• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar

Wira Nurmansyah

Inspiring Indonesia to Travel the World

  • Home
  • About
  • Indonesia
  • World
  • Tips
  • Review
You are here: Home / Travel Story / Indonesia / Menyelamatkan Penyu Ujung Genteng

Aug 30 2011

Menyelamatkan Penyu Ujung Genteng

Deburan ombak samudera Hindia tidak henti menerjang karang, ikan-ikan kecil hilir mudik di celah-celah karang saling bercengkrama dibawah naungan langit nan biru. Ketika hari telah usai, semburat merah jingga menyapa saya dengan pesonanya.

Itulah sedikit gambaran Ujung genteng, pesisir selatan Sukabumi ini menyajikan panorama khas pantai selatan yang sangat menarik. Walaupun ombak pantai selatan relatif besar, tetapi sebagian besar sudah terpecah oleh karang yang berada agak jauh dari bibir pantai. Air laut yang tenang di tepian menjadikannya akuarium alami yang mempesona.

Ujung genteng masuk ke dalam wilayah kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Berjarak 220 km dari Jakarta, dengan jalan yang berkelok-kelok dan naik turun bukit, perjalanan terasa sangat melelahkan. Dibutuhkan kesabaran untuk mencapai pesisir selatan ini. Jangan heran jika perjalanan terasa sangat jauh, sebab Ujung genteng memang benar-benar berada di Ujung pulau sesuai namanya.

Menurut penduduk sekitar, nama ujung genteng berasal dari ujung gunting. Ya, jika kita melihat peta bagian selatan Jawa Barat, ada bentuk cekungan seperti gunting, disanalah letak ujung genteng.

Ombak yang sudah tertahan oleh karang membuat tepi pantai menjadi tenang. Kondisi ini memungkinkan kita untuk sekedar bermain air ataupun melihat biota laut yang terperangkap di celah-celah karang seperti bintang laut, siput, ikan kecil, udang, bahkan cacing laut.

Dari pantai ujung genteng, cobalah susuri pantai lebih ke utara. Setelah melewati perkampungan penduduk, anda akan menemukan pantai cibuaya, atau lebih dikenal dengan pantai akuarium. Disinilah kita bisa menikmati akuarium alami, bentukan celah karang menjadi rumah para biota laut kecil dapat kita lihat dengan jelas.

Bawa diri anda lebih ke barat laut, anda akan menemukan hamparan pasir putih yang sangat luas. Di pantai yang sangat bersih ini ombak sudah mencapai tepian laut, maka berhati-hatilah karena ombak cukup besar. Saya melihat banyak pemancing disini, entah bagaimana caranya memancing di tengah ombak seperti itu. Jika anda seorang yang hobi memancing, ikan-ikan berukuran besar di Ujung genteng tidak akan mengecewakan anda.

Pangumbahan terkenal dengan penangkaran penyu hijau. Kita bisa melihat penyu bertelur disini pada malam hari, ataupun melepaskan tukik (anak penyu) yang telah dianggap cukup umur untuk dilepaskan ke habitat aslinya, lautan lepas.

Telur-telur penyu yang sering diambil oleh manusia menjadikan hewan ini menjadi langka, ditambah lagi penyu  hanya mempunyai siklus bertelur 2-4 tahun sekali. Itulah alasan didirikannya tempat penangkaran penyu ini.

Yang unik dari penyu, jika ia telah besar dan akan bertelur, maka ia akan bertelur di tempat ia dilahirkan. Sebuah gambaran naluri yang cinta akan tanah airnya. Sungguh mempesona.

Sedikit lebih jauh dari Pangumbahan, saya menemukan tempat yang sangat bagus untuk melihat matahari terbenam. Pertemuan sungai Cipanarikan dan samudra Hindia membuat tempat ini menjadi sebuah telaga biru. Tiada hentinya saya mengambil gambar disini. Naiklah ke atas bukit untuk menikmati matahari terbenam, alam bawah sadar anda akan merasa bahwa alam Indonesia ini begitu indah.

Tidak hanya pantai akuarium dan pangumbahan, Ujung genteng masih menyimpan sejuta pesona. Jika anda gemar surfing, tantang diri anda untuk berselancar di pantai Ombak tujuh. Pantai ini terkenal dengan ombaknya yang besar dan bergulung-gulung.

Petualangan anda di ujung genteng tidak lengkap tanpa Curug Cikaso. Air terjun yang deras dengan bebatuan kuning diselengi lumut hijau serta air yang jernih tidak mungkin saya lupakan. Tempat ini wajib disinggahi jika anda berkunjung ke Ujung genteng.

Sore itu saya melihat pelepasan penyu-penyu kecil yang berlarian ke pantai, mencoba untuk bertahan hidup dari kerasnya alam ini. Memandang makhluk cantik tersebut, saya mengingatkan diri saya sendiri pada spirit pecinta alam : leave nothing but footsteps, take nothing but pictures, and kill nothing but time.

Ini catatan perjalanan saya di ujung genteng pada tahun 2010 dan 2011

Written by wira · Categorized: Indonesia, Jawa, Travel Story

Reader Interactions

Comments

  1. Travel To Asian says

    21 Apr ’12 at 22:21

    Artikel ttg Ujung Gentengnya Keren gan, ane Rubah ke Bhs Inggris trus Publish ke Web ane dengan Penulisnya Ente (Ama Blog Ente) bole ga gan?

    Reply
    • wira says

      22 Apr ’12 at 00:24

      silakan aja gan :)

      Reply

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')Cancel reply

Primary Sidebar

Follow Us

  • YouTube
  • Instagram
  • TikTok

Popular Post

  • 5 Kejanggalan dalam Pendakian Film 5cm
  • 15 Tips Fotografi Landscape
  • 5 Tips (lagi) untuk Fotografi Landscape!
  • Tips Berpakaian di Gunung : Layering System!
  • Review Backpack : Deuter ACT Lite 40

Categories

  • Bali & Nusa Tenggara
  • Beyond Indonesia
  • Camera Review
  • Culinary
  • Europe
  • Flight report
  • Foto Favorit
  • Giveaway
  • Guest Post
  • Hiking & Trekking
  • Hong Kong
  • Hotel & Resort
  • Indonesia
  • Japan
  • Jawa
  • Kalimantan
  • Malaysia
  • Maluku & Papua
  • Media Trip
  • Photo Tips
  • Photoessay
  • Review
  • Saudi Arabia
  • Singapore
  • South East Asia
  • South Korea
  • Sponsored (adv)
  • Sulawesi
  • Sumatera
  • Taiwan
  • Tearsheet
  • Thailand
  • Thought
  • Tips
  • Travel Story
  • Travel Tips
  • Travel Video
  • Workshop

Copyright © 2026 · Altitude Pro on Genesis Framework · WordPress · Log in

 

Loading Comments...