• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar

Wira Nurmansyah

Inspiring Indonesia to Travel the World

  • Home
  • About
  • Indonesia
  • World
  • Tips
  • Review
You are here: Home / Travel Story / Indonesia / Bali & Nusa Tenggara / Komodo Sailing Trip Story : Gili Laba & Pink Beach

Jul 24 2012

Komodo Sailing Trip Story : Gili Laba & Pink Beach

“Kok ada sih yang tega mengotori tempat-tempat indah itu?”

ANGIN berhembus kencang, malam itu sungguh mencekam, perairan sumbawa didera gelombang yang cukup tinggi. Kapal yang berguncang hebat membuat saya tidak bisa terlelap. Terlihat kapten Sanusi masih serius mengemudikan kapal. Ekspresinya terlihat agak serius.

“Tenang saja mas, gelombang seperti ini mah masih kecil,” kata mas Agus, crew kapal yang lainnya.

“Kalo mau tahu kondisi laut, lihat saja ekspresi wajah kapten, sekarang ini dia masih santai,” katanya sambil tertawa. Dibilang begitu, saya cuma tersenyum meringis. Saya berdoa, lalu mencoba kembali tidur. Karena kelelahan akhirnya saya terlelap juga.

“Welcome to Flores!” kata saya sok tahu kepada Alexander, turis asal Rusia yang mukanya mirip Mr.Bean pada saat pagi menjelang.

“Hoooo? Floleees? Yaa yaaaa?” kata Alexander dengan cadel serta ekspresi muka bahagia. Bapak dari kota Moskow ini memang lebih banyak diam karena tidak terlalu lancar berbahasa inggris. Tapi saya lucu saja kalo melihat dia bicara haha.

Laut sudah tenang kembali. Kapal terhenti di pinggir sebuah pulau kecil. Kami dikelilingi beberapa pulau besar. Tetapi, semua pulau bertekstur sama. Bukit gersang berwarna kekuningan yang ditumbuhi semak-semak jarang adalah pemandangan yang biasa disini. Tetapi tetap saja luar biasa bagi saya, this is not something what you see everyday. 

Nusa tenggara memang mempunyai salah satu landscape terkeren di Indonesia. Sesekali terlihat kapal phinisi besar melintas, membuat saya iri hehe.

Pemandangan saat mendaki bukit Gili Laba

Gili laba namanya. Gili yang berarti pulau kecil, seperti gili trawangan atau gili air. Pulau yang saya deskripsikan sebagai jurrasic-scape. Namun, di pantai yang airnya sebening kristal, terdapat banyak sekali sampah plastik. Padahal, pulau ini tidak berpenghuni.

“Sampah ini dari kapal ferry mas, mereka sering membuang sampah ke Laut, dan karena arusnya memang kearah sini, sampahnya jadi berakhir disini,” jelas mas Agus.

Sesaat impian saya tentang tempat tinggal para dinosaurus menjadi buyar karena sampah-sampah ini. Sedih rasanya, sampah disini menunjukan bangsa ini belum bisa mengendalikan dirinya sendiri. Saya jadi ingat sampah-sampah yang saya lihat di Gunung Rinjani, Gede dan tempat lainnya. Kok ada sih yang tega mengotori tempat-tempat indah itu?

Kemudian istri Mike, turis dari Australia yang saya lupa namanya berkata dengan kesal (in bahasa Indonesia aja yah), “Waktu itu gue lihat sendiri, ada kapal ngosongin tempat sampah, langsung dibuang aja ke Laut. They don’t give a shit apa yang mereka lakuin. Padahal kan, mereka hidup dari Laut. Kalo lautnya tercemar, dan turis males dateng kesini, yang rugi siapa coba? Indonesia harus banyak belajar!”

Saya menelan ludah. Walaupun saya selalu berusaha membuang sampah pada tempatnya. Tetapi sekarang, saya yang hanya warga Indonesia disini, seakan mewakili orang-orang yang istri Mike lihat membuang sampah. Dan tidak hanya saat ini saja saya mendengar perkataan seperti itu dari turis asing.

