• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar

Wira Nurmansyah

Inspiring Indonesia to Travel the World

  • Home
  • About
  • Indonesia
  • World
  • Tips
  • Review
You are here: Home / Travel Story / Indonesia / The Violent Volcano

Mar 28 2013

The Violent Volcano

IMG_0644

CUACA subuh yang cerah tetiba berubah menjadi mencekam. Angin berhembus kencang. Ombak menghantam badan kapal dengan kerasnya. “BYARRRRRRRKKKKK,” hentakan ombak tak mampu dibendung kapal kayu kami dan seketika air masuk ke dalam kapal membasahi kami semua.

Perjalanan masih satu jam ke pulau anak krakatau, dan saya masih terombang-ambing di tengah selat sunda, sambil berdoa dan sesekali mengeluarkan isi perut yang masih kosong.

Idealnya, perjalanan dari pulau sebesi ke anak krakatau hanya sekitar dua jam. Namun kenyataan tidak akan pernah ada yang ideal, alam selalu punya kejutan menanti.

Saat sampai di bibir pantai pulau Krakatau, mentari nampak tak menunjukan batang hidungnya. Langit abu kehitaman menyambut kami yang agak kesulitan turun dari kapal karena ombak yang agak besar di tepian.

Namun, puncak anak krakatau yang berdiri angkuh di atas sana, mengingatkan saya bahwa gelombang tadi pagi tidak ada apa-apanya dibandingkan gelombang laut saat krakatau meletus 130 tahun silam.

***

Mendung yang menggelayut menemani saya menggapai anak krakatau. Treknya berpasir, namun jelas tidak sesulit mahameru.

Tidak akan sampai membuat kepala menyentuh dengkul. Saya bahkan agak berlari agar bisa mendapatkan foto yang bebas dari photobomb turis-turis narsis.

Saya tak sanggup membayangkan apa yang terjadi ketika Krakatau meletus. Kekuatan ledakannya 13.000 kali lebih hebat daripada Little Boy, bom yang melumpuhkan kota Hiroshima.

Saking kerasnya ledakan, orang-orang di Afrika, 4635 km dari selat sunda bahkan bisa mendengarnya. Gempa bumi terjadi menyebabkan gelombang laut menjadi 40 meter, bahkan di Hawaii pun terjadi Tsunami. Korban jiwa diperkirakan mencapai 36.000 jiwa.

Dunia mengalami kegelapan selama dua hari. Krakatau mengubah dunia menjadi selimut debu vulkanik.

Sungguh saya tak sanggup membayangkannya. Ini gunung paling kejam sepanjang sejarah manusia setelah Tambora.Letusan gunung tambora di Sumbawa memang lebih dahsyat daripada Krakatau.

Tambora membuat satu tahun menjadi gelap dan korban 92.000 jiwa. Ada lagi yang lebih dahsyat, gunung Toba di zaman purba. Yang jauh lebih dahsyat daripada tambora sekalipun. Namun terjadi jauh sebelum banyak terdapat manusia. (corrected by mas Fadli in comment)

Sungguh manusia seperti kita hanya bagai butiran debu, tak akan mampu melawan kehendak-Nya.

Saya bergerak hingga sampai ke punggungan terakhir sebelum puncak krakatau. Pendakian singkat ini hanya boleh sampai disini. Puncak dilarang keras untuk didaki.

Asap vulkanik yang terus keluar dari puncak krakatau pun membuat saya tidak ingin menginjakan kaki disana.

Pendakian singkat menuju anak krakatau
Pendakian singkat menuju anak krakatau

Krakatau sebetulnya adalah cagar alam, tidak boleh didatangi kecuali keperluan penelitian. Namun, dari pihak cagar alam membolehkan para turis untuk masuk, tetapi harus ditemani ranger setempat.

Para ranger ini sangat ketat dalam hal kelestarian cagar alam, ia tidak segan memarahi para pengunjung yang meninggalkan sampah.

Setelah puas berfoto dengan latar belakang anak krakatau, kami hopping island di sekitar kepulauan krakatau. Saya cukup terkejut karena terumbu karang disini cukup sehat.

Namun, dengan banyaknya turis yang datang akhir-akhir ini dan kelakuannya yang tidak bertanggung jawab, saya tak tahu bagaimana keadaan terumbu karang ini beberapa tahun mendatang.

“Tahun 2000 anak-anak IPB datang kemari menanam terumbu karang. Banyak warga yang mencemooh, kenapa tak menanam pohon pisang yang jelas-jelas tumbuh subur di Lampung selatan ini? Baru terasa sekarang ketika banyak wisatawan yang tertarik datang kemari,” kata salah satu awak kapal kami.

***

Berfoto dengan latar belakang gunung Rakata, bekas letusan krakatau yang paling besar. Tapi telah non-aktif.
Berfoto dengan latar belakang gunung Rakata, bekas letusan krakatau yang paling besar. Tapi telah non-aktif.

Menjelang sore, kami kembali ke penginapan Pulau sebesi. Ditemani matahari tenggelam dan air laut yang sudah mulai bersahabat. Di kejauhan terlihat anak krakatau yang terus tumbuh 20 kaki per tahunnya. Tidak tahu kapan ia akan meniru jejak ibunya.

Kita harus terus waspada.

***

Foto-foto underwater sekitar krakatau. Thanks buat agan Endang buat foto bawah lautnya.

DSCN1745

Clownfish and blue anemon
Clownfish and blue anemon

DSCN3203 DSCN3394

This is me free diving like a boss :D
This is me free diving like a boss :D
Kalau yang ini saya yang foto.
Kalau yang ini saya yang foto.
Just under the boat, lagoon cabe.
Just under the boat, lagoon cabe.

