Sebetulnya saya tak terlalu ingin memasukan Paris ke dalam perjalanan saya ke Eropa. Namun karena ini kali pertama saya kesini, saya ingin melihat sendiri bagaimana kota yang disebut-sebut city of love ini menjadi dianggap overrated di kalangan para travelers.

Dari Praha, lagi-lagi saya menggunakan bis menuju paris. It’s a long 12 hours journey. Namun karena ini bis malam dan lumayan nyaman, jadinya tak begitu masalah.

Sesampainya di Paris, tepatnya di terminal bis Porte Maillot, saya langsung mencari transportasi ke tengah kota. Beruntung stasiun kereta bawah tanah tak terlalu jauh dari terminal.

Namun baru saja masuk stasiun, saya sudah hampir tertipu oleh calo tiket. Calo plus penipu pula.

Ia memakai ID card palsu dan mengaku sebagai petugas informasi. Saya sudah curiga karena ia tidak memakai seragam dan setelah menunjukan ID card, dia langsung memasukannya kembali ke kantong jaket.

Si calo menawarkan bantuan untuk membelikan travel pass untuk transportasi di Paris dengan harga hampir dua kali lipat. Beruntung saya sempat googling (untungnya saya punya modem portable yang saya sewa dari Jakarta) dan memastikannya kembali ke petugas yang ada di dalam loket.

Kondisi stasiun yang sangat penuh membuat ia mudah beraksi. Gagal mengakali saya, ia langsung menuju target berikutnya. Saya pun hanya membeli single ticket di loket langsung karena hanya satu malam saja disini.

Eifell and Seine River

Saya sampai di Paris masih sekitar jam 8 pagi. Jalanan sangat sepi, tak ada aktivitas yang berarti. Paris pagi itu diguyur hujan. Dari stasiun kereta Montparnasse, saya harus berjalan sekitar satu kilometer.

Setelah menitipkan koper ke hostel, saya bergegas ke tujuan utama saya : Menara Eiffel!

Metro (kereta bawah tanah) di Paris untuk single tiket adalah 1.9 Euro. Jauh dekat. Cukup mahal kalau kita hanya ingin jalan hanya 2-3 stasiun. Jadi saya memutuskan untuk berjalan kaki sambil mencari sarapan.

Yang saya suka dari eropa adalah walaupun tak banyak penjual street food, banyak kafe-kafe yang punya tempat duduk outdoor di pinggir jalan. Terlihat enak sih, tapi kalau lagi dingin, seperti saya yang saat sedang peralihan musim dingin ke musim semi pasti tak tahan lama-lama di luar.

Sarapan pagi itu

Hujan pun turun. Beruntung saya sudah berada di dalam kafe sambil menikmati croissant dan cappucino hangat seharga 5 euro. Cukup lama hujan turun. Beberapa orang sudah sibuk membaca buku dan menulis dengan buku catatan. Cuma saya yang rempong main handphone yang dicolok ke powerbank.

Salah satu hal yang saya suka dari Paris adalah, pastry-nya enak-enak! Pilih saja toko random di jalan, most of them will taste great imho!

Yummy bread

Setelah bersantai cukup lama di kafe, gerimis masih mengguyur. Namun saya melanjutkan perjalanan ke Eiffel. Saya juga tak sengaja melewati Flame of Liberty, yang tak sengaja menjadi memorial Lady Diana, puteri Inggris yang meninggal pada kecelakaan mobil tahun 1997 di terowongan persis di bawah monumen ini.

Dari sini, Eiffel sudah semakin jelas ada di seberang Sungai Seine. Sayangnya, gerimis masih saja mengguyur dan langit masih tertutup awan abu-abu.

Gloomy eiffel

Makin mendekat ke Eiffel, orang menjadi semakin ramai. Setelah sampai di depan eiffel, lebih mirip seperti pasar dibawah tower sutet.

Banyak pedagang asongan yang menawarkan merchandise khas eifffel seperti gantungan kunci dan miniatur. Pedagangnya ini setiap melihat kami pasti berteriak, “Murah, murah, murah, ayo, murah, murah….!”

Bahkan, saya lebih sering mendengar kata “Ni hao Ni hao…”, keluar dari mulut para penjual dibandingkan dengan “Bonjour…”. Saking banyaknya turis dari berbagai belahan dunia disini sih ya. Hati-hati dengan penjual disini. Kalau kamu memang tidak mau membeli, jangan sekali-kali mencoba. Gelang, misalnya. Mereka akan memaksa kamu untuk membayarnya

Buat saya, tak ada yang begitu spesial di Menara Eiffel. Siang hari ia nampak seperti besi tua raksasa saja. Kalau malam hari dan dilihat dari agak jauh saya akui memang menawan.

Di sini kamu harus berhati-hati. Banyak sekali penipuan dan copet. Pastikan barang-barang aman di dalam tas, apalagi barang penting seperti paspor. Di sekitar Eiffel juga banyak orang bermain untuk menebak posisi bola yang diacak di dalam beberapa gelas. Tentu saja berupa taruhan yang sudah pasti kamu akan kalah karena dia bakal bermain curang!

Sore harinya saya berkunjung ke ikon Paris lainnya yang terkenal yaitu Museum Louvre yang jadi banyak tempat syuting film-film terkenal itu.

Well anyway, mungkin karena sudah lebih dari dua minggu berjalan di Eropa saya jadi cukup lelah dan tak banyak melakukan apa-apa di Paris. Walaupun beberapa tulisan di atas saya agak bernada miring tentang Paris, kota ini tetap menyenangkan kok. Tergantung dari sudut mana kamu melihatnya. Tapi tidak ada salahnya kan berhati-hati. Apalagi di negara orang.

Dari Paris saya bertolak ke Amsterdam untuk kembali ke Jakarta. Sampai jumpa lagi Eropa!

Gloomy
Tipikal waiter di Paris
Tiati nek..
Wait…what?
Louvre
Good evening from Louvre
Love the ambience

7 COMMENTS

  1. Saya belum pernah ke paris, tapi kalau lihat eiffel memang kayak sutet, jadi gak tertarik, ditambah banyak copet, dan kelihatannya eropa nggak sebersih bayangan saya..

    • Iya gak semua negara eropa bersih seperti singapura atau jepang kok. Sutet kalau siang memang terasa sekali, untung gak ada kabel di sekitar eifell. Tapi kalau malam lumayan cantik.

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')