Moral cerita yang didapat adalah, marilah kita sama-sama berusaha disiplin untuk kebersihan. Mulai dari kita sendiri, keluarga kita, dan lama kelamaan akan menular ke seluruh bangsa. Bukankah kebersihan sebagian dari iman, hei, orang beragama?

Kembali ke Gili Laba, saya mencoba naik ke atas bukit untuk melihat pulau komodo dari atas. Saya tidak mau kalah dengan teman-teman bule saya. Langsung saya menyalip mereka supaya datang pertama. Hah! Kalian boleh menang di Rinjani, but here i will get on top first, hahaha!

Dari puncak Gili laba, pulau di seberang adalah pulau Komodo

Subhanallah. Pemandangan dari atas bukit gili laba ini sungguh, sungguh sangat  membuat saya merinding. Bukit-bukit eksotis di pulau komodo terlihat sangat jelas, birunya laut dan jejak terumbu karang di lautan dangkal terlihat sangat jelas.

Beruntung, saya memang jadi yang pertama dari atas sehingga bisa memotret pemandangan dengan ‘bersih’. Tidak lama disusul Lars, teman saya dari Belanda sambil terengah-engah.

“Before everyone get here, please take photo of me, okay?” kata saya kepada Lars. Ia mengangguk, masih sambil terengah. Tak lama kemudian, semua orang sudah berada di puncak. Kami berfoto bersama. “Are you in? You’ve got no choice, we’re family now,” kata   Marteen saat mengajak kami berfoto bersama. Sesi foto yang sangat lama karena semua orang ingin kameranya terdapat foto bersama.

My travel mates in the 4 days sailing trip to komodo

Hari makin panas. Saya memakai sunblock, malah diledek oleh si Marteen, “You already got brown skin, why use a sunblock?”

“Getting brown and getting burned is a different thing, man!” sungut saya. Ya, waktu di Rinjani tahun lalu, saya benar-benar ‘terbakar’ matahari. Kulit di hidung saya benar-benar menghitam, kemudian seperti terluka karena jatuh, mengelupas. Saya tidak mau seperti itu lagi, intensitas matahari di tanah Nusa tenggara memang mendukung untuk membuat gosong.

Gili Laba, setelah ramai.

Pink beach

Dua jam berlalu setelah gili laba, kami sampai ke pantai merah. Atau lebih populer dengan nama pink beach. Kapal tidak boleh menurunkan jangkar karena ini sudah dalam area taman nasional komodo, sehingga tidak akan merusak karang-karang indah dibawah sana.

Perjalanan menuju pink beach

Braakkkk! tiba-tiba ada kapal yang menabrak kapal kami. Sepertinya mereka kehilangan kendali saat akan mengikat kapalnya di kapal kami. Kapten keluar dengan marah. Kemudian ia berteriak dengan bahasa yang saya tidak pahami. Ia nampak marah karena bagian belakang dapur kapal sedikit retak. Beberapa lama kemudian ia tenang kembali, mungkin sudah dibayar ganti ruginya haha.

Kapal parkir saling mengikat, tidak boleh ada jangkar yang turun untuk mencegah kerusakan terumbu karang.

Superb. Alam bawah laut pink beach sangat indah. Menurut saya lebih bagus disini daripada pulau Satonda. Pasir pantainya benar-benar merah sodara-sodaraaa! Saya langsung pasang snorkel dan nyebur.

Pink beach, anyone? :D

Aaron mengaku melihat ikan baracuda disini. Semua orang yang saya tanyai juga mengaku sangat puas snorkeling di pantai pink ini. Saya melihat terumbu karang yang sangat indah, berwarna warni. Ah, saya sulit mendeskripsikannya. Lain kali saya akan membeli sebuah kamera underwater untuk mengabadikan itu semua.

