petualang says

    13 Dec ’13 at 09:19

    Sepertinya harus ke Bromo lagi nih, tapi nunggu awal musim kemarau saja ah biar lebih cerah.

    Reply

Trackbacks

  1. Menjelajahi Pasir Berbisik Gunung Bromo | Kutubr says:
    24 Aug ’13 at 17:31

    […] Baca selengkapnya … […]

    Reply
  2. Terios 7 Wonders : A Prologue says:
    2 Oct ’13 at 20:24

    […] rumah mbah Marijan kaki Gunung Merapi, Desa Kineharjo. Tak lupa, tanah Tengger yang iconic di Bromo pun akan kami […]

    Reply

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')Cancel reply

Primary Sidebar

Follow Us

  • YouTube
  • Instagram
  • TikTok

Popular Post

  • 5 Kejanggalan dalam Pendakian Film 5cm
  • 15 Tips Fotografi Landscape
  • 5 Tips (lagi) untuk Fotografi Landscape!
  • Review Backpack : Deuter ACT Lite 40
  • Tips Berpakaian di Gunung : Layering System!

Categories

  • Bali & Nusa Tenggara
  • Beyond Indonesia
  • Camera Review
  • Culinary
  • Europe
  • Flight report
  • Foto Favorit
  • Giveaway
  • Guest Post
  • Hiking & Trekking
  • Hong Kong
  • Hotel & Resort
  • Indonesia
  • Japan
  • Jawa
  • Kalimantan
  • Malaysia
  • Maluku & Papua
  • Media Trip
  • Photo Tips
  • Photoessay
  • Review
  • Saudi Arabia
  • Singapore
  • South East Asia
  • South Korea
  • Sponsored (adv)
  • Sulawesi
  • Sumatera
  • Taiwan
  • Tearsheet
  • Thailand
  • Thought
  • Tips
  • Travel Story
  • Travel Tips
  • Travel Video
  • Workshop

Copyright © 2026 · Altitude Pro on Genesis Framework · WordPress · Log in

 

Loading Comments...