 

Written by wira · Categorized: Indonesia, Sumatera, Travel Story · Tagged: gunung, krakatau, lagoon cabe, lampung, pantai, sebesi

Reader Interactions

Comments

  1. Muhammad Fadli says

    28 Mar ’13 at 21:13

    Nice share bro, tapi mungkin ada yang perlu dikoreksi sedikit. Gunung yang meletus pada zaman purba adalah Toba. Tambora meletus tahun 1815, jadi masih di abad yang sama. Dampak global Tambora juga jauh lebih besar dari Krakatau mengingat datangnya “the year without a summer”, masa di mana debu vulkanik menutupi atmosfir bumi begitu lama sehingga banyak panen gagal di Eropa dan Amerika utara. Akibatnya bencana kelaparan mewabah. Korban dampak langsung letusan Tambora sekitar 92.000, itu belum termasuk yang meninggal karena kelaparan tadi yang diperkirakan mencapai seratus ribuan orang.

    Reply
    • wiranurmansyah says

      28 Mar ’13 at 21:20

      Ah, iya mas Fadli. Ternyata saya salah hehe. Terima kasih atas koreksinya :)

      Reply
  2. nyonyasepatu says

    28 Mar ’13 at 21:55

    Wiraaa, selalu suka tulisan n foto2 kamu. Ajarin motret dong hehe

    Reply
    • wira says

      29 Mar ’13 at 10:35

      boleh, mau minta diajarin motret apa? aku jagonya self-portrait :D

      Reply
  3. Echi says

    29 Mar ’13 at 05:02

    Saya tertarik utk kesana tapi membayangkan kejadian saat krakatau “muntah” buat saya bergidik ngeri. Posting ini jadi referensi buat saya kalau berkunjung kesana aman dg mengikuti semua peraturan yg ada.

    Reply
    • Nugrahanto Margo Raharjo says

      29 Mar ’13 at 08:14

      Ternyata underwaternya kayak gini toh, rugi ane g turun ke laut waktu itu,,,x_x

      Reply
      • wira says

        29 Mar ’13 at 10:34

        lah napa gak turun gan? kek kucing aja takut air #eh :lol:

        Reply
        • Nugrahanto Margo Raharjo says

          29 Mar ’13 at 20:29

          g nyewa perlengkapan waktu itu,,,,, x_x

          “kek kucing aja takut air” —-> :okay:

  4. omnduut says

    29 Mar ’13 at 18:16

    Nemoo… Nemoo… :)

    Reply
  5. kazwini13 says

    4 Apr ’13 at 07:07

    wow kerennya Krakatau, sempat hampir kesana saat anak krakataunya batuk-batuk dan gagal…
    semoga lain waktu berjodoh :”)

    Reply
  6. Ayu Welirang says

    4 Apr ’13 at 16:16

    Waaaahhh Krakatau! Padahal Mas Wira bisa tuh sekaligus ke Rajabasa. Waktu itu saya malah ke Rajabasa-nya, dari Darmaga Canti bisa juga ke Krakatau. eh, tapi di foto ini Krakataunya lagi cerah yaaah. Waktu saya mau ke sana malah lagi mendung. Mungkin memang belum waktunya. hehehehe. Ditunggu catatan selanjutnya, Mas. Salam. :)

    Reply
    • wira says

      4 Apr ’13 at 20:04

      ehehe iya ya next time deh. Thanks udah mampir mba ayu :D

      Reply
  7. babang_arya says

    21 May ’13 at 12:50

    Tapi sang Dewa sedang mabvk ketika itu…

    Reply
  8. http://swiderski780.blog.com says

    19 Apr ’14 at 10:51

    Aftter compiling a liset of prospective SEO
    companies, the website owner should reswearch each SEO firm, and not just looking att their fees.
    In this Internet world, seo is more important too get tthe better ranking of your website.

    Often, success will hinge on the insight, knowledge, and skill
    of a reliable Florida SEO company.

    Reply

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')Cancel reply

Primary Sidebar

Follow Us

  • YouTube
  • Instagram
  • TikTok

Popular Post

  • 5 Kejanggalan dalam Pendakian Film 5cm
  • 5 Tips (lagi) untuk Fotografi Landscape!
  • Baru Pertama Kali ke Luar Negeri? Ini 5 Tips Jenius Agar Traveling kamu Aman dan Nyaman!
  • Selain Boba, Inilah 5 Hal yang Bisa Kamu Nikmati di Taiwan!
  • Review Backpack : Deuter ACT Lite 40

Categories

  • Bali & Nusa Tenggara
  • Beyond Indonesia
  • Camera Review
  • Culinary
  • Europe
  • Flight report
  • Foto Favorit
  • Giveaway
  • Guest Post
  • Hiking & Trekking
  • Hong Kong
  • Hotel & Resort
  • Indonesia
  • Japan
  • Jawa
  • Kalimantan
  • Malaysia
  • Maluku & Papua
  • Media Trip
  • Photo Tips
  • Photoessay
  • Review
  • Saudi Arabia
  • Singapore
  • South East Asia
  • South Korea
  • Sponsored (adv)
  • Sulawesi
  • Sumatera
  • Taiwan
  • Tearsheet
  • Thailand
  • Thought
  • Tips
  • Travel Story
  • Travel Tips
  • Travel Video
  • Workshop

Copyright © 2026 · Altitude Pro on Genesis Framework · WordPress · Log in

 

Loading Comments...