Sekembalinya di kapal, saya dikagetkan oleh istri dari Alexander, turis Rusia, yang membawa sebuah terumbu karang! Sepertinya ia mengambil di pulau Satonda. Sayapun marah, menjelaskan kepada dia bahwa itu adalah perbuatan yang tidak dibolehkan. Tetapi, percuma, ia tidak mengerti bahasa Inggris. Kemudian ia membuang terumbu karang itu kembali ke laut. Saya kesal sekali melihatnya.

Pink beach yang ‘bening’. Dibawah air itu adalah ‘another beauty world’

Buat yang snorkeling atau diving, tolong jangan ambil apapun disana, ya? Walaupun saya bukan pecinta alam, saya selalu ingat akan prinsip mereka. Take nothing but picture, Kill nothing but time, and leave nothing but footstep.

Kapal kembali melanjutkan perjalan ke tujuan utama. Pulau komodo!

**

Kisah berikutnya part #3 : Bertemu si Komo!

Kisah sebelumnya part #1 : Awal perjalanan, Pulau moyo, dan Pulau Satonda

Written by wira · Categorized: Bali & Nusa Tenggara, Indonesia, Travel Story · Tagged: djarum, gili laba, komodo, sailing, satonda

Reader Interactions

Comments

  1. Niken Andriani says

    26 Jul ’12 at 12:40

    mana kaka cerita berikutnya….

    Reply
    • wiranurmansyah says

      26 Jul ’12 at 12:47

      itu kaka liat link cerita berikutnya dibawah post. Ini kalo males scroll keatas :D http://www.wiranurmansyah.com/meet-komodo

      Reply
  2. Shella Hudaya says

    27 Aug ’12 at 19:19

    Astajim, keren banget !!! :D Pengen langsung ganti outfit…PLUNG! Nice pic, nice story… :)

    Reply
    • wiranurmansyah says

      28 Aug ’12 at 11:34

      hehehe awas itu masih di kasur belum di laut. Makasih udah mampir :)

      Reply
  3. Meylisa Queen says

    6 Sep ’12 at 20:53

    amazing !

    Reply
  4. Timothy says

    4 Oct ’12 at 14:56

    Itu ke Gili Laba pake sekoci putih 3 itu yak? Hehe …

    Trus ga meluncur ke pantai pink nya? (atau jgn2 diceritain di part berikutnya? haha).

    Reply
    • wira says

      4 Oct ’12 at 17:38

      nggak mas, kapalnya merapat sebentar terus kita lompat haha. :D

      Reply
  5. whysooserious says

    21 Mar ’13 at 19:45

    baguuuuusss sekaliiii… pengen berkunjung ke gili laba, terpana oleh keindahannya, tapi sayang waktunya memungkinkan :)

    Reply
  6. Lily says

    20 Nov ’13 at 09:18

    Kereeeeeenn….!! pasti mahal :(

    Reply
    • wira says

      21 Nov ’13 at 17:07

      gratisan kok! :D

      Reply
  7. aditya says

    26 May ’14 at 23:03

    Permisi mau numpang nanya, ikut tour apa ya mas itu saya minat banget untuk traveling kaya giniii mas

    Reply
  8. Erwin says

    16 Aug ’14 at 10:50

    Beberapa tahun yang lalu saya bersama teman saya sailing dari lombok ke komodo…. Demi Allah sang maha pencipta dan maha indah gili laba sangat indah sampai sampai saya merasa seperti ada di surga .
    Yah Flores adalah salah satu surga di dunia .
    Aku mau nanti bulan madu ke sana lg. Amin….subhanallah

    Reply
  9. cunay says

    19 Mar ’15 at 10:03

    aaah pengen. kemarin waktu ke sana, pas lagi gunung meletus, udah di kapal tapi ga boleh turun ke gili laba sm pink beach :(

    Reply
  10. Pesona Komodo Tours says

    14 Jul ’15 at 06:58

    Bagi kami yang lahir besar di pedalaman pulau Flores, terus terang pemandangan seperti di gugusan pulau Taman Nasional Komodo merupakan hal yang biasa saja. Tapi itu dulu ketika masih kecil. Ketika beranjak dewasa dan merantau serta merasakan jenuhnya hidup di kota besar lalu pulang berlibur ke kampung, barulah muncul perasaan lain yaitu “kagum dan syukur sambil memuji kebesaranNya.” Barulah muncul kesadaran betapa alam pulau Flores dan sekitarnya menyimpan keindahan yang luar biasa yang harus kita share-kan kepada dunia. Kesadaran ini semakin bertambah besar ketika semakin banyak wisatawan berdatangan untuk menikmatinya. Banyak operator wisata yang bisa Anda mintai kerjasamanya untuk mengatur perjalanan wisata Anda agar lebih mudah ketika berkunjung ke obyek-obyek menari di Taman Nasional Komodo dan di pulau Flores. Satu diantaranya yang sangat diandalkan adalah Pesona Komodo Tours. Paket-paketnya sangat kompetitif. Klik saja http://www.wisatakekomodo.com. Selamat datang!!!

    Reply

Trackbacks

  1. Komodo Sailing Trip Story #1 | Wira Nurmansyah says:
    24 Jul ’12 at 08:21

    […] Komodo sailing trip story #2 : Gili laba & Pink Beach […]

    Reply
  2. Komodo Sailing Trip Story #3 : Bertemu dengan si Komo | Wira Nurmansyah says:
    26 Jul ’12 at 12:01

    […] Post navigation ← Previous […]

    Reply
  3. Sedikit Cerita dari Flores | Wira Nurmansyah says:
    7 Aug ’12 at 11:49

    […] Komodo Sailing Trip Story #2 : Gili Laba & Pink Beach […]

    Reply
  4. 15 Foto Favorit Saya Tahun 2012! | Wira Nurmansyah says:
    17 Dec ’12 at 19:01

    […] Bukit-bukit di Flores ini gersang tapi emang kece banget. Nggak bosen dilihatnya. […]

    Reply
  5. Akhirnya ke Kepulauan Seribu | wira nurmansyah says:
    30 Jul ’13 at 12:15

    […] Sebetulnya saya tidak begitu tertarik dengan wilayah kepulauan seribu. Agak takut kecewa juga karena standar saya terhadap ‘bawah laut’ sudah terpatri saat pertama kali menyelam di salah satu pulau di Flores. […]

    Reply

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')Cancel reply

Primary Sidebar

Follow Us

  • YouTube
  • Instagram
  • TikTok

Popular Post

  • 5 Kejanggalan dalam Pendakian Film 5cm
  • 5 Tips (lagi) untuk Fotografi Landscape!
  • Review Backpack : Deuter ACT Lite 40
  • Tips Berpakaian di Gunung : Layering System!
  • Fujifilm X-T100 Review : Mirrorless Seri X-T Termurah!

Categories

  • Bali & Nusa Tenggara
  • Beyond Indonesia
  • Camera Review
  • Culinary
  • Europe
  • Flight report
  • Foto Favorit
  • Giveaway
  • Guest Post
  • Hiking & Trekking
  • Hong Kong
  • Hotel & Resort
  • Indonesia
  • Japan
  • Jawa
  • Kalimantan
  • Malaysia
  • Maluku & Papua
  • Media Trip
  • Photo Tips
  • Photoessay
  • Review
  • Saudi Arabia
  • Singapore
  • South East Asia
  • South Korea
  • Sponsored (adv)
  • Sulawesi
  • Sumatera
  • Taiwan
  • Tearsheet
  • Thailand
  • Thought
  • Tips
  • Travel Story
  • Travel Tips
  • Travel Video
  • Workshop

Copyright © 2026 · Altitude Pro on Genesis Framework · WordPress · Log in

 

Loading Comments...